Sabtu, 17 Maret 2018

๐Ÿ“ *Upah dari Bekam*

Assalamualaikum ustadz, sekarang sdng  ramai mengenai ceramah / fatwa mengenai upah bekam, apalagi ust erwandi tarmidzi memfatwakan khabits (jelek), sedangkan saya jg sbg al hajim, mohon penjelasannya ustadz

๐Ÿ’ Jawaban ๐Ÿ€

Wa'alaykumussalam wa rahmatullah wa barakatuh ..

Memang, terdapat beberapa hadits yang mengharamkan dan  mencela perbuatan mengambil upah atas bekam. Dikatakan bahwa upah bekam merupakan sesuatu yang jelek(khabits), sehingga sebagian ulama mengharamkannya.

Namun, ada pula hadits hadits lain yang menunjukkan kebolehan meraih upah atas bekam. Kesimpulan para Ulama, upah atas bekam adalah makruh tanzih (sebatas tidak disukai).

Hadits-hadits yang mengharamkan dan mencela upah atas bekam itu diantaranya :

๐Ÿ”นDari Uqbah Ibn ‘Amr ia berkata :

ู†ู‡ู‰ ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ุนู† ูƒุณุจ ุงู„ุญุฌุงู…

_“Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wasallam melarang mencari rizki (penghasilan) melalui profesi tukang bekam”._ *(HR. Ibnu Majah No. 2165)*

๐Ÿ”นDari Raafi' bin Khadij radhiyallahu 'anhu, bahwa Nabi shallallaahu 'alayhi wasallam bersabda,

 ุดَุฑُّ ุงู„ْูƒَุณْุจِ ู…َู‡ْุฑُ ุงู„ْุจَุบِูŠِّ ูˆَุซَู…َู†ُ ุงู„ْูƒَู„ْุจِ ูˆَูƒَุณْุจُ ุงู„ْุญَุฌَّุงู…ِ

_"Sejelek-jelek usaha adalah usaha pelacuran, jaul beli anjing dan usaha tukang bekam."_ *(HR. Muslim No. 2931)*

๐Ÿ”นDiriwayat yang lain, juga dari Raafi' bin Khadij radhiyallaahu anhu bahwasanya Nabi shallallaahu 'alayhi wasallam bersabda :

 ุซَู…َู†ُ ุงู„ْูƒَู„ْุจِ ุฎَุจِูŠุซٌ ูˆَู…َู‡ْุฑُ ุงู„ْุจَุบِูŠِّ ุฎَุจِูŠุซٌ ูˆَูƒَุณْุจُ ุงู„ْุญَุฌَّุงู…ِ ุฎَุจِูŠุซٌ

_Hasil penjualan anjing itu khabits (buruk/kotor), upah pelacur itu khabits, dan upah tukang bekam itu khabits._ *(HR. Muslim no. 2932)*

_Khabits_ berarti jelek, buruk. Lafadz ini menunjukkan celaan yang tegas atas apa yang disifati oleh lafadz ini.

Akan tetapi, lafadz khabits tidak selalu menunjukkan kepada makna haram.

Syaikh Abdullah Al Bassam mengatakan :

 ุฅู† ู„ูุธ " ุงู„ุฎุจูŠุซ " ูƒู…ุง ูŠุทู„ู‚ ุนู„ู‰ ุงู„ู…ุญุฑู…، ูŠุทู„ู‚ ุฃูŠุถุง ุนู„ู‰ ุงู„ุดูŠุก ุงู„ุฑุฏูŠุก ูˆุงู„ูƒุณุจ ุงู„ุฏู†ูŠุก، ูƒู‚ูˆู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰: {ูˆู„ุง ุชَูŠَู…ّู…ูˆุง ุงู„ุฎَุจِูŠุซَ ู…ِู†ْู‡ُ ุชُู†ْูِู‚ูˆู†} ูˆุณู…ู‰ ุงู„ุดุงุฑุน ุงู„ุซูˆู… ูˆุงู„ุจุตู„ ุฎุจูŠุซูŠู†. ูุชุณู…ูŠุฉ ูƒุณุจ ุงู„ุญุฌุงู… ุฎุจูŠุซุง ู…ู† ู‡ุฐุง ุงู„ุจุงุจ، ู„ุฃู†ู‡ ู…ูƒุณุจ ุฏู†ูŠุก، ู…ู† ู…ู‡ู†ุฉ ุฒุฑูŠุฉ.
ูˆุงู„ุดุงุฑุน ูŠุฑุบุจ ููŠ ู…ุนุงู„ูŠ ุงู„ุฃู…ูˆุฑ، ูˆุงู„ู…ูƒุงุณุจ ุงู„ุทูŠุจุฉ ุงู„ุดุฑูŠูุฉ. ููŠูƒูˆู† ูƒุณุจ ุงู„ุญุฌุงู… ุฎุจูŠุซุง ู…ู† ุฌุงู†ุจ ุงู„ุขุฎุฐ، ู…ุน ุฃู†ู‡ ุญู„ุงู„ ู„ู‡

