Rabu, 22 Agustus 2018

Amalan dibulan tasyrik



*_๐ŸฝAMALAN-AMALAN*  *DI HARI TASYRIQ ๐Ÿฝ_*

*๐Ÿก Memperbanyak dzikir*


*ูˆَุงุฐْูƒُุฑُูˆุง ุงู„ู„َّู‡َ ูِูŠ ุฃَูŠَّุงู…ٍ ู…َุนْุฏُูˆุฏَุงุชٍ*


_“Dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah dalam beberapa hari yang terbilang .”_
(QS. Al Baqarah: 203).

Yang dimaksud _hari yang terbilang adalah hari-hari setelah hari Idul Adha (hari an-nahr)_ yaitu *hari-hari Tasyrik* (tiga hari setelah hari iedul adha).

*๐ŸกHari untuk makan minum dan dilarang berpuasa*


Dari Ibnu ‘Umar dan ‘Aisyah berkata :

*ู„َู…ْ ูŠُุฑَุฎَّุตْ ูِู‰ ุฃَูŠَّุงู…ِ ุงู„ุชَّุดْุฑِูŠู‚ِ ุฃَู†ْ ูŠُุตَู…ْู†َ ، ุฅِู„ุงَّ ู„ِู…َู†ْ ู„َู…ْ ูŠَุฌِุฏِ ุงู„ْู‡َุฏْู‰َ*

_“Tidak diberi keringanan di hari tasyriq untuk berpuasa kecuali jika tidak didapati hewan sembelihan (untuk dimakan).”_
(HR. Bukhari no. 1998).

Dari Nubaisyah al-Hudzali radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

*ุฃَูŠَّุงู…ُ ุงู„ุชَّุดْุฑِูŠู‚ِ ุฃَูŠَّุงู…ُ ุฃَูƒْู„ٍ ูˆَุดُุฑْุจٍ ูˆَุฐِูƒْุฑٍ ู„ِู„َّู‡ِ*

_“ *Hari Tasyrik adalah hari makan, minum, dan banyak mengingat Allah*.”_
 (HR. Muslim, Ahmad, Abu Daud, Nasa’i).

Ibnu Rajab mengatakan:

*ูˆ ุฅู†ู…ุง ู†ู‡ู‰ ุนู† ุตูŠุงู… ุฃูŠุงู… ุงู„ุชุดุฑูŠู‚ ู„ุฃู†ู‡ุง ุฃุนูŠุงุฏ ู„ู„ู…ุณู„ู…ูŠู† ู…ุน ูŠูˆู… ุงู„ู†ุญุฑ ูู„ุง ุชุตุงู… ุจู…ู†ู‰ ูˆ ู„ุง ุบูŠุฑู‡ุง ุนู†ุฏ ุฌู…ู‡ูˆุฑ ุงู„ุนู„ู…ุงุก، ุฎู„ุงูุง ู„ุนุทุงุก ููŠ ู‚ูˆู„ู‡ : ุฅู† ุงู„ู†ู‡ูŠ ูŠุฎุชุต ุจุฃู‡ู„ ู…ู†ู‰*

_“Kita *dilarang berpuasa* pada hari tasyrik, karena hari tasyrik adalah hari raya kaum muslimin, disamping hari raya qurban"_
(Lathaiful Ma’arif, hlm. 509).

*๐Ÿฝ Masih diperbolehkan menyembelih hewan qurban*


Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

*ูƒُู„ُّ ุฃَูŠَّุงู…ِ ุงู„ุชَّุดْุฑِูŠู‚ِ ุฐَุจْุญٌ*

_“Di setiap hari tasyrik, boleh menyembelih.”_ (HR. Ahmad, ibn Hibban, Ad-Daruquthni, dan yang lainnya).

*๐Ÿฝ Memperbanyak doa*


Abu Musa al-Asy’ari berceramah dalam khutbahnya ketika Idul Adha:

*ุจุนุฏ ูŠูˆู… ุงู„ู†ุญุฑ ุซู„ุงุซุฉ ุฃูŠุงู… ุงู„ุชูŠ ุฐูƒุฑ ุงู„ู„ู‡ ุงู„ุฃูŠุงู… ุงู„ู…ุนุฏูˆุฏุงุช ู„ุง ูŠุฑุฏ ููŠู‡ู† ุงู„ุฏุนุงุก ูุงุฑูุนูˆุง ุฑุบุจุชูƒู… ุฅู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนุฒ ูˆ ุฌู„*

_Setelah hari raya qurban ada tiga hari, dimana Allah menyebutnya sebagai *al-Ayyam al-Ma’dudat* (hari-hari yang terbilang), doa pada hari-hari ini tidak akan ditolak. Karena itu, perbesarlah harapan kalian_
 (Lathaiful Ma’arif, Hal. 506).

Ikrimah (murid Ibn Abbas) mengatakan:

*ูƒุงู† ูŠุณุชุญุจ ุฃู† ูŠู‚ุงู„ ููŠ ุฃูŠุงู… ุงู„ุชุดุฑูŠู‚ : { ุฑَุจَّู†َุง ุขุชِู†َุง ูِูŠ ุงู„ุฏُّู†ْูŠَุง ุญَุณَู†َุฉً ูˆَูِูŠ ุงู„ْุขุฎِุฑَุฉِ ุญَุณَู†َุฉً ูˆَู‚ِู†َุง ุนَุฐَุงุจَ ุงู„ู†َّุงุฑِ*

๐Ÿ‘‰๐ŸพDoa berikut dianjurkan untuk dibaca pada *Hari Tasyrik*:
_*RABBANAA  AATINAA  FID-DUN-YAA HASANAH WA FIL AA-KHIRATI HASANAH, WA QINAA ADZAABAN-NAAR*_ (Lathaiful Ma’arif, Hal. 505).

ุงู„ู„ู‡ ุงุนู„ู… ุจุงู„ุตูˆุงุจ
▪▪▪▪▪▪▪▪▪▪▪
*toFay*
*tamyiz online - Fourty hadiths A Year*

silahkan klik link pendaftaran *toFay4* (toFay Angkatan-4)

https://goo.gl/forms/BdQHfj5DAZRw5V2o1

Minggu, 05 Agustus 2018

FIQIH QURBAN



FIQIH QURBAN 





DAFTAR ISI

DAFTAR ISI ……………………………………………………………………………………………………………………….1














PENGANTAR


ุงู„ุณَّู„ุงَู…ُ ุนَู„َูŠْูƒُู…ْ ูˆَุฑَุญْู…َุฉُ ุงู„ู„ู‡ِ ูˆَุจَุฑَูƒَุงุชُู‡ُ
ุงู„ْุญَู…ْุฏُ ِู„ู„ู‡ِ ุงู„َّุฐِูŠْ ุฃَู†ْุนَู…َู†َุง ุจِู†ِุนْู…َุฉِ ุงْู„ุฅِูŠْู…َุงู†ِ ูˆَุงْู„ุฅِุณْู„ุงَู…ِ. ูˆَู†ُุตَู„ِّูŠْ ูˆَู†ُุณَู„ِّู…ُ ุนَู„َู‰ ุฎَูŠْุฑِ ุงْู„ุฃَู†َุงู…ِ ุณَูŠِّุฏِู†َุง ู…ُุญَู…َّุฏٍ ูˆَุนَู„َู‰ ุงَู„ِู‡ِ ูˆَุตَุญْุจِู‡ِ ุฃَุฌْู…َุนِูŠْู†َ ุฃَู…َّุง ุจَุนْุฏُ:
Ibadah qurban merupakan ritual ibadah yang  begitu agung dalam agama kita. Ia adalah perintah Allah dan Rosul-Nya Muhammad shollallahu ‘alaihi wa sallam yang sudah terpatri kuat didalam nash Al Qur’an dan Hadits. Ibadah qurban juga merupakan ibadah ittiba’ sunnah Kholilullah Nabi Ibrahim ‘Alaihi wa sallam.
Karena begitu agungnya ibadah ini maka sudah menjadi keharusan umat untuk mempersembahkan hewan qurban dengan sebagus mungkin. Untuk menentukan kualitas jenis hewan qurban, Islam telah mengaturnya secara detail dan terperinci. Seperti bagaimana memilih hewan yang tepat, etika penyembelihan, pembagian daging dan seterusnya.
Dalam kutaiyb ini penulis menghimpun beberapa aturan Islam mengenai ibadah qurban. Dalam penghimpunanya kami berporos pada kitab sohih fiqih sunnah karya Abu Malik Kamal Bin As- Sayyid Salim. Kemudian kami juga merujuk ke beberapa kitab fiqih terkemuka, seperti majmu’ syarh muadzab, fathul baari, dan lain sebagainya baik kitab klasik maupun kitab kontemporer.
Harapan penulis dari penghimpunan ini, semoga bisa mempermudah masyarakat, terutama jamaah di sekitar penulis, untuk bisa memahami hakikat ibadah qurban yang sesuai dengan tuntunan syariat.  
Al kamaalu muhaal li ghoiri dzil jalal, tidak ada kesempurnaan mutlaq kecuali milik
Allah SWT. Begitupun dalam penyusunan kutayb ini, tidak lepas dari salah dan kekurangan. Terlebih bertemakan fiqih pasti akan selalu ada perbedaan pandangan. Oleh keran itu penulis sangat terbuka untuk menerima saran dan masukan dari pembaca sekalian demi perbaikan diwaktu-waktu mendatang.   

Terakhir, penulis berharab semoga kutaiyb sederhana ini bisa membawa manfaat luas dan semoga ilmu yang termuat didalamnya bisa memberikan manfaat sehingga bisa menjadi amal jariyah kepada penulis dan pembaca sekalian. Amiin.

Jazakumullah khoiron”.

           

ูˆَุงู„ุณَّู„ุงَู…ُ ุนَู„َูŠْูƒُู…ْ ูˆَุฑَุญْู…َุฉُ ุงู„ู„ู‡ِ ูˆَุจَุฑَูƒَุงุชُู‡ُ
Bangkalan,  22/08/2017
                       
Penulis




              

DIFINISI UDHIYYAH / DOHIYYAH

Al Udhiyyah/dohiyyah adalah : Sesuatu yang disembelih dari binatang ternak (yang berupa unta, sapi, dan kambing) pada hari raya Idul Adha dan hari tasyriq (tanggal 11, 12, 13 Dzulhijah) bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan memenuhi persyaratan-persyaratan yang sudah ditentukan[1].

