Sabtu, 19 Februari 2022

AMALAN PENGUAT HAFALAN

 AMALAN PENGUAT HAFALAN


1️⃣. Bagun malam jumat disepertiga malam terakhir.

2️⃣. Sholat 4 rekaat, dengan ketentuan berikut ini : 

a. Rekaat ke 1 : Membaca al Fatihah dan surat Yasin.

b. Rekaat ke 2 : Membaca al Fatiha dan surat ad Dukhon.

c. Rekaat ke 3 : Membaca al Fatihah dan surat as Sajadah.

d. Rekaat ke 4 : Membaca al Fatihah dan surat al Mulk.

3️⃣. Usai salam dari sholat, bacalah hamdalah, memuji Allah, sholawat kepada Nabi dan membaca istighfar lalu berdoa dengan doa berikut :

اللَّهُمَّ ارْحَمْنِي بِتَرْكِ الْمَعَاصِي أَبَدًا مَا أَبْقَيْتَنِي وَارْحَمْنِي أَنْ أَتَكَلَّفَ مَا لَا يَعْنِينِي وَارْزُقْنِي حُسْنَ النَّظَرِ فِيمَا يُرْضِيكَ عَنِّي اللَّهُمَّ بَدِيعَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ وَالْعِزَّةِ الَّتِي لَا تُرَامُ أَسْأَلُكَ يَا أَللَّهُ يَا رَحْمَنُ بِجَلَالِكَ وَنُورِ وَجْهِكَ أَنْ تُلْزِمَ قَلْبِي حِفْظَ كِتَابِكَ كَمَا عَلَّمْتَنِي وَارْزُقْنِي أَنْ أَتْلُوَهُ عَلَى النَّحْوِ الَّذِي يُرْضِيكَ عَنِّيَ اللَّهُمَّ بَدِيعَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ وَالْعِزَّةِ الَّتِي لَا تُرَامُ أَسْأَلُكَ يَا أَللَّهُ يَا رَحْمَنُ بِجَلَالِكَ وَنُورِ وَجْهِكَ أَنْ تُنَوِّرَ بِكِتَابِكَ بَصَرِي وَأَنْ تُطْلِقَ بِهِ لِسَانِي وَأَنْ تُفَرِّجَ بِهِ عَنْ قَلْبِي وَأَنْ تَشْرَحَ بِهِ صَدْرِي وَأَنْ تَغْسِلَ بِهِ بَدَنِي فَإِنَّهُ لَا يُعِينُنِي عَلَى الْحَقِّ غَيْرُكَ وَلَا يُؤْتِيهِ إِلَّا أَنْتَ وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيمِ.

(Ya Allah, rahmatilah aku untuk meninggalkan kemaksiatan selamanya selama Engkau masih memberikan kehidupan kepadaku, rahmatilah aku untuk tidak membebani diri dengan sesuatu yang tidak bermanfaat bagiku, dan berilah aku karunia berupa kenikmatan mencermati perkara yang mendatangkan keridhaan-Mu kepadaku.

Ya Allah, wahai Pencipta langit dan bumi, Pemilik keagungan dan kemuliaan serta keperkasaan yang tidak mungkin bisa dicapai oleh makhluk. Aku memohon kepada-Mu ya Allah, ya Rahman, dengan kebesaran-Mu dan cahaya wajah-Mu agar Engkau berkenan menjadikan hatiku untuk senantiasa menjaga/menghafal kitab-Mu, sebagaimana yang Engkau telah ajarkan kepadaku. Dan berilah aku karunia untuk senantiasa membacanya sesuai dengan cara yang membuat-Mu ridha kepadaku.

Ya Allah, wahai Pencipta langit dan bumi, Pemilik keagungan dan kemuliaan serta keperkasaan yang tidak mungkin bisa dicapai oleh makhluk. Aku memohon kepada-Mu ya Allah, ya Rahman, dengan kebesaran-Mu dan cahaya wajah-Mu agar dengan kitab-Mu, Engkau berkenan untuk menyinari pandanganku, melepaskan kekakuan lisanku, menghilangkan kekakuan dari hatiku, melapangkan dadaku, dan membersihkan badanku. Karena sesungguhnya tidak ada yang dapat membantuku untuk mendapatkan kebenaran selain Engkau, dan juga tidak ada yang bisa memberi kebenaran itu selain Engkau. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan-Mu, wahai Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung).

