Selasa, 16 Oktober 2018

WASPADA TERHADAP FITNAH DUNIA DAN WANITA

*MUTHOLAAH Vol.100*

WASPADA TERHADAP FITNAH DUNIA DAN WANITA


Hasil gambar untuk waspada terhadap fitnah wanita dan dunia


*
عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبيّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ :*
إِنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ وَإِنَّ اللَّهَ مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيهَا، فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُونَ، فَاتَّقُوا الدُّنْيَا، وَاتَّقُوا النِّسَاءَ، فَإِنَّ أَوَّلَ فِتْنَةِ بْنِي إِسْرَائِيلَ كَانَتْ فِي النِّسَاء

ARTI HADITS :

Dari Abu Sa’id al-Khudri Radhiyalloohu 'anhu, dari Nabi Shollalloohu ‘alaihi wa sallam , beliau bersabda : “Sesungguhnya dunia ini manis dan indah. Dan sesungguhnya Allâh Azza wa Jalla menguasakan kepada kalian untuk mengelola apa yang ada di dalamnya, lalu Dia melihat bagaimana kalian berbuat. Oleh karena itu, berhati-hatilah terhadap dunia dan wanita, karena fitnah yang pertama kali terjadi pada Bani Israil adalah karena wanita”. [HR. Muslim]
PENGERTIAN HADITS :
Kehidupan dunia beserta isinya ini tampak lebih manis dan indah dimata manusia. Sebagaimana firman Allah :

*
زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ۗ ذَٰلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ*

“Dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia cinta terhadap apa yang diinginkan, berupa perempuan-perempuan, anak-anak, harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allâh-lah tempat kembali yang baik”. [Ali ‘Imrân/3:14].

Berdasarkan dalil diatas, kita fahami bahwa menyenangi kenikmatan dunia merupakan fitrah bagi setiap anak adam. Dan mencintai kenikmatan dunia dibolehkan. Yang menjadi catatan ialah jangan sampai cinta akan dunia tersebut melebih cintanya kepada Allah dan Rosulullah. Dengan kata lain, “cintailah dunia sewajarnya” selebihnya gunakan energi untuk meraih kenikmatan akhirat. Manusia makhluk Allah yang paling mulia. Diantara tugas manusia dalam kehidupan di bumi iniadalah menjadi khalifah atau mengatur serta mengurusi dunia. Selanjutnya, didalam mengurusi dunia tersebut Allah akan melihat, siapa yang benar benar amanah dan siap yang berkhianat. Sejatinya Allah memberikan kebebasan didalam mengurusi dunia ini bertujuan supaya dijadikan sarana untuk ibadah, sehingga mendapatkan ridho Allah.

Berikutnya Rosulullah SAW memberikan peringatan tentang apa saja yang menjadi  titik lemahnya manusia didalam menjalani amanah Allah. Kata beliau ada dua hal yang menjadikan manusia hancur didalam menjalankan misi kepada Allah. Keduanya itu yakni “harta dunia dan wanita”. Sebagaimana dijelaskan dimuka, bahwa kenikmatan dunia itu sungguh sangat menggiurkan. Betapa banyak orang menggadaikan iman dan islamnya hanya demi mendapatkan harta dan tahta. Tak terkecuali dengan wanita. 

Wanita merupakan virus yang mematikan bagi laki laki.  Betapa banyak orang orang besar jatuh karena fitnah wanita. Diceritakan pula bahwa banyak kaum terdahulu hancur gara gara fitnah wanita. Ini harusnya menjadi pelajaran bagi kita yang hidup setelahnya, jangan sampai senasib dengan mereka. Akan tetapi perlu diperhatikan juga bahwa meski harta dunia dan wanita merupakan virus penyebab kebinasaan,anamun keduanya juga menjadi penyebab utama untuk mendatakan kemulyaan dunis hingga akhirat. Dengan harta manusia bisa bersedekah sebanyak banyaknya. Dengan wanita,  bisa menjadi suporter untuk menjalankan ibadah ibdaha, serta dengan wanita pula mampu memberikan hasil keturunan yang sholih-sholihah.

Hendaklah seorang Muslim benar-benar waspada terhadap fitnah dunia. Dunia ini indah dan manis, maka jangan sekali-kali seorang Muslim tertipu dengannya, karena kehidupan dunia adalah kehidupan yang menipu. Allah berfirman :

وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

“Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya. [Ali ‘Imrân/3:185].



-*MT AS SAKINAH*-

Kunjungi : 
- # fb : Taklim As Sakinah
- # Gmail : jauharulfoundation@gmail.com



LARANGAN TATO, DAN MERUBAH FISIK TUBUH

*MUTHOLAAH Vol.99*

LARANGAN TATO, DAN MERUBAH FISIK TUBUH


Hasil gambar untuk dosa bertato



*
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ :*
*
لَعَنَ اللَّهُ الْوَاشِمَاتِ وَالْمُوتَشِمَاتِ وَالْمُتَنَمِّصَاتِ وَالْمُتَفَلِّجَاتِ لِلْحُسْنِ الْمُغَيِّرَاتِ خَلْقَ اللَّه*ِ
)
رواه البخاري(

ARTI HADITS :

Dari Abdullah ia berkata: "Semoga Allah melaknati Al Wasyimaat (wanita yang mentato) dan Al Mutawatasyimaat (wanita yang meminta untuk ditato), Al Mutanammishaat (wanita yang mencukur alisnya), serta Al Mutafallijaat (merenggangkan gigi) untuk keindahan, yang mereka merubah-rubah ciptaan Allah”. [HR.Bukhori].

PENJELASAN HADITS :

Pengertian laknat secara istilah (terminologi) adalah 

*البعد عن رحمة الله تعالى*

“Menjauhkan dari rahmat Allah ta’ala dan pahala-Nya”
[‘Umdatul-Qaariy 22/117].

Perbuatan dosa yang ancamannya laknat maka dia adalah dosa besar :

*
كُلُّ ذَنْبٍ كَانَتْ عُقُوْبَتُهُ اللَّعْنَةَ فَهُوَ مِنْ كَبَائِرِ الذُّنُوْبِ*
“Setiap dosa yang hukumannya adalah mendapatkan laknat, dosa tersebut tergolong kedalam dosa besar”. [Durus wa Fatawa Al-Haram Al-Madani, hlm. 57].

Tato hukumnya “haram” bagi perempuan yang mentato dan yang minta dibuatkan tato, Para ulama mazhab kami (Syafi’i) berkata bahwa “bagian tubuh yang ditato berubah menjadi najis”. Jika memungkinkan untuk dihilangkan dengan terapi maka tato tersebut
“wajib dihilangkan”. Jika tidak mungkin dihilangkan dengan terapi maka bisa dengan cara di operasi. Dalam hal ini, lelaki atau perempuan sama saja. (Shahih Muslim Bi-syarhi al-Imam al-Nawawi, Jilid 14, Hlm.95).
Perbuatan mentato ini tidak selaras dengan akhlak Islam yang mengajarkan keindahan lahir dan batin. Dalih seni dan memperindah tubuh tidak sejalan dengan bimbingan wahyu ilahi yang mengharamkan mentato anggota badan. Bahkan, masyarakat yang menjunjung tinggi norma-norma memandang tato sebagai perbuatan negatif. Tato, identik dengan kehidupan bebas, penjahat, para preman dan kehidupan nakal.

An Nawawi rahimahullah ketika menerangkan an namsh, beliau katakan, “An naamishoh adalah orang yang menghilangkan rambut wajah, sedangkan al mutanammishoh adalah orang yang meminta dicabutkan. Perbuatan namsh itu haram kecuali jika pada wanita terdapt jenggot atau kumis, maka tidak mengapa untuk dihilangkan, bahkan menurut kami hal itu disunnahkan”. (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 14/106).

Dalam hadits yang lain ada dikatakan : 
                                                             
*
عَنْ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَعَنَ الْوَاصِلَةَ وَالْمُسْتَوْصِلَةَ وَالْوَاشِمَةَ وَالْمُسْتَوْشِمَةَ.
 [رواه مسلم: اللباس والزينة: تحريم فعل الواصلة والمستوصلة والواشمة والمستوشمة[

Artinya:  "Diriwayatkan dari Ibnu Umar, bahwasanya Rasulullah saw melaknat perempuan yang menyambung rambutnya dan perempuan yang minta disambungkan rambutnya, perempuan yang membuat tato dan perempuan yang minta dibuatkan tato”. [HR Muslim]. 

Dari  hadits di atas dapat disimpulkan bahwa ada beberapa hal yang dilarang untuk dilakukan yaitu : 
1.    Washilah (menyambung rambut)
2.    Mustaushilat (meminta disambungkan rambutnya)
3.    Wasyimah (membuat tato)
4.    Mustausyimat (memita dibuatkan tato)
5.    Mutafallijaat (merengangngkan gigi agar cantik)
6.    Namishah (mencabut mencukur alis)
7.    Mutanammishat (meminta utuk mencukur bulu alisnya).