DALIL SYARIAT KURBAN


Syariat kurban berdasarkan nas Al Qur’an, As Sunnah dan Ijma.
1.   Al Qura’an. Firman Allah :
ูَุตَู„ِّ ู„ِุฑَุจِّูƒَ ูˆَุงู†ْุญَุฑْ (2)
      Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah.(Al Kautsar : 2)
2.   As Sunnah, Sabda Nabi SAW :
ุนَู†ْ ุฃَู†َุณٍ ู‚َุงู„َ ((ุถَุญَّู‰ ุงู„ู†َّุจِูŠُّ ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„َّู‡ُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ ุจِูƒَุจْุดَูŠْู†ِ ุฃَู…ْู„َุญَูŠْู†ِ ุฃَู‚ْุฑَู†َูŠْู†ِ ุฐَุจَุญَู‡ُู…َุง ุจِูŠَุฏِู‡ِ ูˆَุณَู…َّู‰ ูˆَูƒَุจَّุฑَ ูˆَูˆَุถَุนَ ุฑِุฌْู„َู‡ُ  ุนَู„َู‰ ุตِูَุงุญِู‡ِู…َุง))
Dari Anas dia berkata :
“((Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berkurban dengan dua ekor domba yang warna putihnya lebih dominan di banding warna hitamnya, dan bertanduk, beliau menyembelih domba tersebut dengan tangan beliau sendiri sambil menyebut nama Allah dan bertakbir dan meletakkan kaki beliau di atas rusuk domba tersebut))”. [Al Bukhori : 558].

3.     Semua umat islam sepakat akan syariatnya kurban[2].

HUKUM BERKURBAN


Para ulama berbeda pandangan tentang hukum kurban, paling tidak ada dua pendapat :
Ini adalah pendapat al Auza’I, Robiah, Abu Hanifah, al Laits, dan sebagian pengikut madzhab maliki. Adapun dalil-dalil yang mereka jadikan sandaran adalah sebagai berikut :
a.   ูَุตَู„ِّ ู„ِุฑَุจِّูƒَ ูˆَุงู†ْุญَุฑْ (2)       
“Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah”. (QS. Al Kautsar : 2)


b.       ุฌُู†ْุฏَุจَ ุจْู†َ ุณُูْูŠَุงู†َ ุงู„ْุจَุฌَู„ِูŠَّ ู‚َุงู„َ ุดَู‡ِุฏْุชُ ุงู„ู†َّุจِูŠَّ ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„َّู‡ُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ ูŠَูˆْู…َ ุงู„ู†َّุญْุฑِ ูَู‚َุงู„َ ((ู…َู†ْ ุฐَุจَุญَ ู‚َุจْู„َ ุฃَู†ْ ูŠُุตَู„ِّูŠَ ูَู„ْูŠُุนِุฏْ ู…َูƒَุงู†َู‡َุง ุฃُุฎْุฑَู‰ ูˆَู…َู†ْ ู„َู…ْ ูŠَุฐْุจَุญْ ูَู„ْูŠَุฐْุจَุญْ))
Jundab bin Sufyan Al Bajali] berkata; aku ikut menyaksikan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pada hari raya kurban, lalu beliau bersabda: “((Barangsiapa menyembelih binatang kurban sebelum shalat (iedul adlha), hendaknya ia mengulangi kurbannya, dan barangsiapa belum berkurban hendaknya ia berkurban))”. [Bukhori : 5562].

c.   ุญุฏูŠุซ ุงู„ْุจَุฑَุงุกِ ุฑَุถِูŠَ ุงู„ู„َّู‡ُ ุนَู†ْู‡ُ ู‚َุงู„َ، ูَู‚َุงู„َ ุฃَุจُูˆ ุจُุฑْุฏَุฉَ ูŠَุง ุฑَุณُูˆู„َ ุงู„ู„َّู‡ِ ุฐَุจَุญْุชُ ู‚َุจْู„َ ุฃَู†ْ ุฃُุตَู„ِّูŠَ ูˆَุนِู†ْุฏِูŠ ุฌَุฐَุนَุฉٌ ุฎَูŠْุฑٌ ู…ِู†ْ ู…ُุณِู†َّุฉٍ ูَู‚َุงู„َ ((ุงุฌْุนَู„ْู‡َุง ู…َูƒَุงู†َู‡َุง ูˆَู„َู†ْ ุชَุฌْุฒِูŠَ ุฃَูˆْ ุชُูˆูِูŠَ ุนَู†ْ ุฃَุญَุฏٍ ุจَุนْุฏَูƒَ))
Burdah mengatakan, Aku menyembelih sebelum sholat, sementara aku masih memiliki jad’ah (anak kambing yang berusia dua tahun) yang lebih baik daripada kambing muda, maka beliau bersabda: “Sembelihlah binatang kurban itu, namun hal itu tidak sah untuk orang lain setelahmu.” [Bukhori:5560].


Ini merupakan pendapat Jumhur Uama’ (Malik,  As Syafi’I, Ahmad, Ishaq, Abu Dawud, Ibnu Khuzaimah dan lain sebagainya). Berikut dasar haditsnya :

a.                                                                                                 ุฅِุฐَุง ุฏَุฎَู„َุชِ ุงู„ْุนَุดْุฑُ ูˆَุฃَุฑَุงุฏَ ุฃَุญَุฏُูƒُู…ْ ุฃَู†ْ ูŠُุถَุญِّูŠَ ูَู„ุงَ ูŠَู…َุณَّ ู…ِู†ْ ุดَุนْุฑِู‡ِ ูˆَุจَุดَุฑِู‡ِ ุดَูŠْุฆًุง
((Apabila sepuluh hari pertama (Dzulhijjah) telah masuk dan seseorang di antara kamu hendak berkurban, maka janganlah menyentuh rambut dan kulitnya sedikitpun)). [Muslim:1977].

Kata ุฃَุฑَุงุฏَ menunjukkan bahwa kurban itu sunnah tidak wajib.
b.      Banyak riwayat dari para sahabat yang menerangkan bahwasanya menyembelih kurban itu tidak wajib.
-          Dari Abi Sarikhah berkata, : “AKu melihat Abu Bakar dan Umar keduanya tidak menyembelih kurban [3]. Ia khawatir kalu disangkanya wajib[4].
-          Dari Abi Masu’ud Al Ansory, dia berkata : “Sungguh aku telah meninggalkan menyembelih kurban, padahal aku mampu, karena aku khawatir kalau disangka oleh tetanggaku kurban itu wajib bagiku [5].

HEWAN APAKAH YANG BOLEH DIKURBANKAN ???


ู„ِูŠَุฐْูƒُุฑُูˆุง ุงุณْู…َ ุงู„ู„َّู‡ِ ุนَู„َู‰ ู…َุง ุฑَุฒَู‚َู‡ُู…ْ ู…ِู†ْ ุจَู‡ِูŠู…َุฉِ ุงู„ْุฃَู†ْุนَุงู…ِ)) ((
"Supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzkikan Allah kepada mereka". [Al Haj : 34].
Berdasarkan ayat diatas Jumhur Ulama mengatakan : Tidak sah menyembelih hewan kurban kecuali dengan Al An’am. Yaitu : Onta, sapi, kambing dan domba/biri-biri. Lagipula juga tidak ada riwayat dari Nabi SAW bahwa beliau berqurban selain an’am[6].

ุนู† ุฌุงุจุฑ ู‚ุงู„ ู‚ุงู„ ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ู„ุง ุชุฐุจุญูˆุง ุฅู„ุง ู…ุณู†ุฉ ุฅู„ุง ุฃู† ูŠุนุณุฑ ุนู„ูŠูƒู… ูุชุฐุจุญูˆุง ุฌุฐุนุฉ ู…ู† ุงู„ุถุฃู†
Dari Jabir ra berkata, besabda Rosulullah SAW :
((Janganlah kalian menyembelih hewan kurban kecuali yang musinnah (umur 5 tahun untuk onta, 2 tahun untuk sapi, 1 tahun untuk kambing ) kecuali kalau sulit atas kamu maka sembelilhlah kambing jada’ah (domba enam bulan sampai satu tahun))”.
[Muslim 1963].

Perincian usia minimal hewan kurban :
1.      Onta, usia minimalnya adalah 5 tahun.
2.      Sapi, usia minimalya adalah 2 tahun.
3.      Kambing, usia minimalnya adalah 1 tahun.
4.      Domba, usia minimalnya adalah 6 bulan.


BOLEHKAH MENYEMBELIH KURBAN SELAIN AL AN’AM ?

Sudah menjadi ijma’ sebagian ulama’ bahwasanya berkurban tidak sah selain al an’am. Namun ada beberapa ulama seperti ibnu mundzir yang membolehkan berkurban dengan jenis banteng dan kadal. Begitu juga Dawud juga membolehkan berkurban dengan jenis banteng. Bahkan Ibnu Khazem membolehkan berkurban semua hewan yang dagingnya enak dimakan termasuk hewan disini yang berkaki empat dan unggas[7].

Mereka berdalil dengan riwayat perkataan Bilal bin Robbah R.A :
ู…ุง ูƒู†ุช ุฃุจุงู„ูŠ ู„ูˆ ุถุญูŠุช ุจุฏูŠูƒ...
Aku tidak peduli meski aku hanya berkurban dengan seekor ayam jantan [8].
Pendapat jumhur yang lebih terang[9].