4️⃣. Lakukan demikian itu 3 jumat atau sampai 7 jumat. 

5️⃣. Insyallah Allah akan menguatkan ingatan kita. 

_(Amalan ini bersumber dari  hadits riwayat imam at Tirmidzi bab. Doa-doa Penjagaan, Hadits no. 3570. Status hadits  : Menurut at Tirmidzi ini hadits Hasan Ghorib,  al Hakim  berpendapat ini hadits sohih, dan Adz-Dzahabi mengatkan hadits ini mungkar). _Allahualam bis showab_


HADITS DENGAN LENGKAPNYA 

Hadits no. 3570, Imam Tirmidzi berkata :

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ الحَسَنِ قَالَ: حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الدِّمَشْقِيُّ قَالَ: حَدَّثَنَا الوَلِيدُ بْنُ مُسْلِمٍ قَالَ: حَدَّثَنَا ابْنُ جُرَيْجٍ، عَنْ عَطَاءِ بْنِ أَبِي رَبَاحٍ، وَعِكْرِمَةَ، مَوْلَى ابْنِ عَبَّاسٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ، أَنَّهُ قَالَ: بَيْنَمَا نَحْنُ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذْ جَاءَهُ عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ فَقَالَ: بِأَبِي أَنْتَ وَأُمِّي، تَفَلَّتَ هَذَا القُرْآنُ مِنْ صَدْرِي فَمَا أَجِدُنِي أَقْدِرُ عَلَيْهِ، فَقَالَ  رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «يَا أَبَا الحَسَنِ، أَفَلَا أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ يَنْفَعُكَ اللَّهُ بِهِنَّ، وَيَنْفَعُ بِهِنَّ مَنْ عَلَّمْتَهُ، وَيُثَبِّتُ مَا تَعَلَّمْتَ فِي صَدْرِكَ؟» قَالَ: أَجَلْ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَعَلِّمْنِي. قَالَ: ” إِذَا كَانَ لَيْلَةُ الجُمُعَةِ، فَإِنْ اسْتَطَعْتَ أَنْ تَقُومَ فِي ثُلُثِ اللَّيْلِ الآخِرِ فَإِنَّهَا سَاعَةٌ مَشْهُودَةٌ، وَالدُّعَاءُ فِيهَا مُسْتَجَابٌ، وَقَدْ قَالَ أَخِي يَعْقُوبُ لِبَنِيهِ {سَوْفَ أَسْتَغْفِرُ لَكُمْ رَبِّي} [يوسف: 98] يَقُولُ: حَتَّى تَأْتِيَ لَيْلَةُ الجُمْعَةِ، فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَقُمْ فِي وَسَطِهَا، فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَقُمْ فِي أَوَّلِهَا، فَصَلِّ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ، تَقْرَأُ فِي الرَّكْعَةِ الأُولَى بِفَاتِحَةِ الكِتَابِ وَسُورَةِ يس وَفِي الرَّكْعَةِ الثَّانِيَةِ بِفَاتِحَةِ الكِتَابِ وَحم الدُّخَانِ، وَفِي الرَّكْعَةِ الثَّالِثَةِ بِفَاتِحَةِ الكِتَابِ وَالم تَنْزِيلُ السَّجْدَةِ، وَفِي الرَّكْعَةِ الرَّابِعَةِ بِفَاتِحَةِ الكِتَابِ وَتَبَارَكَ المُفَصَّلِ، فَإِذَا فَرَغْتَ مِنَ التَّشَهُّدِ فَاحْمَدِ اللَّهَ، وَأَحْسِنْ الثَّنَاءَ عَلَى اللَّهِ، وَصَلِّ عَلَيَّ وَأَحْسِنْ، وَعَلَى سَائِرِ النَّبِيِّينَ، وَاسْتَغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالمُؤْمِنَاتِ وَلِإِخْوَانِكَ الَّذِينَ سَبَقُوكَ بِالإِيمَانِ، ثُمَّ قُلْ فِي آخِرِ ذَلِكَ: اللَّهُمَّ ارْحَمْنِي بِتَرْكِ المَعَاصِي أَبَدًا مَا أَبْقَيْتَنِي، وَارْحَمْنِي أَنْ أَتَكَلَّفَ مَا لَا يَعْنِينِي، وَارْزُقْنِي حُسْنَ النَّظَرِ فِيمَا يُرْضِيكَ عَنِّي، اللَّهُمَّ بَدِيعَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ ذَا الجَلَالِ وَالإِكْرَامِ وَالعِزَّةِ الَّتِي لَا تُرَامُ، أَسْأَلُكَ يَا أَللَّهُ يَا رَحْمَنُ بِجَلَالِكَ وَنُورِ وَجْهِكَ أَنْ تُلْزِمَ قَلْبِي حِفْظَ كِتَابِكَ كَمَا عَلَّمْتَنِي، وَارْزُقْنِي أَنْ أَتْلُوَهُ عَلَى النَّحْوِ الَّذِي يُرْضِيكَ عَنِّيَ، اللَّهُمَّ بَدِيعَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ ذَا الجَلَالِ وَالإِكْرَامِ وَالعِزَّةِ الَّتِي لَا تُرَامُ، أَسْأَلُكَ يَا أَللَّهُ يَا رَحْمَنُ بِجَلَالِكَ وَنُورِ وَجْهِكَ أَنْ تُنَوِّرَ بِكِتَابِكَ بَصَرِي، وَأَنْ تُطْلِقَ بِهِ لِسَانِي، وَأَنْ تُفَرِّجَ بِهِ عَنْ قَلْبِي، وَأَنْ تَشْرَحَ بِهِ صَدْرِي، وَأَنْ تَغْسِلَ بِهِ بَدَنِي، فَإِنَّهُ لَا يُعِينُنِي  عَلَى الحَقِّ غَيْرُكَ وَلَا يُؤْتِيهِ إِلَّا أَنْتَ، وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ العَلِيِّ العَظِيمِ، يَا أَبَا الحَسَنِ فَافْعَلْ ذَلِكَ ثَلَاثَ جُمَعٍ أَوْ خَمْسًا أَوْ سَبْعًا تُجَبْ بِإِذْنِ اللَّهِ، وَالَّذِي بَعَثَنِي بِالحَقِّ مَا أَخْطَأَ مُؤْمِنًا قَطُّ ” قَالَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبَّاسٍ: فَوَاللَّهِ مَا لَبِثَ عَلِيٌّ إِلَّا خَمْسًا أَوْ سَبْعًا حَتَّى جَاءَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي مِثْلِ ذَلِكَ المَجْلِسِ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنِّي كُنْتُ فِيمَا خَلَا لَا آخُذُ إِلَّا أَرْبَعَ آيَاتٍ أَوْ نَحْوَهُنَّ، فَإِذَا قَرَأْتُهُنَّ عَلَى نَفْسِي تَفَلَّتْنَ وَأَنَا أَتَعَلَّمُ اليَوْمَ أَرْبَعِينَ آيَةً أَوْ نَحْوَهَا، وَإِذَا قَرَأْتُهَا عَلَى نَفْسِي فَكَأَنَّمَا كِتَابُ اللَّهِ بَيْنَ عَيْنَيَّ، وَلَقَدْ كُنْتُ أَسْمَعُ الحَدِيثَ فَإِذَا رَدَّدْتُهُ تَفَلَّتَ وَأَنَا اليَوْمَ أَسْمَعُ الأَحَادِيثَ فَإِذَا تَحَدَّثْتُ بِهَا لَمْ أَخْرِمْ مِنْهَا حَرْفًا، فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عِنْدَ ذَلِكَ: «مُؤْمِنٌ وَرَبِّ الكَعْبَةِ يَا أَبَا الحَسَنِ»