Perbuatan perbuatan semacam itù merupakan perbuatan yang menyelisihi ketetapan/takdir Allah.  Anggota badan yang sudah Allah berkan ke manusia merupakan sebaik baiknya bentuk. Tidak perlu menusia merubah rubah sekehendaknya.

Allah Ta’ala berfirman : 

لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيم*ٍ 
“Sungguh kamu telah menciptakan manusia dengan sebaik-baiknya penciptaan”.
[QS. Al-Tin: 4].

Jika yang dilakukan itu adalah menyempurnakan bagian tubuh yang yang cacat atau tidak normal, seperti layaknya umumnya orang maka tidaklah mengapa. 

ما كان لإزالة عيب فلا بأس به ، مثل أن يكون في أنفه اعوجاج فيعدله ، أو إزالة بقعة سوداء مثلاً ، فهذا لا بأس به
“Selama yang dihilangkan itu aib, hukumnya boleh. Semacam ada yang bengkok di hidungnya, dia boleh meluruskannya. Atau menghilangkan titik hitam misalnya, semacam ini dibolehkan”. [Majmu’ Fatawa Ibnu Utsaimin, 11:137].

Jadi, bersyukur dengan pemberian sang pencipta merupakan langkah yang paling tepat dan terbaik. 


-*MT AS SAKINAH*-

Kunjungi : 
- # fb : Taklim As Sakinah
- # Gmail : jauharulfoundation@gmail.com



SEMUA KEBAIKAN ADA UPAHNYA

*MUTHOLAAH Vol.98*   08/07/2018


SEMUA KEBAIKAN ADA UPAHNYA

Hasil gambar untuk semua kebaikan ada upahnya

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّهُ حَدَّثَ
عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم :
َ *إِنَّ الْكَافِرَ إِذَا عَمِلَ حَسَنَةً أُطْعِمَ بِهَا طُعْمَةً مِنْ الدُّنْيَا وَأَمَّا الْمُؤْمِنُ فَإِنَّ اللَّهَ يَدَّخِرُ لَهُ حَسَنَاتِهِ فِي الْآخِرَةِ وَيُعْقِبُهُ رِزْقًا فِي الدُّنْيَا عَلَى طَاعَتِهِ*

ARTI HADITS :

Dari Anas bin Malik ia menceritakan dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Salam:
“Bila orang kafir mengerjakan suatu kebaikan, dengan kebaikan itu ia diberi sesuap makanan dari dunia, sedangkan orang mu`min itu kebaikan-kebaikannya disimpan oleh Allah di akhirat dan ia diberi rizki di dunia karena ketaatannya”. (HR. Muslim, 5023)

PENGERTIAN HADITS :

Ø Setiap amal baik yang dikerjakan manusia siapapun dia orangnya,  pasti ada balasannya dari Allah. 
Ø Ada perbedaan balasan antara orang mu'min dan orang kafir. Orang mu'min upah dan balasannya Allah kasihkan kepadanya di akhirat kelak. Akan tetapi efek dari amal baiknya tersebut juga mngundang rizki Allah di bumi. Sehingga kehidupan seorang mukmin yang taat pasti akan tercukupi rizkinya didunia ini. 
Ø Bagi orang beriman, dengan diberinya nikmat rezeki di dunia ini sama sekali tidak mengurangi kenikmatannya di akhirat kelak. Rizki di dunia yang ini merupakan bonus dari-Nya untuk hamba-hamba-Nya yang taat.
Ø Jadi dengan menjadi muslim yang taat beribadah dan beramal sholeh pasti hidupnya akan mulya di dunia dan lebih-lebih di akhiratnya. 
Ø Sebaliknya orang kafir yang berbuat baik pasti juga akan mendapatkan balasan dari kebaikannya. Akan tetapi balasan itu Allah kasihkan kepada dia ketika hidup didunia ini. Sedang diakhiratnya dia sama sekali tidak mendapatkan balasan dari kebaikan yang telah ia perbuat.
Ø Perbedaan antara balasan dunia dan akhiat. Kalau balasan itu dikasihkan didunia menunujukkan bahwa balasan itu hina tak berarti. Sebab sifatnya dunia itu hina, segala yang dimunculkan didunia berarti dia itu hina. Sedangkan balasan akhirat sifatnya istimewa dan abadi. Karena sifatnya akhirat (jannah) istimewa dan abadai selamnaya, segala hal yang Allah munculkan di jannah berarti dia itu sesuatu yang istimewa. 
Ø Penyebab perbedaan antara balasan di dunia dan di akhirat adalah keimanan masing-masing. Agama yang diterima Allah hanya Islam, selain Islam tertolak. 
Ø Ikhlas ialah berbuat kebaikan karena mengharap ridho dan pahala dari Allah swt. Berdasarkan pengertian ini berarti ikhlas itu bukanlah hati yang rela atau legowo (jw). Jika kita maknai bahwa ikhlas itu kerelaan hati maka tentunya banyak amalan orang kafir yang diterima Allah, karena banyak orang kafir yang mempunyai sifat legowo ketika berbuat baik. Akan tetapi faktanya kebaikan mereka tetap tertolak, sebab hilangnya islam, iman dan ikhlas dalam hatinya.