 Jumhur Ulama’ mengatakan :                                                                                           Diperbolehkanya berserikat dalam hewan kurban jika itu adalah onta dan sapi. Setiap ekor untuk 7 orang. Sebagaimana hadits berikut [10]:

ุนู† ุฌุงุจุฑ ุจู† ุนุจุฏ ุงู„ู„ู‡ ู‚ุงู„ ู†ุญุฑู†ุง ู…ุน ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ุนุงู… ุงู„ุญุฏูŠุจูŠุฉ ุงู„ุจุฏู†ุฉ ุนู† ุณุจุนุฉ ูˆุงู„ุจู‚ุฑุฉ ุนู† ุณุจุนุฉ
Dari Jabir bin Abdillah dia berkata :
“Kami berkurban bersama Nabi SAW ditahun Hudaibiyyah dengan satu onta untuk 7 orang, dan satu sapi untuk 7 orang”. [Muslim :1328].

Catatan :
Untuk onta, sebagian ulma (Seperti Ibnu Khuzaimah) membolehkan berserikat satu onta dengan 10 orang. Dengan berdasar hadits berikut:  
ุนَู†ْ ุงุจْู†ِ ุนَุจَّุงุณٍ ู‚َุงู„َ ((ูƒُู†َّุง ู…َุนَ ุฑَุณُูˆู„ِ ุงู„ู„َّู‡ِ ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„َّู‡ُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ ูِูŠ ุณَูَุฑٍ ูَุญَุถَุฑَ ุงู„ْุฃَุถْุญَู‰ ูَุงุดْุชَุฑَูƒْู†َุง ูِูŠ ุงู„ْุจَู‚َุฑَุฉِ ุณَุจْุนَุฉً ูˆَูِูŠ ุงู„ْุจَุนِูŠุฑِ ุนَุดَุฑَุฉً))
Dari Ibnu Abbas dia berkata :
“((Kami dulu bersama Rosulullah SAW dalam suatu perjalanan, kemudian tibalah waktu hari raya kurban, maka kami berserikat tiap ekor sapi untuk 7 orang dan tiap ekor onta 10 orang))”. [At Tirmidzi:1501 dengan sanad hasan].

ูƒَุงู†َ ุฑَุณُูˆู„ُ ุงู„ู„َّู‡ِ ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„َّู‡ُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ ูŠَุฌْุนَู„ُ ูِูŠ ู‚َุณْู…ِ ุงู„ْุบَู†َุงุฆِู…ِ ุนَุดْุฑًุง ู…ِู†ْ ุงู„ุดَّุงุกِ ุจِุจَุนِูŠุฑٍ
“((Adalah Rosulullah SAW menjadikan dalam pembagian ghonimah untuk 10 kambing dengan 1 onta)).” [Bukhori : 2488].

ร˜ Jumhur ulama’ mengatakan : Boleh (sah kurbanya) para serikat kurban yang berbeda-beda niyat, ada yang niatnya untuk taqorrub illah, ada juga yang niatnya hanya untuk menikmati daging semata. Karena niat kurban dinilai dari masing-masing individu  pengkurban bukan dari niat orang lain[11].

SATU HEWAN QURBAN UNTUK SATU KELUARGA


ุนَู†ْ ุนَุงุฆِุดَุฉَ ุฃَู†َّ ุฑَุณُูˆู„َ ุงู„ู„َّู‡ِ ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„َّู‡ُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ َู‚َุงู„َ ู„َู‡َุง ((ูŠَุง ุนَุงุฆِุดَุฉُ ู‡َู„ُู…ِّูŠ ุงู„ْู…ُุฏْูŠَุฉَ)) ุซُู…َّ ู‚َุงู„َ(( ุงุดْุญَุฐِูŠู‡َุง ุจِุญَุฌَุฑٍ)) ูَูَุนَู„َุชْ. ุซُู…َّ ุฃَุฎَุฐَู‡َุง ูˆَุฃَุฎَุฐَ ุงู„ْูƒَุจْุดَ ูَุฃَุถْุฌَุนَู‡ُ ุซُู…َّ ุฐَุจَุญَู‡ُ ุซُู…َّ ู‚َุงู„َ)) ุจِุงุณْู…ِ ุงู„ู„َّู‡ِ ุงู„ู„َّู‡ُู…َّ ุชَู‚َุจَّู„ْ ู…ِู†ْ ู…ُุญَู…َّุฏٍ ูˆَุขู„ِ ู…ُุญَู…َّุฏٍ ูˆَู…ِู†ْ ุฃُู…َّุฉِ ู…ُุญَู…َّุฏٍ(( ุซُู…َّ ุถَุญَّู‰ ุจِู‡ِ.
Dari Aisyah ra bahwasnya Rosulllah SAW bersabda kepadnya :
“Wahai Aisyah, ambilkan pisau”, kemudian beliau bersabda lagi “Asahlah pisau itu dengan batu”. Maka Aisyah melaksanakan perintah tersebut. Kemudian Rosulullah SAW mengambil pisau itu dan mengambil domba, lalu membaringkanya dan menyembelihnya. Beliau membaaca doa “Dengan nama Allah, ya Allah terimalah (penyembelihan hewan kurban ini) dari Muhammad dan keluarga Muhammad dan umat Muhammad”. Beliau lalau menyembelihnya. [Muslim : 1967].


ุนู† ุนَุทَุงุกَ ุจْู†َ ูŠَุณَุงุฑٍ ูŠَู‚ُูˆู„ُ ุณَุฃَู„ْุชُ ุฃَุจَุง ุฃَูŠُّูˆุจَ ุงู„ْุฃَู†ْุตَุงุฑِูŠَّ ูƒَูŠْูَ ูƒَุงู†َุชْ ุงู„ุถَّุญَุงูŠَุง ุนَู„َู‰ ุนَู‡ْุฏِ ุฑَุณُูˆู„ِ  ุงู„ู„َّู‡ِ ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„َّู‡ُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ ูَู‚َุงู„َ ูƒَุงู†َ ุงู„ุฑَّุฌُู„ُ ูŠُุถَุญِّูŠ ุจِุงู„ุดَّุงุฉِ ุนَู†ْู‡ُ ูˆَุนَู†ْ ุฃَู‡ْู„ِ ุจَูŠْุชِู‡ِ ูَูŠَุฃْูƒُู„ُูˆู†َ ูˆَูŠُุทْุนِู…ُูˆู†َ ุญَุชَّู‰ ุชَุจَุงู‡َู‰ ุงู„ู†َّุงุณُ ูَุตَุงุฑَุชْ ูƒَู…َุง ุชَุฑَู‰
Dari ‘Atho’ bin Yasar berkata: “Aku bertanya kepada Abu Ayyub Al Ansory, Bagaimana kurban dizaman Nabi SAW, Maka menjawab ia: “Dahulu seorang berkurban untuk dirinya dan keluarganya, mereka makan dan menyedekahkannya. Sehingga manusia berlomba-lomba sehingga seperti yang engkau lihat”. [At Tirmidzi : 1505, Sohih].

Ini adalah pendapat Malik, As Syafi’I, dan Ahmad.

CACAT HEWAN KURBAN

Cacat hewan kurban dikelompokkan menjadi 3 kelompok:
Cacat yang menyebabkan tidak sah nya ibadah kurban ada 4 :
a.    Buta mata, yang jelas-jelas butanya.
b.    Terbukti jelas ada penyakit. Bilamana sakitnya hanya sakit ringan maka masih diperbolehkan.
c.    Pincang, yang jelas-jelas pincangnya, seperti patah kaki.
d.    Sangat kurus. Hingga hilang sumsumnya karena sangking kurusnya.
ุฃุฑْุจَุนٌ ู„ุงَ ุชَุฌُูˆุฒُ ูِู‰ ุงู„ุฃَุถَุงุญِู‰ ุงู„ْุนَูˆْุฑَุงุกُ ุจَูŠِّู†ٌ ุนَูˆَุฑُู‡َุง ูˆَุงู„ْู…َุฑِูŠุถَุฉُ ุจَูŠِّู†ٌ ู…َุฑَุถُู‡َุง ูˆَุงู„ْุนَุฑْุฌَุงุกُ ุจَูŠِّู†ٌ ุธَู„ْุนُู‡َุง ูˆَุงู„ْูƒَุณِูŠุฑُ ุงู„َّุชِู‰ ู„ุงَ ุชَู†ْู‚َู‰
Empat perkara yang tidak boleh ada di dalam hewan-hewan kurban; yaitu buta sebelah matanya yang jelas kebutaannya, pincang yang jelas pincangnya, sakit yang jelas sakitnya, dan pecah kakinya yang tidak memiliki sumsum. ‘Ubaid berkata; aku katakan kepada Al Bara`; Aku tidak suka pada giginya terdapat aib. Ia berkata; apa yang tidak engkau sukai maka tinggalkan dan janganlah engkau mengharamkannya kepada seseorang." [HR. Abu Dawud: 2420].

a.      Telinganya putus, atau bagian darinya hilang.
b.      Tanduknya patah.
Jumhur mengatakan : Boleh berkurban dengan hewan yang patah tandukny asalkan tidak mengalir darah. Imam Malik menjelaskan, kalau mengalir darah maka termasuk kategori sakit yang jelas.

a.      Tidak punya gigi (ompong),
b.      Tidak berekor,
c.       Terpotong hidungnya,
d.      Mandul dan lain sebagainya.
Sah berkurban dengan kecacatan seperti ini. Namu ada kalanagan ulama yang tidak menganggapnya sah[12]. Wallaua’lam bi sowab.
Berkurban dengan hewan yang dikebiri :
Tidak mengapa berkurban dengan hewanyang telah dikebiri. Berdasarkan hadits berikut [13]:
ุนَู†ْ ุฃَุจِูŠ ุงู„ุฏَّุฑْุฏَุงุกِ ุนَู†ْ ุฃَุจِูŠู‡ِ ู‚َุงู„َ:  ((ุถَุญَّู‰ ุฑَุณُูˆู„ُ ุงู„ู„َّู‡ِ ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„َّู‡ُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ ุจِูƒَุจْุดَูŠْู†ِ ุฌَุฐَุนَูŠْู†ِ ุฎَุตِูŠَّูŠْู†ِ))
Dari Abi Darda’ dari bapaknya dia berkata :
“((Rosulullah SAW berkurban dengan dua domba muda yang dikebiri))”.                   [HR. Ahmad : 20722].