Haddatsanaa Ahmad ibnul Hasan ia berkata, haddatsanaa Sulaiman bin Abdur Rokhman Ad-Dimasyqiy ia berkata, haddatsanaa Al Waliid bin Muslim ia berkata, haddatsanaa Ibnu Juraij dari ‘Athoo’ bin Abi Robaah dan ‘Ikrimah Maula Ibnu Abbas dari Ibnu Abbas Rodhiyallahu anhu bahwa beliau berkata : ‘ketika kami sedang bersama Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa Salaam, tiba-tiba datanglah Ali bin Abi Tholib Rodhiyallahu anhu ia berkata : ‘demi bapak dan ibumu, Al Qur’an ini telah lari dari dadaku, aku tidak mampu menguasainya. Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa Salaam bersabda : “wahai Abul Hasan, maukah aku ajarkan sebuah doa yang Allah akan memberikan manfaat dengannya, memberi manfaat kepada orang yang kamu ajari dan mengokohkan apa yang telah kamu pelajari?”. Ali Rodhiyallahu anhu berkata : “Mau ya Rasulullah, ajarilah aku”. Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa Salaam berkata : “pada malam jum’at, jika kamu mampu sholatlah pada sepertiga malam akhir, karena ini adalah waktu yang disaksikan, doa pada pada saat itu dikabulkan. Saudaraku Nabi Ya’qub r berkata kepada anak-anaknya : “kelak aku akan memintakan ampun bagi kalian kepada Rabbku” (Yusuf : 98). Lanjut Nabi Sholallahu ‘alaihi wa Salaam lagi : “sampai datang malam jum’at (pagi hari). Jika tidak mampu, sholatlah pada tengah malam, jika tidak mampu sholatlah pada awal malam. Sholatlah 4 rakaat. Pada rakaat pertama membaca surat Al Fatihah dan surat Yasin, pada rakaat kedua setelah Al Fatihah membaca surat Hamiim Ad-Dukhoon, pada rakaat ketiga, setelah Al Fatihah surat As-Sajadah dan pada rakaat keempat setelah Al Fatihah membaca surat Tabaroka (Al Mulk). Jika sudah selesai dari tasyahud, bacalah Hamdalah, perbaguslah dalam memuji Allah, bersholawat kepadaku dan perbaguslah kemudian bersholawat kepada seluruh Nabi, mintakan ampunan untuk kaum mukminin dan mukminat dan saudara-saudara kita yang telah mendahului dalam keimanan, lalu setelah melakukan itu semua, berdoalah : “Ya Allah, rakhmatilah aku dengan meninggalkan maksiat selamanya apa yang telah engkau tetapkan untukku, rakhmatilah aku untuk tidak membebaniku dengan sesuatu yang aku tidak sanggup, berilah rezeki kepadaku dan bagusnya pandangan dengan sesuatu yang engkau ridhoi dariku, Ya Allah pencipta langit dan bumi Yang Memiliki Keagungan dan Kemuliaan, aku memohon kepada Engkau Ya Allah, Ya Rokhman dengan Keagungan-Mu dan Cahaya Wajah-Mu agar mengokohkan hatiku untuk menghapal kitab-Mu sebagaimana yang telah Engkau ajarkan kepadaku, rizkikan kepadaku untuk membaca secara nahwu yang telah Engkau ridhoi dariku, Ya Allah pencipta langit dan bumi Yang Memiliki Keagungan dan Kemuliaan, aku memohon kepada Engkau Ya Allah, Ya Rokhman dengan Keagungan-Mu dan Cahaya Wajah-Mu agar menerangi penglihatanku dengan cahaya kitab-Mu dan melancarkan lisanku, melapangkan hatiku, melapangkan dadaku, membersihkan badanku, sesungguhnya tidak ada yang menolongku diatas kebenaran selain Engkau, tidak ada yang member jalan kebenaran, kecuali Engkau, tidak ada daya dan upada kecuali dengan pertolongan Allah yang Maha Tinggi dan Maha Agung”. Lanjut Nabi Sholallahu ‘alaihi wa Salaam : “wahai Abul Hasan, lakukanlah hal tersebut 3 kali jum’at atau 5 kali atau 7 kali, niscaya akan dikabulkan dengan izin Allah, demi Dzat yang mengutusku dengan kebenaran tidak akan keliru seorang mukmin pun (jika mengamalkan hal ini)”.