-*MT AS SAKINAH*-

Kunjungi : 
- # fb : Taklim As Sakinah
- # Gmail : jauharulfoundation@gmail.com


SETIAP PENYAKIT PASTI ADA PENYEMBUHNYA

*MUTHOLAAH Vol.97*

SETIAP PENYAKIT PASTI ADA PENYEMBUHNYA

Hasil gambar untuk setiap penyakit pasti ada obatnya



*
عَنْ أُسَامَةَ بْنِ شَرِيكٍ قَال:*َ قَالَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:
  *
تَدَاوَوْا فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَمْ يَضَعْ دَاءً إِلَّا وَضَعَ لَهُ دَوَاءً غَيْرَ دَاءٍ وَاحِدٍ الْهَرَمُ*

ARTI HADITS :

Dari Usamah bin Syarik ia berkata, telah bersabda Rosulullah shallallahu 'alaihi wasallam  bersabda :  "Berobatlah, sesungguhnya Allah 'azza wajalla tidak menciptakan penyakit melainkan menciptakan juga obatnya, kecuali satu penyakit, yaitu penuaan/pikun". (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah dan Tirmizi, sohih)

PENJELASAN HADITS : 

Ø Sehat dan sakit datang dari Allah SWT. Dià yang memberikan penyakit dan Dia pula yang menyembuhkan. 
Ø Hadits ini memberikan janji bahwa setiap penyakit pasti ada obat atau penyembuhnya.
Ø Ini adalah mukjizat nabawi yang  kita umat Islam harus mempercayainya. Adapun jika saat ini ada penyakit yang menurut sebagian manusia tidak ada obat penyembuhnya, maka bisa kita katakan bahwa obat tersebut belum diketemukan. Yakinlah bahwa suatu saat nanti Allah akan membukakan tabir itu. 
Ø Hadits ini memberikan motivasi kepada ahli pengobatan/tabib ataupun juga kepada penderita penyakit untuk semangat berikhtiar dalam menemukan obat.
Optimislah  bahwa penyakit apapun pasti bisa disembuhkan.
Ø Perlu kita fahami bahwa berobat itu merupakan sarana penyembuhan, tidak setiap upaya penyembuhan itu membuahkan hasil yang diinginkan, kesemuanya tetap dikembalikan kepada Allah Dzat pemilik sehat dan sakit. Oleh karena itu sepantasnya bagi seorang hamba untuk berdoa dan bertawakal kepada-Nya dalam setip upaya penyembuhan.
Ø Ada satu penyakit yang tidak bisa tidak pasti diderita manusia yang hidup lama didunia, yaitu penyakit pikun atau penuaan. Tua merupakan sunnatullah yang pasti terjadi kepada manusia manapun yang masih hidup. Sehebat apapun menusia menaggulangi masa tua maka pasti datang juga masa tua itu. Dan pada akhirnya meninggal dunia dan ini merupakan penyakit yang lebih pasti lagi untuk menghampiri setiap manusia. 


-*MT AS SAKINAH*-

Kunjungi : 
- # fb : Taklim As Sakinah
- # Gmail : jauharulfoundation@gmail.com



ORANG CERDAS DAN ORANG BODOH

*MUTHOLAAH Vol. 94*      

ORANG CERDAS DAN ORANG BODOH

Hasil gambar untuk orang cerdas dan orang bodoh


*عَنْ شَدَّادِ بْنِ أَوْسٍ :*
*((عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى الله الأمانِيَّ))*
*رواه الترمذي*
ARTI HADITS :

Dari Syaddad bin Aus dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa Salam beliau bersabda:
"Orang yang cerdas adalah orang yang mempersiapkan dirinya dan beramal untuk hari setelah kematian, sedangkan orang yang bodoh adalah orang jiwanya mengikuti hawa nafsunya dan berangan angan kepada Allah". (HR. Tirmidzi  no. 2383, dan didalam Jaami'us Shoghir no.6468, sohih).