KRITERIA HEWAN KURBAN IDEAL

1.        Hewan kurban yang ideal adalah yang berpawakan gemuk dan sempurna. Karena yang diambil adalah dagingnya maka jika hewan kurbanya gemuk itu lebih afdol daripada hewan yang kurus. Berdasarkan keterangan berikut :

a.                                                                                                                                       ุฐَู„ِูƒَ ูˆَู…َู†ْ ูŠُุนَุธِّู…ْ ุดَุนَุงุฆِุฑَ ุงู„ู„َّู‡ِ ูَุฅِู†َّู‡َุง ู…ِู†ْ ุชَู‚ْูˆَู‰ ุงู„ْู‚ُู„ُูˆุจِ (32)
“Demikianlah (perintah Allah). Dan barang siapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati”. [Al Haj : 32].

Berdasarkan ayat ini Al Imam As Syafi’i berpendapat akan mustahabnya (disukainya) mengagungkan dan menggemukkan hewan hadiyah / kurban[14].

b.                                                                               ุนู† ุฃุจูŠ ุฃُู…َุงู…َุฉَ ุจْู†َ ุณَู‡ْู„ٍ ู‚َุงู„َ ูƒُู†َّุง ู†ُุณَู…ِّู†ُ ุงู„ْุฃُุถْุญِูŠَّุฉَ ุจِุงู„ْู…َุฏِูŠู†َุฉِ ูˆَูƒَุงู†َ ุงู„ْู…ُุณْู„ِู…ُูˆู†َ ูŠُุณَู…ِّู†ُูˆู†
Dari Abi Umamah bin Sahl berkata :
“((Kami dulu menggemukkan hewan kurban dimadinah, dan muslimin yang lain juga menggemukanya))”.
[Bukhori : 12/10 dengan sanad yang hasan].
2.        Jumhur berpendapat paling afdolnya hewan qurban adalah : Onta, sapi, kemudian kambing. Berdasarkan hadits berikut :

ุนَู†ْ ุฃَุจِูŠ ู‡ُุฑَูŠْุฑَุฉَ ุฑَุถِูŠَ ุงู„ู„َّู‡ُ ุนَู†ْู‡ُ ุฃَู†َّ ุฑَุณُูˆู„َ ุงู„ู„َّู‡ِ ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„َّู‡ُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ ู‚َุงู„َ ู…َู†ْ ุงุบْุชَุณَู„َ ูŠَูˆْู…َ ุงู„ْุฌُู…ُุนَุฉِ ุบُุณْู„َ ุงู„ْุฌَู†َุงุจَุฉِ ุซُู…َّ ุฑَุงุญَ ูَูƒَุฃَู†َّู…َุง ู‚َุฑَّุจَ ุจَุฏَู†َุฉً ูˆَู…َู†ْ ุฑَุงุญَ ูِูŠ ุงู„ุณَّุงุนَุฉِ ุงู„ุซَّุงู†ِูŠَุฉِ ูَูƒَุฃَู†َّู…َุง ู‚َุฑَّุจَ ุจَู‚َุฑَุฉً ูˆَู…َู†ْ ุฑَุงุญَ ูِูŠ ุงู„ุณَّุงุนَุฉِ ุงู„ุซَّุงู„ِุซَุฉِ ูَูƒَุฃَู†َّู…َุง ู‚َุฑَّุจَ ูƒَุจْุดًุง ุฃَู‚ْุฑَู†َ ูˆَู…َู†ْ ุฑَุงุญَ ูِูŠ ุงู„ุณَّุงุนَุฉِ ุงู„ุฑَّุงุจِุนَุฉِ ูَูƒَุฃَู†َّู…َุง ู‚َุฑَّุจَ ุฏَุฌَุงุฌَุฉً ูˆَู…َู†ْ ุฑَุงุญَ ูِูŠ ุงู„ุณَّุงุนَุฉِ ุงู„ْุฎَุงู…ِุณَุฉِ ูَูƒَุฃَู†َّู…َุง ู‚َุฑَّุจَ ุจَูŠْุถَุฉً ูَุฅِุฐَุง ุฎَุฑَุฌَ ุงู„ْุฅِู…َุงู…ُ ุญَุถَุฑَุชْ ุงู„ْู…َู„َุงุฆِูƒَุฉُ ูŠَุณْุชَู…ِุนُูˆู†َ ุงู„ุฐِّูƒْุฑَ.
Dari Abu Hurairah RA bahwasanya Rasulullah SAW bersabda :
“((Barangsiapa mandi pada hari Jumat seperti ia mandi junub, kemudian berangkat ke masjid di awal waktu maka ia seperti orang yang berkurban seekor unta. Barangsiapa berangkat ke masjid di waktu kedua, maka ia seperti orang yang berkurban seekor sapi. Barangsiapa berangkat ke masjid di waktu ketiga, maka ia seperti orang yang berkurban seekor kambing yang memiliki tanduk. Barangsiapa berangkat ke masjid di waktu keempat, maka ia seperti orang yang berkurban seekor ayam. Barangsiapa berangkat ke masjid di waktu kelima, maka ia seperti orang yang berkurban sebutir telur. Jika imam (khatib) telah keluar (naik ke mimbar), maka para malaikat hadir untuk mendengarkan dzikir (khutbah Jum’at) ))”. [Bukhori : 2518].

Sedangkan pengikut madzhab Malik mengatakan paling afdol nya kurban adalah domba, kemudian sapi, baru onta. Karena berdasarkan urutan lezatnya daging. Dan juga berdasarkan hadits berikut :
ุนَู†ْ ุฃَู†َุณٍ ู‚َุงู„َ ((ุถَุญَّู‰ ุงู„ู†َّุจِูŠُّ ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„َّู‡ُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ ุจِูƒَุจْุดَูŠْู†ِ ุฃَู…ْู„َุญَูŠْู†ِ ุฃَู‚ْุฑَู†َูŠْู†ِ ุฐَุจَุญَู‡ُู…َุง ุจِูŠَุฏِู‡ِ ูˆَุณَู…َّู‰ ูˆَูƒَุจَّุฑَ ูˆَูˆَุถَุนَ ุฑِุฌْู„َู‡ُ ุนَู„َู‰ ุตِูَุงุญِู‡ِู…َุง))
Dari [Qatadah] dari [Anas] dia berkata :
“Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berkurban dengan dua ekor domba yang warna putihnya lebih dominan di banding warna hitamnya, dan bertanduk, beliau menyembelih domba tersebut dengan tangan beliau sendiri sambil menyebut nama Allah dan bertakbir dan meletakkan kaki beliau di atas rusuk domba tersebut”.
[Bukhori : 5558].
3.        Hewan berwarna putih, kemudian hitam.
ุจِูƒَุจْุดَูŠْู†ِ ุฃَู…ْู„َุญَูŠْู†ِ...))…))
“((dua ekor domba yang warna putih  bersih))”

ุนَู†ْ ุนَุงุฆِุดَุฉَ ู†َّ ุฑَุณُูˆู„َ ุงู„ู„َّู‡ِ ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„َّู‡ُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ ุฃَู…َุฑَ ุจِูƒَุจْุดٍ ุฃَู‚ْุฑَู†َ ูŠَุทَุฃُ ูِูŠ ุณَูˆَุงุฏٍ ูˆَูŠَุจْุฑُูƒُ ูِูŠ ุณَูˆَุงุฏٍ ูˆَูŠَู†ْุธُุฑُ ูِูŠ ุฃَ ุณَูˆَุงุฏٍ ูَุฃُุชِูŠَ ุจِู‡ِ ู„ِูŠُุถَุญِّูŠَ ุจِู‡ِ
Dari Aisyah R.A, “bahwasanya Rosulullah SAW memerintahkan untuk dibawakan domba yang bertanduk, berkaki hitam, perutnya hitam dan sekitar matanya berwarna hitam. Kemudian beliau diberi seperti itu lalu berkurban denganya.
(Muslim : 1967)”.
4.       Jantan lebih utama daripada betina. Kesimpulan ini diambil dari keumuman sabda Nabi SAW.
ุนَู†ْ ุฃَุจِูŠ ุฐَุฑٍّ ุฑَุถِูŠَ ุงู„ู„َّู‡ُ ุนَู†ْู‡ُ ู‚َุงู„َ, ุณَุฃَู„ْุชُ ุงู„ู†َّุจِูŠَّ ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„َّู‡ُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ ูَุฃَูŠُّ ุงู„ุฑِّู‚َุงุจِ ุฃَูْุถَู„ُ ู‚َุงู„َ   ((ุฃَุนْู„َุงู‡َุง ุซَู…َู†ًุง ูˆَุฃَู†ْูَุณُู‡َุง ุนِู†ْุฏَ ุฃَู‡ْู„ِู‡َุง...))
Dari Abi Dzar ia berkata :
Aku bertanya kepada Nabi SAW. Budak yang bagaimanakah yang paling utama?  Beliau menjawab ((Paling tingginya harga dan paling disayangi keluarganya)). [Muslim : 2518].