"Sesungguhnya istilah ‘khabits’ terkadang digunakan untuk pengertian haram, serta terkadang digunakan untuk pengertian sesuatu yang hina dan pendapatan yang jelek pada pandangan sisi mata manusia, sebagaimana firman Allaah (dalam surah al-Baqarah: 267):

_padahal kamu sendiri tidak mau mengambil khabits(yang jelek) darinya apa yang kamu belanjakan_

 Juga sebagaimana Syara'  menyebut bawang merah dan bawang putih sebagai "khabitsain"(dua perkara yang jelek).

Jadi, upah yang didapat oleh tukang bekam adalah khabits dengan pengertian yang kedua, karena bekam adalah pekerjaan yang hina dina. Padahal, Allaah Taala memberikan motivasi kepada manusia untuk melakukan hal-hal yang baik, termasuk juga mencari pekerjaan yang baik dan mulia. Karena itu, upah bekam ini khabits (jelek) dilihat dari sudut pandang ini, meski upah itu tetap halal bagi tukang bekam tersebut.” *(Taisirul ‘Allam, 1/470. Maktabah As-Shahabah).*

Dan beberapa hadits yang menunjukkan bahwasanya upah bagi tukang bekam adalah halal/boleh.

๐Ÿ”น Dari Ibn 'Abbas radhiyallahu 'anhuma, ia berkata :

ุงุญْุชَุฌَู…َ ุงู„ู†َّุจِูŠُّ ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„َّู‡ُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ ูˆَุฃَุนْุทَู‰ ุงู„َّุฐِูŠ ุญَุฌَู…َู‡ُ ูˆَู„َูˆْ ูƒَุงู†َ ุญَุฑَุงู…ًุง ู„َู…ْ ูŠُุนْุทِู‡ِ

_Nabi shallallaahu 'alayhi wasallam berbekam dan dia memberikan upah kepada yang membekamnya, seandainya itu haram tentu tidak akan dia memberikan upahnya"._*(HR. Al Bukhari No. 2103)*

Dalam lafaz yang lain:

ุงุญْุชَุฌَู…َ ุงู„ู†َّุจِูŠُّ ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„َّู‡ُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ ูˆَุฃَุนْุทَู‰ ุงู„ْุญَุฌَّุงู…َ ุฃَุฌْุฑَู‡ُ

_Nabi shallallaahu 'alayhi wasallam berbekam dan memberikan upah kepada tukang bekamnya.."_*(HR. Al Bukhari No. 2278)*

๐Ÿ”นAnas Ibn Malik radhiyallahu 'anhu ditanya tentang upah dari berbekam, beliau menjawab:

 ุงุญْุชَุฌَู…َ ุฑَุณُูˆู„ُ ุงู„ู„َّู‡ِ ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„َّู‡ُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ ุญَุฌَู…َู‡ُ ุฃَุจُูˆ ุทَูŠْุจَุฉَ ูَุฃَู…َุฑَ ู„َู‡ُ ุจِุตَุงุนَูŠْู†ِ ู…ِู†ْ ุทَุนَุงู…ٍ ูˆَูƒَู„َّู…َ ุฃَู‡ْู„َู‡ُ ูَูˆَุถَุนُูˆุง ุนَู†ْู‡ُ ู…ِู†ْ ุฎَุฑَุงุฌِู‡ِ


_"Rasulullah shallallaahu 'alayhi wasallam pernah berbekam dan yang membekam beliau adalah Abu Thaibah, lantas beliau memerintahkan (keluarganya) supaya memberikan kepada Abu Thaibah dua sha' makanan, dan beliau menganjurkan kepada tuannya supaya dia (tuannya) meringankan tugas yang dibebankan kepada Abu Thaibah."_*(HR. Muslim No. 1577, At Tirmidzi No. 1278)*

Imam Bukhari dalam Shahih-nya, memasukkan hadits tentang bekam di atas dalam 'Kitab Al Ijaarah (Sewa Jasa), Bab Kharaj Al Hajjaam' (Pendapatan Tukang Bekam). Sedangkan Imam Muslim memuatnya dalam judul 'Bab Hilli Ujratil Hijaamah' (Bab Bolehnya Mengambil Upah dalam Hijamah).