Abdullah bin Abbas Rodhiyallahu anhu berkata : ‘demi Allah, berlalulah waktu dengan Ali 5 atau 7 jum’at, hingga beliau Rodhiyallahu anhu datang kepada Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa Salaam seperti majelis yang kemarin, beliau berkata : ‘wahai Rasulullah sesungguhnya dulu aku sering luput kecuali 4 ayat kurang lebihnya (yang dapat dihapal), jika aku membacanya sendiri, aku terlupakan darinya, aku sekarang belajar 40 ayat kurang lebihnya, ketika aku membacanya lagi, seolah-olah kitabullah berada di kedua mataku. Dulu kalau aku mendengar hadits, jika diulang kembali aku lupa, sekarang kalau aku mendengar hadits, jika diminta menyebutkannya lagi tidak akan terluput satu hurufpun’. Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa Salaam pun bersabda ketika mendengarkan hal ini : “engkau Mukmin wahai Abul Hasan demi Rabbnya Ka’bah”.



Sabtu, 08 Januari 2022

PASANGAN JELEK MUKA


PASANGAN JELEK MUKA 



Dikisahkan oleh Imam Qalyubi. Imam al-'Utbi menceritakan, suatu ketika saat ia berjalan di salah satu jalan raya Bashra bertemu dg seorang wanita cantik jelita sedang bersenda gurau dg lelaki tua yg buruk rupa tak sedap dipandang. Tiap kali lelaki itu mengeluarkan "banyolan", wanita cantik yg ada dihadapannya itu tertawa.

Aku berusaha mendekati lalu bertanya pada wanita itu: "siapamu lelaki buruk rupa ini?". "Dia suamiku", jawabnya.

"Bagaimana bisa kau bersabar atas wajahnya yg buruk nan tak enak dipandang, sementara engkau cantik jelita?. Sungguh ini menakjubkan", Tanyaku selanjutnya. Ia menjawab: "Mungkin ia diberi rizki sepertiku lalu ia bersyukur, aku diberi rizki sepertinya dan aku bersabar. Pandai bersyukur dan pandai bersabar adalah -karakter- ahli surga. Masak iya aku tidak rela dg jatah yg Allah berikan padaku?"

Maka aku takjub atas jawabannya kemudian aku berlalu pergi meninggalkan nya

📚ممدوح مبارك

MUI Berakar dari kota Solo

 DARI MAJELIS ULAMA SURAKARTA MENJADI MAJELIS ULAMA INDONESIA 




Foto ini merupakan dokumentasi rakerda (rapat kerja daerah) Majelis Ulama Surakarta tanggal 6 Rajab 1405 atau yang bertepatan dengan tanggal 27 Maret 1985 yang dikirim seorang kawan.

Menurut keterangan bapak saya, mereka yang menghadap kamera dari kiri: KH. Amin Jaiz (Sekretaris Majelis Ulama), KH Habib Anhar (Majelis Tarjih Muhammadiyah), dan KH Ali Darokah (Ketua Umum Majelis Ulama). Yang satunya belum tahu.

Majelis Ulama Surakarta sendiri didirikan pada kisaran tahun 1962. Pendirian Majelis Ulama Surakarta semula diinisiasi oleh KH Saleh Saebani (Kauman), seorang tokoh Sarekat Islam di Surakarta, untuk menghadapi tekanan aktivitas kelompok komunis di kota Surakarta. Hal itu juga dikarenakan pembubaran Masyumi (membubarkan diri) pada tahun 1960an. 