TEKNIS PENYEMBELIHAN HEWAN


1.        Hendaknya yang menyembelih adalah shohibul qurban sendiri, jika dia mampu. Jika tidak maka bisa diwakilkan orang lain, dan shohibul qurban disyariatkan untuk ikut menyaksikan.
ุนู† ุนู…ุฑุงู† ุจู† ุงู„ุญุตูŠู† ู‚ุงู„ : ู‚ุงู„ ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… : « ูŠุง ูุงุทู…ุฉ ู‚ูˆู…ูŠ ูุงุดู‡ุฏูŠ ุฃุถุญูŠุชูƒ ، ูุฅู†ู‡ ูŠุบูุฑ ู„ูƒ ุจูƒู„ ู‚ุทุฑุฉ ู…ู† ุฏู…ู‡ุง ูƒู„ ุฐู†ุจ ุนู…ู„ุชูŠู‡ ، ูˆู‚ูˆู„ูŠ : ุฅู† ุตู„ุงุชูŠ ูˆู†ุณูƒูŠ ูˆู…ุญูŠุงูŠ ูˆู…ู…ุงุชูŠ ู„ู„ู‡ ุฑุจ ุงู„ุนุงู„ู…ูŠู† ، ู„ุง ุดุฑูŠูƒ ู„ู‡ ، ูˆุจุฐู„ูƒ ุฃู…ุฑุช ูˆุฃู†ุง ุฃูˆู„ ุงู„ู…ุณู„ู…ูŠู† » ูู‚ุงู„ ุนู…ุฑุงู† : ูŠุง ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ، ู‡ุฐุง ู„ูƒ ูˆู„ุฃู‡ู„ ุจูŠุชูƒ ุฎุงุตุฉ ،  ุฃู… ู„ู„ู…ุณู„ู…ูŠู† ุนุงู…ุฉ ؟ ู‚ุงู„ : « ุจู„ ู„ู„ู…ุณู„ู…ูŠู† ุนุงู…ุฉ »
Dari Imron bin Khusain dia berkata : Bersabda Rosulullah SAW :
((Wahai Fatimah berdirilah, saksikanlah kurbanmu, sesungguhnya tiap darah yang menetes menghapus dosa yang telah kamu perbuat. Kemudian katakana : “sesungguhnya sholatku, kurbanku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagiNya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)." (QS : Al An’am : 162-163). Berkata Imron : Duhai Rosulullah, ini untuk engkau dan keluarga engkau saja atau untuk muslimin semuanya??. Beliau menjawab ((bahkan untuk muslimin semuanya)). [Mu’jamul Ausath li Tobaroni : 6/65/2609].
2.       Gunakan pisau yang setajam mungkin. Semakin tajam, semakin baik. Ini berdasarkan hadits dari Syaddad bin Aus radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
ุฅِู†َّ ุงู„ู„َّู‡َ ูƒَุชَุจَ ุงู„ุฅِุญْุณَุงู†َ ุนَู„َู‰ ูƒُู„ِّ ุดَู‰ْุกٍ ูَุฅِุฐَุง ู‚َุชَู„ْุชُู…ْ ูَุฃَุญْุณِู†ُูˆุง ุงู„ْู‚ِุชْู„َุฉَ ูˆَุฅِุฐَุง ุฐَุจَุญْุชُู…ْ ูَุฃَุญْุณِู†ُูˆุง ุงู„ุฐَّุจْุญ ูˆَ ู„ูŠُุญِุฏَّ ุฃَุญَุฏُูƒُู…ْ ุดَูْุฑَุชَู‡ُ ูَู„ْูŠُุฑِุญْ ุฐَุจِูŠุญَุชَู‡ُ
“Sesungguhnya Allah mewajibkan berbuat ihsan dalam segala hal. Jika kalian membunuh maka bunuhlah dengan ihsan, jika kalian menyembelih, sembelihlah dengan ihsan. Hendaknya kalian mempertajam pisaunya dan menyenangkan sembelihannya”. [HR. Muslim].
3.        Tidak mengasah pisau dihadapan hewan yang akan disembelih. Karena ini akan menyebabkan dia ketakutan sebelum disembelih. Berdasarkan hadits dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma :
ุฃَู…َุฑَ ุฑَุณُูˆู„ُ ุงู„ู„َّู‡ِ ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„َّู‡ُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ ุจِุญَุฏِّ ุงู„ุดِّูَุงุฑِ ، ูˆَุฃَู†ْ ุชُูˆَุงุฑَู‰ ุนَู†ِ ุงู„ْุจَู‡َุงุฆِู…ِ
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk mengasah pisau, tanpa memperlihatkannya kepada hewan”. (HR. Ahmad, Ibnu Majah ).
Dalam riwayat yang lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melewati seseorang yang meletakkan kakinya di leher kambing, kemudian dia menajamkan pisaunya, sementar binatang itu melihatnya. Lalu beliau bersabda (artinya): “Mengapa engkau tidak menajamkannya sebelum ini ?! Apakah engkau ingin mematikannya sebanyak dua kali?!.” (HR. Ath-Thabrani dengan sanad sahih).
4.       Menghadapkan hewan ke arah kiblat. Hewan yang hendak disembelih dihadapkan ke kiblat pada posisi tempat organ yang akan disembelih (lehernya) bukan wajahnya. Karena itulah arah untuk mendekatkan diri kepada Allah. (Mausu’ah Fiqhiyah Kuwaitiyah, 21:196). Dengan demikian, cara yang tepat untuk menghadapkan hewan ke arah kiblat ketika menyembelih adalah dengan memosisikan kepala di Selatan, kaki di Barat, dan leher menghadap ke Barat.

5.      Membaringkan hewan di atas lambung sebelah kiri. Imam An-Nawawi mengatakan: “Terdapat beberapa hadits tentang membaringkan hewan (tidak disembelih dengan berdiri) dan kaum muslimin juga sepakat dengan hal ini. Para ulama sepakat, bahwa cara membaringkan hewan yang benar adalah ke arah kiri. Karena ini akan memudahkan penyembelih untuk memotong hewan dengan tangan kanan dan memegangi leher dengan tangan kiri”. (Mausu’ah Fiqhiyah Kuwaitiyah, 21:197).
6.        Menginjakkan kaki di leher hewan. Sebagaimana disebutkan dalam hadits dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, beliau mengatakan: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berqurban dengan dua ekor domba. Aku lihat beliau meletakkan kaki beliau di leher hewan tersebut, kemudian membaca basmalah”. (HR. Bukhari dan Muslim).
7.        Bacaan ketika hendak menyembelih. Beberapa saat sebelum menyembelih, harus membaca basmalah. Ini hukumnya wajib, menurut pendapat yang kuat. Allah berfirman:
ูˆَ ู„ุงَ ุชَุฃْูƒُู„ُูˆุงْ ู…ِู…َّุง ู„َู…ْ ูŠُุฐْูƒَุฑِ ุงุณْู…ُ ุงู„ู„ู‡ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุฅِู†َّู‡ُ ู„َูِุณْู‚ٌ
“Janganlah kamu memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya. Sesungguhnya perbuatan yang semacam itu adalah suatu kefasikan”. [QS. Al-An’am: 121].
8.        Dianjurkan untuk membaca takbir (Allahu akbar) setelah membaca basmalah
Dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, ((bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menyembelih dua ekor domba bertanduk,…beliau sembelih dengan tangannya, dan baca basmalah serta bertakbir….)) (HR. Al Bukhari dan Muslim).
9.        Pada saat menyembelih dianjurkan menyebut nama orang yang jadi tujuan diqurbankannya hewan tersebut. Dari Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhuma, bahwa suatu ketika didatangkan seekor domba. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyembelih dengan tangan beliau. Ketika menyembelih beliau mengucapkan :
(( ุจِุณْู…ِ ุงู„ู„َّู‡ِ ูˆَุงู„ู„َّู‡ُ ุฃَูƒْุจَุฑُ ู‡َุฐَุง ุนَู†ِّูŠ ูˆَุนَู…َّู†ْ ู„َู…ْ ูŠُุถَุญِّ ู…ِู†ْ ุฃُู…َّุชِูŠ))
‘‘bismillah wallaahu akbar, ini qurban atas namaku dan atas nama orang yang tidak berqurban dari umatku”. [HR. Abu Daud, At-Turmudzi dan].

Setelah membaca bismillah Allahu akbar, dibolehkan juga apabila disertai dengan bacaan berikut:
ุจِุณْู…ِ ุงู„ู„ู‡ِ ูˆَุงู„ู„ู‡ُ ุฃَูƒْุจَุฑُ ุงَู„ู„َّู‡ُู…َّ ู‡َุฐَุง ู…ِู†ْูƒَ ูˆَู„َูƒَ
“Dengan nama Allah, Allah Maha besar, Ya Allah ini dari Engkau dan untuk Engkau”. [HR. Abu Dawud, no. 2795].
Atau. Jika yang menyembelih bukan shohibul qurban atau berdoa agar Allah menerima qurbannya dengan doa : “Allahumma Taqobbal min”. “Ya Allah terimalah dari” (disebutkan nama shohibul qurban).
ุจุณْู…ِ ุงَู„ู„َّู‡ِ, ุงَู„ู„َّู‡ُู…َّ ุชَู‚َุจَّู„ْ ู…ِู†ْ ู…ُุญَู…َّุฏٍ ูˆَุขู„ِ ู…ُุญَู…َّุฏٍ, ูˆَู…ِู†ْ ุฃُู…ّุฉِ ู…ُุญَู…َّุฏٍ

        “Dengan menyebut nama Allah, Ya Allah terimalah kurban ini dari Muhammad, keluarga Muhammad dan umat Muhammad”.
[HR. Muslim no. 1967].
10.    Disembelih dengan cepat untuk meringankan apa sakit hewan kurban. Sebagaimana hadits dari Syaddad bin Aus di atas.
11.    Pastikan bahwa bagian Al-Hulqum (tenggorokan), Al-Mari` (kerongkongan), Al-Wadjan (dua urat leher kanan-kiri) telah pasti terpotong. (Salatul Idain karya Syekh Sa’id Al-Qohthoni).

12.    Sebagian ulama menganjurkan agar membiarkan kaki kanan bergerak, sehingga  hewan lebih cepat meregang nyawa. Imam An-Nawawi mengatakan : “Dianjurkan untuk membaringkan sapi dan kambing ke arah kiri. Demikian keterangan dari Al-Baghawi dan ulama Madzhab Syafi’i. Mereka mengatakan, “Kaki kanannya dibiarkan…(Al-Majmu’ Syarh Muhadzab, 8:408).

13.    Tidak boleh mematahkan leher sebelum hewan benar-benar mati. Para ulama menegaskan, perbuatan semacam ini hukumnya dibenci. Karena akan semakin menambah rasa sakit hewan qurban. Demikian pula menguliti binatang, memasukkannya ke dalam air panas dan semacamnya. Semua ini tidak boleh dilakukan kecuali setelah dipastikan hewan itu benar-benar telah mati.

Para ulama menegaskan makruhnya memutus kepala ketika menyembelih dengan sengaja. Khalil bin Ishaq dalam Mukhtashar-nya untuk Fiqih Maliki, ketika menyebutkan hal-hal yang dimakruhkan pada saat menyembelih, beliau mengatakan: “Diantara yang makruh adalah secara sengaja memutus kepala” (Fatawa Syabakah Islamiyah, no. 93893).