Imam At-Tirmidzi rahimahullah memberikan komentar atas hadits di atas :

ูˆَู‚َุฏْ ุฑَุฎَّุตَ ุจَุนْุถُ ุฃَู‡ْู„ِ ุงู„ْุนِู„ْู…ِ ู…ِู†ْ ุฃَุตْุญَุงุจِ ุงู„ู†َّุจِูŠِّ ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„َّู‡ُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ ูˆَุบَูŠْุฑِู‡ِู…ْ ูِูŠ ูƒَุณْุจِ ุงู„ْุญَุฌَّุงู…ِ ูˆَู‡ُูˆَ ู‚َูˆْู„ُ ุงู„ุดَّุงูِุนِูŠِّ

"Sebagian ulama dari kalangan sahabat Nabi shallallaahu 'alayhi wasallam dan selain mereka, memberikan keringanan terhadap pencaharian dari berbekam dan ini pendapat Imam Asy Syafi'I." *(Sunan At Tirmidzi, hal. 304)*

Dan fatwa Imam Malik rahimahullah tentang upah bekam :

ูˆู„ุง ุฃุฑู‰ ุจู‡ ุจุฃุณุง

"Aku berpendapat tidak apa-apa". *(Al Muntaqa Syarh Al Muwaththa', 7/299)*

Sedang pendapat Imam Ahmad Ibn Hanbal :

ูˆู„ูŠุณ ุนู† ุฃุญู…ุฏ ู†ุต ููŠ ุชุญุฑูŠู… ‏ูƒุณุจ ุงู„ุญุฌุงู… ูˆู„ุง ุงู„ุงุณุชุฆุฌุงุฑ ุนู„ูŠู‡ุง ูˆุฅู†ู…ุง ู‚ุงู„: ู†ุญู† ู†ุนุทูŠู‡ ูƒู…ุง ุฃุนุทู‰ ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ‏ูˆุณู„ู… ูˆู†ู‚ูˆู„ ู„ู‡ ูƒู…ุง ู‚ุงู„ ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ู„ู…ุง ุณุฆู„ ุนู† ุฃูƒู„ู‡ ู†ู‡ุงู‡ ูˆู‚ุงู„ ุงุนู„ูู‡ ‏ุงู„ู†ุงุถุญ ูˆุงู„ุฑู‚ูŠู‚"

"Tidak ada perkataan haram dari Imam Ahmad tentang penghasilan berbekam, dan tidak pula bayar jasa untuknya. Yang dia katakan adalah kami memberikan sebagaimana Nabi shallallaahu 'alayhi wasallam juga memberikan, dan kami berkata kepada tukang bekam sebagaimana perkataan Nabi shallallaahu 'alayhi wasallam ketika ditanya memakan hasilnya, Nabi shallallaahu 'alayhi wasallam melarangnya dan bersabda : Berikan kepada tukang siram dan budak. *(Imam Ibn Qudamah, Al Mughni, 5/399)*

Kesimpulannya, para Ulama Hadits serta para Imam fiqh condong pada pendapat bahwa upah bekam merupakan upah yang *halal*. Meski akhirnya, mayoritas ulama berkesimpulan bahwa mengambil upah hasil bekam adalah perbuatan yang dibenci(makruh). *(lmam Shiddiq Hasan Khan, Raudhatun Nadliyyah, 2/132).*

Menurut Imam Shiddiq, hal tersebut karena ada hadits lain yang menunjukkan kepada status kemakruhan upah bekam ini.

Dari Muhayyishah radliyallaahu ‘anhu :

ุฃู†ู‡ ุงุณุชุฃุฐู† ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ّู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ّู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ููŠ ุฅุฌุงุฑุฉ ุงู„ุญุฌุงู… ูู†ู‡ุงู‡ ุนู†ู‡ุง، ูู„ู… ูŠุฒู„ ูŠุณุฃู„ู‡ ูˆูŠุณุชุฃุฐู†ู‡ ุญุชู‰ ุฃู…ุฑู‡ "ุฃู† ุงุนู„ูู‡ ู†ุงุถุญูƒ ูˆุฑู‚ูŠู‚ูƒ".

_“Bahwasannya ia pernah meminta ijin kepada Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wasallam untuk menyewa tukang bekam. Namun beliau melarangnya. Ia terus memohon dan meminta ijin kepada beliau, hingga beliau memerintahkan : ‘Hendaknya upahnya diberikan untuk makan untamu dan budakmu”._ *(HR. Abu Dawud No. 3422, At-Tirmidzi No. 1277, Ibnu Majah No. 2166).*

Kesimpulannya : Jika memang dapat beralih profesi, dan tidak menjadikan aktivitas berbekam sebagai mata pencaharian, maka hal itu lebih baik. Namun jika tidak ada lagi mata pencaharian lain, maka pekerjaan berbekam itu boleh. Semoga Allaah Ta'ala senantiasa memudahkah segala urusan kita.

Wallaahu a'lam.