PENGERTIAN HADITS :
Imam At Tirmidzi berkata : 

  *
وَمَعْنَى قَوْلِهِ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ يَقُولُ حَاسَبَ نَفْسَهُ فِي الدُّنْيَا قَبْلَ أَنْ يُحَاسَبَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَيُرْوَى*

Maksud sabda Nabi "Orang yang mempersiapkan diri"  Yaitu orang yang selalu mengoreksi dirinya pada waktu di dunia sebelum di hisab pada hari kiamat”. (Sunan At Tirmidzi no.2383).

Dan telah diriwayatkan dari Umar bin Al Khottob dia berkata :

 
حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا وَتَزَيَّنُوا لِلْعَرْضِ الْأَكْبَرِ وَإِنَّمَا يَخِفُّ الْحِسَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى مَنْ حَاسَبَ نَفْسَهُ فِي الدُّنْيَا وَيُرْوَى 
“Hisablah (hitunglah) diri kalian sebelum kalian dihitung dan persiapkanlah untuk hari semua dihadapkan (kepada Rabb Yang Maha Agung), hisab (perhitungan) akan ringan pada hari kiamat bagi orang yang selalu menghisab dirinya ketika didunia”. (Sunan At Tirmidzi no.2383).
Maimun bin Mihran berkata: 

 
لَا يَكُونُ الْعَبْدُ تَقِيًّا حَتَّى يُحَاسِبَ نَفْسَهُ كَمَا يُحَاسِبُ شَرِيكَهُ مِنْ أَيْنَ مَطْعَمُهُ وَمَلْبَسُهُ

"Seorang hamba tidak akan bertakwa hingga dia menghisab dirinya sebagaimana dia menghisab temannya dari mana dia mendapatkan makan dan pakaiannya". (Sunan At Tirmidzi no.2383).

Ibnu 'Arobi mengatakan :"Guru-guru kami selalu mengkoreksi diri dalam setiap ucapan dan perbuatannya. Mereka mengumpulkan setiap omongan dan perbuatannya di dalam catatan buku kecil. Sebelum tidur mereka membukanya dan mentaubatinya serta beristighfar jika itu perbuatan dosa, akan tapi jika itu perbuatan baik mereka mensyukurinya. Kemudian barulah mereka tidur”. (Faidhul Qodir hal.86 jil.5).

Islam melihat bahwa kecerdasan sejati itu  bukan berarti pintar dan cerdas otaknya dalam menyelesaikan ujian akademik atau orang yang mampu menciptakan serta menemukan hal-hal yang baru. Akan tetapi orang yang cerdas sejati ialah orang yang memikirkan nasibnya ketika setalah mati nanti dan mempersiapkan kesejahteraan hidupnya disana kelak dari sejak dini.

Sebaliknya orang bodoh adalah “orang yang lupa memikirkan nasibnya setelah mati nanti”
Kesibukan-kesibukan dunia telah membuatnya terlelap, sehingga lupa akan persiapan mencari bekal untuk perjalanan panjang setelah kematian.

Dalam kondisi jauhnya mereka dari ketaatan kepada Allah, anehnya mereka berangan-angan untuk mendapatkan ampunan Allah dan surga-Nya. Hal ini menambah nyata akan kebodohan mereka, dimana seolah mereka tidak mau membayar barang tapi meminta barang. 


Beda antar التمني (berangan-angan) dan الرجاء (mengharap). Kalau *التمني*  ialah berangan-angan tetapi tidak ada ikhtiar untuk mencapainya. Sedang *الرجاء* sudah mempunyai  ikhtiar/usaha kemudian mengharap dengan usahanya ini bisa mencapai tujuan yang diharapkan. Sifat التمني merupakan sifat tercela dan الرجاء adalah sifat terpuji. (Faidhul Qodir hal.86 jil.5).

Kehidupan setelah mati ternyata lebih penting daripada kehidupan dunia. 
Disana lebih banyak membutuhkan bekal dan energi untuk mendapatkan kesejahteraan hidup.

Boleh kita katakan, tidak mendapatkan bagian nikmat di dunia tidaklah masalah, asalkan bisa mendapatkan kenikmatan di akhirat, karena _kenikmatan akhirat adalah kenikmatan yang hakiki dan kekal.
Terakhir, hidup didunia tidak lama, mari kita menjadi orang cerdas, mampu mempersiapkan bekal sebanyak-banyaknya untuk kehidupan yang abadi. Jangan sampai kita terpedaya oleh dunia yang hina ini. Kita sama- sama berdoa dan memohon kepada Allah supaya diberikan kekuatan untuk beramal sholeh dan menjahui segala beban dosa.

 
-*MT AS SAKINAH*-

Kunjungi : 
- # fb : Taklim As Sakinah
- # Gmail : jauharulfoundation@gmail.com