Pendapat yang kuat bahwa hewan yang putus kepalanya ketika disembelih hukumnya halal. Imam Al-Mawardi –salah satu ulama Madzhab Syafi’i– mengatakan, “Diriwayatkan dari Imran bin Husain radhiallahu ‘anhu, bahwa beliau ditanya tentang menyembelih burung sampai putus lehernya? Sahabat Imran menjawab, ‘boleh dimakan”. Imam Syafi’i mengatakan, “Jika ada orang menyembelih, kemudian memutus kepalanya maka statusnya sembelihannya sah” (Al-Hawi Al Kabir, 15:224).
Catatan :
Khusus onta ada tehnik penyembelihanya tersendiri. Tehnik penyembelihan ini biasa diistilahakan dengan an nahr ((ุงู„ู†ุญ.
An-Nahr secara bahasa artinya menusuk binatang di bagian pangkal lehernya (tempat kalung). Ini merupakan cara yang digunakan dalam menyembelih onta. Karena onta terlalu sulit untuk disembelih di bagian ujung leher. (Al-Qamus Al Muhit, kata: An Nahr).
Tehniknya adalah, mengikat salah satu kaki depan onta, kemudian ditusuk dengan alat runcing pada bagian antara leher dan dada. Setelah itu biarkan onta terjatuh dan mati dengan sendirinya.
Tehnik ini tercantum dalam al Quran dan hadits Nabawi :

ูˆَุงู„ْุจُุฏْู†َ ุฌَุนَู„ْู†َุงู‡َุง ู„َูƒُู… ู…ِّู† ุดَุนَุงุฆِุฑِ ุงู„ู„ู‡ ู„َูƒُู…ْ ูِูŠู‡َุง ุฎَูŠْุฑٌ ูَุงุฐْูƒُุฑُูˆุง ุงุณْู…َ ุงู„ู„ู‡ ุนَู„َูŠْู‡َุง ุตَูˆَุงูَّ ูَุฅِุฐَุง ูˆَุฌَุจَุชْ ุฌُู†ُูˆุจُู‡َุง ูَูƒُู„ُูˆุง
“Telah Kami jadikan untuk kamu unta-unta itu bagian dari syiar Allah, kamu memperoleh kebaikan yang banyak padanya, maka sebutlah nama Allah ketika kamu menyembelihnya dalam keadaan berdiri (dan telah terikat). Kemudian apabila telah roboh (mati), maka makanlah”. [QS. Al Haj: 36].


Dari Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhuma, beliau mengatakan, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat menyembelih unta dengan posisi kaki kiri depan diikat dan berdiri dengan tiga kaki sisanya. (HR. Abu daud, sohih).

LARANGAN MEMOTONG KUKU DAN RAMBUT BAGI ORANG YANG HENDAK BERKURBAN


ุนَู†ْ ุฃُู…َّ ุณَู„َู…َุฉَ ุฒَูˆْุฌَ ุงู„ู†َّุจِูŠِّ ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„َّู‡ُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ ุชَู‚ُูˆู„ُ ู‚َุงู„َ ุฑَุณُูˆู„ُ ุงู„ู„َّู‡ِ ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„َّู‡ُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ ((ู…َู†ْ ูƒَุงู†َ ู„َู‡ُ ุฐِุจْุญٌ ูŠَุฐْุจَุญُู‡ُ ูَุฅِุฐَุง ุฃُู‡ِู„َّ ู‡ِู„َุงู„ُ ุฐِูŠ ุงู„ْุญِุฌَّุฉِ ูَู„َุง ูŠَุฃْุฎُุฐَู†َّ ู…ِู†ْ ุดَุนْุฑِู‡ِ ูˆَู„َุง ู…ِู†ْ ุฃَุธْูَุงุฑِู‡ِ ุดَูŠْุฆًุง ุญَุชَّู‰ ูŠُุถَุญِّูŠَ))
Dari Ummu Salamah istri Nabi SAW berkata, bersabda Rosulullah SAW:
“((Barang siapa yang mau punya binatang kurban yang ingin dikurbankan, dan sudah masuk hilal Dzulhijjah, maka jangan sekali-kali memotong dari rambut dan kukunya sedikitpun hingga dia menyembelih))”. [Muslim :  3656].

Keterangan :
1.      Maksud larangan meotong kuku termasuk disitu mencopotnya, memecahkanya dan lain sebagainya. Begitu juga tdengan rambut, larangan ini mencakup semua rambut yang ada pada tubuh manusia. Semuanya dilarang untuk di potong dan dicabut.
2.      Hikmah dalam larangan ini adalah supaya totalitas seluruh bagian badan kita dibersihkan dari api neraka (dengan adanya ibadah kurban ini) [15].

WAKTU MENYEMBELIH KURBAN

Para ulama sepakat bahwasanya menyembelih kurban tidak boleh sebelum matahari terbit pada hari penyembelihan[16].

ุนَู†ْ ุฃَู†َุณِ ุจْู†ِ ู…َุงู„ِูƒٍ ุฑَุถِูŠَ ุงู„ู„َّู‡ُ ุนَู†ْู‡ُ ู‚َุงู„َ ู‚َุงู„َ ุงู„ู†َّุจِูŠُّ ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„َّู‡ُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ ))ู…َู†ْ ุฐَุจَุญَ ู‚َุจْู„َ ุงู„ุตَّู„َุงุฉِ ูَุฅِู†َّู…َุง ุฐَุจَุญَ ู„ِู†َูْุณِู‡ِ ูˆَู…َู†ْ ุฐَุจَุญَ ุจَุนْุฏَ ุงู„ุตَّู„َุงุฉِ ูَู‚َุฏْ ุชَู…َّ ู†ُุณُูƒُู‡ُ ูˆَุฃَุตَุงุจَ ุณُู†َّุฉَ ุงู„ْู…ُุณْู„ِู…ِูŠู†َ((

Dari Anas bin Malik ra berkata, bersabda Nabi SAW :
“Siapa yang menyembelih sebelum solat(ied) maka dia berkorban untuk dirinya sendiri, dan siapa yang menyembelih setelah solat (ied) maka sungguh kurbanya telah sempurna dan bersesuaian dengan sunnah kaum muslimin”. [Bukhori : 5546].

Berkata As Syafi’I, Abu Dawud, Ibnu Mundzir, dan ulama’-ulama laninya : “Sudah masuk waktu menyembelih kurban jika telah terbit matahari sekitar setelah solat ied dan 2 khotbahnya selesai. Bila ada yang menyembelih kurban setelah waktu tersebut maka telah sah kurbanya, baik ikut mengerjakan sholat (ied) ataupun tidak[17].


BATAS AKHIR WAKTU KURBAN

Pendapat yang paling kuat tentang batas waktu berkurba adalah sampai pada akhir hari tasyrik yaitu pada tanggal 13 dzulhijjah. Meskipun langkah yang berhati-hati adalah mengerjakan kurban pas dihari adha itu[18].
Hadits yang telah tsabit dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam : (bahwa) beliau bersabda : (yang artinya) :  Setiap hari Tasyriq ada sembelihan[19].




TEMPAT MENYEMBELIH HEWAN KURBAN

Menyembelih hewan kurban boleh ditempat mana saja yang dikehendaki. Sedangkan apa yang dikerjakan oleh Rosulullah SAW menyembelih di tempat sholat. Sebagaimana hadits berikut :
ุนَู†ْ ุงุจْู† ุนُู…َุฑَ ุฑَุถِูŠَ ุงู„ู„َّู‡ُ ุนَู†ْู‡ُู…َุง ู‚َุงู„َ ((ูƒَุงู†َ ุฑَุณُูˆู„ُ ุงู„ู„َّู‡ِ ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„َّู‡ُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ ูŠَุฐْุจَุญُ ูˆَูŠَู†ْุญَุฑُ ุจِุงู„ْู…ُุตَู„َّู‰))
Dari Ibnu Umar dia berkata :
“Adalah Rosulullah SAW menyembelih kurban di tempat sholatnya”. [Bukhori : 5552].


HARUS DIKEMANAKAN DAGING KURBAN ??

Daging kurban sebagaimana yang diajarkan oleh Rosulullah SAW dibagi menjadi 3 bagian :
1.    Dimakan
2.    Disedekahkan untuk orang miskin
3.    Disimpan.
ู„ِูŠَุดْู‡َุฏُูˆุง ู…َู†َุงูِุนَ ู„َู‡ُู…ْ ูˆَูŠَุฐْูƒُุฑُูˆุง ุงุณْู…َ ุงู„ู„َّู‡ِ ูِูŠ ุฃَูŠَّุงู…ٍ ู…َุนْู„ُูˆู…َุงุชٍ ุนَู„َู‰ ู…َุง ุฑَุฒَู‚َู‡ُู…ْ ู…ِู†ْ ุจَู‡ِูŠู…َุฉِ ุงู„ْุฃَู†ْุนَุงู…ِ ูَูƒُู„ُูˆุง ู…ِู†ْู‡َุง ูˆَุฃَุทْุนِู…ُูˆุง ุงู„ْุจَุงุฆِุณَ ุงู„ْูَู‚ِูŠุฑَ (28)
“Supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak. Maka makanlah sebagian daripadanya dan (sebagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir”. [QS : Al Haj : 28].