Menurut KH. Mansur Suhardi, kepala Jawatan Urusan Surakarta (Kemenag Surakarta), komunisme berkembang sangat pesat di Surakarta. Setelah Masyumi bubar pada tahun 1960, kegiatan Islam apapun di Surakarta selalu dihambat oleh PKI. Di kota Surakarta sendiri, Walikota Surakarta dijabat oleh Utomo Ramelan, seorang guru sekaligus tokoh PKI, sejak tahun 1958 menggantikan M. Saleh 

Werdisastro.

Melalui inisiatif KH. Saleh Saebani, diajaklah sejumlah ulama kyai untuk bertemu membicarakan masalah tersebut yang seringnya diadakan di Masjid Agung Kauman Surakarta atau kantor jawatan agama Surakarta. Diantara para ulama dan kyai yang hadir antara lain KH. Saleh Syaebani (Kauman) sendiri, KH. Marwan Ashuri (Tegalsari), KH. A. Ma’ali (Sondakan), KH  A. Muslim (Sondakan), H. Abdul Karim Tasyrif (Penumping), KH. Amir Tohar (Jayengan), KH. Imam Ghozali (Begalon), KH. Sahlan Rosyidi (Kepatihan), KH. Abdussomad (Nirbitan), KH. Mufti (Kauman), dan KH. AbdulMufti Handipaningkrat (Kauman). Ringkas cerita, kemudian dibentuklah wadah bersama lembaga fatwa dengan nama Majelis Ulama (MU) Surakarta di rumah KH. A. Ma’ali (Sondakan)pada tanggal 8 Agustus 1962 atau bertepatan dengan 8 Rabi’ul Awal 1382 H.

Para ulama yang tergabung di dalam Majelis 

Ulama (MU), antara lain berangkat dari tokoh-tokoh Islam di Al Islam, Muhammadiyah, Al-Irsyad, Sarekat Islam, Nahdlotul Ulama, Djama’atoel Chasanah, dan lain-lain. Para ulama dan kyai di Majelis Ulama disupport oleh para mubaligh atau juru dakwah dalam 

organisasi dakwah Pelaksana Tabligh di bawah koordinasi Kyai Abdani (Banyuanyar) yang tinggal dekat Masjid Mujahidin. Mubaligh Pelaksana Tabligh mampu mengkoordinasikan  sekitar 200 masjid di Surakarta dan sekitarnya. 

Majelis Ulama awalnya diketuai oleh KH Mansur Suhardi, kemudian digantikan KH. Sahlan Rosyidi. Setelah KH Sahlan Rosyidi ditetapkan menjadi angota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD)provinsi Jawa Tengah, maka kepemimpinan dilanjutkan oleh KH. Ali Darokah sebagai Ketua Umum dan KH. 

Amien Jaiz sebagai Sekretaris. 

Di kemudian hari, tepatnya tanggal 26 Juli 1975, secara resmi terbentuklah Majelis Ulama Indonesia (MUI) dengan legitimasi dari pemerintahan pusat (Presiden Soeharto). Beberapa ulama di Surakarta menyatakan tidak berkenan untuk bergabung atau ganti nama menjadi Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat. Di seluruh kota di Jawa Tengah, hanya kota Surakarta yang tidak mau. Namun kemudian MU Surakarta dipaksa untuk ganti nama dan bergabung dengan MUI Pusat. KH Ali Darokah diangkat sebagai Dewan Pertimbangan MUI Jawa Tengah. 

Dimulai pada tahun 1975, sejak KH. Ali Darokah tampil sebagai ketua umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Surakarta. Pergerakan formalistik Islam yang dicita-citakan, berubah menjadi organisasi yang kritis terhadap realitas sosial-keagamaan. MUI Surakarta tidak jarang tampil mengkritisi kebijakan-kebijakan pemerintah. Diantara aktivitas MUI Surakarta diwujudkan dalam bentuk seruan dan nasehat kepada pemerintah, seperti misalnya respons MUI Surakarta terhadap UU Perkawinan, 

upacara bendera di dalam kelas, pelarangan berjilbab untuk siswi dan kebijakan lainnya.

-Sumber utama tulisan Buku MUI dan Dinamika Sosial Keagamaan di Surakarta tulisan Hasan Maftuh, MA dan M. Mustholiq Alwi, M.Pd-