ุนَู†ْ ุณَู„َู…َุฉَ ุจْู†ِ ุงู„ْุฃَูƒْูˆَุนِ ู‚َุงู„َ :ู‚َุงู„َ ุงู„ู†َّุจِูŠُّ ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„َّู‡ُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ:  ))ู…َู†ْ ุถَุญَّู‰ ู…ِู†ْูƒُู…ْ ูَู„َุง ูŠُุตْุจِุญَู†َّ ุจَุนْุฏَ ุซَุงู„ِุซَุฉٍ ูˆَุจَู‚ِูŠَ ูِูŠ ุจَูŠْุชِู‡ِ ู…ِู†ْู‡ُ ุดَูŠْุกٌ  ูَู„َู…َّุง ูƒَุงู†َ ุงู„ْุนَุงู…ُ ุงู„ْู…ُู‚ْุจِู„ُ ู‚َุงู„ُูˆุง ูŠَุง ุฑَุณُูˆู„َ ุงู„ู„َّู‡ِ ู†َูْุนَู„ُ ูƒَู…َุง ูَุนَู„ْู†َุง ุนَุงู…َ ุงู„ْู…َุงุถِูŠ ู‚َุงู„َ))ูƒُู„ُูˆุง ูˆَุฃَุทْุนِู…ُูˆุง ูˆَุงุฏَّุฎِุฑُูˆุง ูَุฅِู†َّ ุฐَู„ِูƒَ ุงู„ْุนَุงู…َ ูƒَุงู†َ ุจِุงู„ู†َّุงุณِ ุฌَู‡ْุฏٌ ูَุฃَุฑَุฏْุชُ ุฃَู†ْ ุชُุนِูŠู†ُูˆุง ูِูŠู‡َุง.((
Dari [Salamah bin Al Akwa'] dia berkata; Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
“Siapa saja di antara kalian yang berkurban, janganlah menyisakan daging kurban di rumahnya melebihi tiga hari)). Pada tahun berikutnya orang-orang bertanya; "Wahai Rasulullah, apakah kami harus melakukan sebagaimana yang kami lakukan pada tahun lalu?" beliau bersabda: ((Makanlah daging kurban tersebut dan bagilah sebagiannya kepada orang lain serta simpanlah sebagian yang lain, sebab tahun lalu orang-orang dalam keadaan kesusahan, oleh karena itu saya bermaksud supaya kalian dapat membantu mereka”. [Bukhori : 5569].


Menurut jumhur ulama perintah nabi untuk memakan daging kurban, menyedekahkanya dan menyimpanya bersifat li nadeb (disukai) tidak merupakan kewajiban[20].
Tidak ada ketentuan pembagian daging kurban. Sedangkan atsar yang menerangkan 1/3 disedekahkan, 1/3 untuk dikonsumsi dan 1/3 disimpan merupakan atsar yang dhoif.  Ringkasnya daging kurban boleh dibagi sekehendak pembagi. Bahkan untuk disedekahkan semuanya pun diperbolehkan, sebagaimana hadits berikut [21]:
ุนَู†ْ ุนَู„ِูŠّ ุฑَุถِูŠَ ุงู„ู„َّู‡ُ ุนَู†ْู‡ُ(( ุฃَู†َّ ุงู„ู†َّุจِูŠَّ ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„َّู‡ُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ ุฃَู…َุฑَู‡ُ ุฃَู†ْ ูŠَู‚ُูˆู…َ ุนَู„َู‰ ุจُุฏْู†ِู‡ِ ูˆَุฃَู†ْ ูŠَู‚ْุณِู…َ ุจُุฏْู†َู‡ُ ูƒُู„َّู‡َุง ู„ُุญُูˆู…َู‡َุง ูˆَุฌُู„ُูˆุฏَู‡َุง ูˆَุฌِู„َุงู„َู‡َุง ูˆَู„َุง ูŠُุนْุทِูŠَ ูِูŠ ุฌِุฒَุงุฑَุชِู‡َุง ุดَูŠْุฆًุง))
Dari Ali ra (( Bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam memerintahkan kepadanya agar dia berada (menyaksikan hewan qurbannya) dan membagi-bagikan qurban semuanya dari dagingnya, kulitnya dan pelananya dan agar tidak memberikan apapun dari hewan qurban itu kepada tukang jagalnya)). (Bukhori :  1717).

LARANGAN PADA DAGING KURBAN

1.      Tidak boleh menjualnya. Baik dari kulitnya, bulu, daging, tulang dan lain sebagianya. Ini adalah madzhab As Syafi’I dan Ahmad.
ุนَู†ْ ุฃَุจูŠ ุณَุนِูŠุฏٍ ุงู„ْุฎُุฏْุฑِูŠَّ ((...ูˆَู„َุง ุชَุจِูŠุนُูˆุง ู„ُุญُูˆู…َ ุงู„ْู‡َุฏْูŠِ ูˆَุงู„ْุฃَุถَุงุญِูŠِّ ูَูƒُู„ُูˆุง ูˆَุชَุตَุฏَّู‚ُูˆุง ูˆَุงุณْุชَู…ْุชِุนُูˆุง ุจِุฌُู„ُูˆุฏِู‡َุง ูˆَู„َุง ุชَุจِูŠุนُูˆู‡َุง...))
Dari Abu Sa’ad Al Khudri ia berkata :
“Janganlah kalian menjual daging hewan hadyu (haji) dank urban (I’dul adha). Kalian makanlah, sedekahkan, dan nikmati kulitnya. Janganlah kalian menjualnya”.
 [Hadits Doif. HR. Ahmad dalam Al Musnad : 15/4].
Sedangkan Abu Hanifah mengatakan boleh untuk dijual lalu hasil penjualnya disedekahkan. Yang paling tepat tidak boleh untuk dijual[22].

2.      Daging kurban tidak boleh untuk gaji jagal. Jumhur ulama’ tidak memberikan keringanan upah jagal diambilkan dari hewan kurban. Kecuali Hasan Al Basri, Abdullah bin Ubaid bin Umar membolehkan kulit hewan kurban untuk diberikan kepada jagal. Hendaknya upah jagal diambilkan dari harta pripadi[23].
ุนَู†ْ ุนَู„ِูŠّ ุฑَุถِูŠَ ุงู„ู„َّู‡ُ ุนَู†ْู‡ُ(( ุฃَู†َّ ุงู„ู†َّุจِูŠَّ ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„َّู‡ُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ ุฃَู…َุฑَู‡ُ ุฃَู†ْ ูŠَู‚ُูˆู…َ ุนَู„َู‰ ุจُุฏْู†ِู‡ِ ูˆَุฃَู†ْ ูŠَู‚ْุณِู…َ ุจُุฏْู†َู‡ُ ูƒُู„َّู‡َุง ู„ُุญُูˆู…َู‡َุง ูˆَุฌُู„ُูˆุฏَู‡َุง ูˆَุฌِู„َุงู„َู‡َุง ูˆَู„َุง ูŠُุนْุทِูŠَ ูِูŠ ุฌِุฒَุงุฑَุชِู‡َุง ุดَูŠْุฆًุง))
Dari Ali R.A : “Bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam memerintahkan kepadanya agar dia berada (menyaksikan hewan qurbannya) dan membagi-bagikan qurban semuanya dari dagingnya, kulitnya dan pelananya dan agar tidak memberikan apapun dari hewan qurban itu kepada tukang jagalnya”. [Bukhori :  1717].


HEWAN MATI SEBELUM DISEMBELIH


ุงุจู† ุนู…ุฑ ู‚ุงู„: ((ู…ู† ุฃู‡ุฏ ุจุฏู†ุฉ ูุถู„ุช ุฃูˆ ู…ุงุชุช ูุงู†ู‡ุง ุฅุฐุง ูƒุงู†ุช ู†ุฐุฑุง ุงุจุฏู„ู‡ุง ูˆุงู† ูƒุงู† ุชุทูˆุนุง ูุงู† ุดุงุก ุงุจุฏู„ู‡ุง ูˆุงู† ุดุงุก ุชุฑูƒู‡ุง))
Ibnu Umar berkata : ((Siapa yang ingin menyembelih onta untuk hadiah lalu hilang atau mati. Maka jika penyembelihan itu adalah nadzar dia harus mengantinya. Jika penyembelehan itu bersifat tatowu’ (sunnah) maka boleh menggantinya atu membiarkanya ( tanpa mengganti) [24].

ุนู† ุชู…ูŠู… ุจู† ุญูˆูŠุต ูŠุนู†ู‰ ุงู„ู…ุตุฑู‰ ู‚ุงู„( ุงุดุชุฑูŠุช ุดุงุฉ ุจู…ู†ู‰ ุงุถุญูŠุฉ ูุถู„ุช ูุณุฃู„ุช ุงุจู† ุนุจุงุณ ุฑุถู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ู…ุง ุนู† ุฐู„ูƒ) ูู‚ุงู„: (( ู„ุง ูŠุถุฑูƒ))
Dari Tamim bin Khawis berkata : “(Aku membeli kambing untuk kurban di Mina, lalu kambing itu hilang. Ku tanyakan kepada Ibnu Abbas tentang hal itu). Beliau menjawab: ((Tidak masalah))” [25].






Pada dasarnya menyembelih itu didaerahnya sendiri. Supaya orang-orang fakir yang ada didekatnya bisa terkecukupi daging sembelihan. Namaun boleh saja menyembelih dibawa keluar daerah bila dianggapnya lebih banyak maslahatnya[26].

ุนَู†ْ ุฌَุงุจِุฑَ ุจْู†َ ุนَุจْุฏِ ุงู„ู„َّู‡ِ ุฑَุถِูŠَ ุงู„ู„َّู‡ُ ุนَู†ْู‡ُู…َุง ูŠَู‚ُูˆู„ُ ((ูƒُู†َّุง ู„َุง ู†َุฃْูƒُู„ُ ู…ِู†ْ ู„ُุญُูˆู…ِ ุจُุฏْู†ِู†َุง ูَูˆْู‚َ ุซَู„َุงุซِ ุจู…ِู†ًู‰)) ูَุฑَุฎَّุตَ ู„َู†َุง ุงู„ู†َّุจِูŠُّ ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„َّู‡ُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ ูَู‚َุงู„َ ((ูƒُู„ُูˆุง ูˆَุชَุฒَูˆَّุฏُูˆุง)) ูَุฃَูƒَู„ْู†َุง ูˆَุชَุฒَูˆَّุฏْู†َุง.
Dari Jabir bi Abdillah ra dia berkata : “Dimina kami tidak habis makan daging onta selama 3 hari. Lalau Nabi SAW memberikan keringanan, beliau bersabda ((Kalian makanlah dan kalian jadikan bekal)). Maka kami memakanya dan menjadikanya bekal”. (Bukhori : 1719).


Allah Subhanahu wata’ala telah berfirman:
))ู„َู† ูŠَู†َุงู„َ ุงู„ู„َّู‡َ ู„ُุญُูˆู…ُู‡َุง ูˆَู„َุง ุฏِู…َุงุคُู‡َุง ูˆَู„َูƒِู† ูŠَู†َุงู„ُู‡ُ ุงู„ุชَّู‚ْูˆَู‰ ู…ِู†ูƒُู…ْ ูƒَุฐَู„ِูƒَ ุณَุฎَّุฑَู‡َุง ู„َูƒُู…ْ ู„ِุชُูƒَุจِّุฑُูˆุง ุงู„ู„َّู‡َ ุนَู„َู‰ ู…َุง ู‡َุฏَุงูƒُู…ْ ูˆَุจَุดِّุฑِ ุงู„ْู…ُุญْุณِู†ِูŠู†َ((
“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya”. [QS:Al Hajj:37].

))ูˆَู„ِูƒُู„ِّ ุฃُู…َّุฉٍ ุฌَุนَู„ْู†َุง ู…َู†ุณَูƒุงً ู„ِูŠَุฐْูƒُุฑُูˆุง ุงุณْู…َ ุงู„ู„َّู‡ِ ุนَู„َู‰ ู…َุง ุฑَุฒَู‚َู‡ُู… ู…ِّู† ุจَู‡ِูŠู…َุฉِ ุงู„ْุฃَู†ْุนَุงู…ِ ูَุฅِู„َู‡ُูƒُู…ْ ุฅِู„َู‡ٌ ูˆَุงุญِุฏٌ ูَู„َู‡ُ ุฃَุณْู„ِู…ُูˆุง ูˆَุจَุดِّุฑِุงู„ْู…ُุฎْุจِุชِูŠู†َ((
“Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzkikan Allah kepada mereka, maka Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah)”. [QS: Al Hajj : 34].



ู‚ُู„ْ ุฅِู†َّ ุตَู„ุงَุชِูŠ ูˆَู†ُุณُูƒِูŠ ูˆَู…َุญْูŠَุงูŠَ ูˆَู…َู…َุงุชِูŠ ู„ِู„ّู‡ِ ุฑَุจِّ ุงู„ْุนَุงู„َู…ِูŠู†َ ู„ุงَ ุดَุฑِูŠูƒَ ู„َู‡ُ ูˆَุจِุฐَู„ِูƒَ ุฃُู…ِุฑْุชُ ูˆَุฃَู†َุงْ ุฃَูˆَّู„ُ ุงู„ْู…ُุณْู„ِู…ِูŠู†َ
“Katakanlah, ‘Sesungguhnya shalatku, sembelihanku (qurbanku), hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam, tiada sekutu baginya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)”. [QS: al-An’am : 162-163].

ุนَู†ْ ุฃَุจِูŠ ู‡ُุฑَูŠْุฑَุฉَ ู‚َุงู„َ ู‚َุงู„َ ุฑَุณُูˆู„ُ ุงู„ู„َّู‡ِ ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„َّู‡ُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ ู…َู†ْ ูˆَุฌَุฏَ ุณَุนَุฉً ูَู„َู…ْ ูŠُุถَุญِّ ูู„ุงَ ูŠَู‚ْุฑَุจَู†َّ ู…ُุตَู„ุงَّู†َุง
Dari Abu Hurairah, dia berkata : “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam Bersabda: “Barangsiapa mendapatkan kelapangan dalam rizki namun tidak mau berkurban maka janganlah sekali-kali mendekati masjid kami” [27].

ูˆَุนَู†ْ ุนَู„ِูŠِّ ุจْู†ِ ุฃَุจِูŠ ุทَุงู„ِุจٍ ู‚َุงู„َ: { ุฃَู…َุฑَู†ِูŠ ุงู„ู†َّุจِูŠُّ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ุฃَู†َّ ุฃَู‚ْูˆَู…َ ุนَู„َู‰ ุจُุฏْู†ِู‡ِ, ูˆَุฃَู†ْ ุฃُู‚َุณِّู…َ ู„ُุญُูˆู…َู‡َุง ูˆَุฌُู„ُูˆุฏَู‡َุง ูˆَุฌِู„ุงู„َู‡َุง ุนَู„َู‰ ุงู„ْู…َุณَุงูƒِูŠู†ِ, ูˆَู„ุง ุฃُุนْุทِูŠَ ูِูŠ ุฌِุฒَุงุฑَุชِู‡َุง ู…ِู†ْู‡َุง ุดَูŠْุฆุงً } ู…ُุชَّูَู‚ٌ ุนَู„َูŠْู‡ ِ
”Rasulullah memerintahkan kepadaku untuk mengurusi hewan kurbannya, membagi-bagikan dagingnya, kulit dan pakaiannya kepada orang-orang miskin, dan aku tidak diperbolehkan memberi sesuatu apapun dari hewan kurban (sebagai upah) kepada penyembelihnya”.(muttafaq ‘alaik)
“Gemukkanlah hewan qurban kalian, karena dia adalah tunggangan kalian di atas shirath[28]”.
 ุนَู†ْ ุนَุงุฆِุดَุฉَ ุฃَู†َّ ุฑَุณُูˆู„َ ุงู„ู„َّู‡ِ ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„َّู‡ُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ ู‚َุงู„َ ู…َุง ุนَู…ِู„َ ุขุฏَู…ِูŠٌّ ู…ِู†ْ ุนَู…َู„ٍ ูŠَูˆْู…َ ุงู„ู†َّุญْุฑِ ุฃَุญَุจَّ ุฅِู„َู‰ ุงู„ู„َّู‡ِ ู…ِู†ْ ุฅِู‡ْุฑَุงู‚ِ ุงู„ุฏَّู…ِ ุฅِู†َّู‡َุง ู„َุชَุฃْุชِูŠ ูŠَูˆْู…َ ุงู„ْู‚ِูŠَุงู…َุฉِ ุจِู‚ُุฑُูˆู†ِู‡َุง ูˆَุฃَุดْุนَุงุฑِู‡َุง ูˆَุฃَุธْู„َุงูِู‡َุง ูˆَุฃَู†َّ ุงู„ุฏَّู…َ ู„َูŠَู‚َุนُ ู…ِู†ْ ุงู„ู„َّู‡ِ ุจِู…َูƒَุงู†ٍ ู‚َุจْู„َ ุฃَู†ْ ูŠَู‚َุนَ ู…ِู†ْ ุงู„ْุฃَุฑْุถِ ูَุทِูŠุจُูˆุง ุจِู‡َุง ู†َูْุณًุง
Dari ‘Aisyah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Tidak ada amalan yang dilakukan oleh anak Adam pada hari Nahr (Idul Adhha) yang lebih dicintai oleh Allah selain dari pada mengucurkan darah (hewan kurban). Karena sesungguhnya ia (hewan kurban) akan datang pada hari kiamat dengan tanduk, bulu, dan kukunya. Dan sungguh, darah tersebut akan sampai kepada (ridha) Allah sebelum tetesan darah tersebut jatuh ke bumi, maka bersihkanlah jiwa kalian dengan berkurban”. [Ibnu Majah : 3117] [29].

Imam at Tirmidzi mengatakan”Pemiliknya akan mendapat satu kebaikan dari setiap bulunya”. Hadits yang dimaksud oleh al-Timidzi adalah Hadits berikut:
Dari Zaid bin Arqam dia berkata, “Para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah maksud dari hewan-hewan kurban seperti ini?” beliau bersabda: “Ini merupakan sunnah (ajaran) bapak kalian, Ibrahim.” Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, lantas apa yang akan kami dapatkan dengannya?” beliau menjawab: “Setiap rambut terdapat kebaikan.” Mereka berkata, “Bagaimana dengan bulu-bulunya wahai Rasulullah?” beliau menjawab: “Dari setiap rambut pada bulu-bulunya terdapat suatu kebaikan.[30]

Dari Hasan bin ‘Ali ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “siapa yang berkurba dengan sesuatu yang baik, ia mengharap pahala karena qurbannya maka ia itu akan menjadi penghalang api neraka[31]”.
ูˆَุนَู†ِ ุงุจْู†ِ ุนَุจَّุงุณٍ ู‚َุงู„َ: ู‚َุงู„َ ุฑَุณُูˆู„ُ ุงู„ู„َّู‡ِ – ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„َّู‡ُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ -: ))ู…َุง ุฃَู†ْูَู‚ْุชُ ุงู„ْูˆَุฑِู‚َ ูِูŠ ุดَูŠْุกٍ ุฃَุญَุจَّ ุฅِู„َู‰ ุงู„ู„َّู‡ِ ู…َู†ْ ู†َุญِูŠุฑٍ ูŠُู†ْุญَุฑُ ูِูŠ ูŠَูˆْู…ِ ุนِูŠุฏٍ((
Dari Ibn ‘Abbas ia mengatakan: “Rasulullah saw. bersabda: tidak ada dari perak yang dibelanjakan dalam sesuatu yang Allah swt. sangat cintai dari berquban pada hari i’ed adha” [32].






ูˆุงู„ุญู…ุฏ ู„ู„ู‡ ุฑุจ ุงู„ุนุงู„ู…ูŠู†



*****


















TANYA JAWAB TENTANG HARI RAYA IDUL

ADHA & QURBAN


TANYA  (1):
Assalamu'alaikum ustad, ada cara berqurban dengan cara menabung tiap bulan, benarkah qurban seperti ini termasuk nadzar ? dan yang berqurban tidak boleh makan dagingnya ? mohon penjelasannya ?
JAWAB :
Waalaikumsalam wr wb.
ร˜  Menabung untuk persiapan berqurban tidaklah mengapa, boleh – boleh saja. Karena hukum asal segala sesuatu adalah boleh selama tidak ada dalil yang melarangnya. Sedang menabung untuk qurban ini tidak ada larangan dalam syariat. 
ร˜  Tentang nadzar: saya kurang begitu faham persoalanya, akan tetapi hemat saya dalam urusan menabung untuk persiapan qurban tidaklah termasuk nadzar. Allahu’alam bi showab.
Orang yang ber qurban boleh memakan daging qurbanya. Bahkan dianjurkan untuk memakannya.
Dari Jabir bin Abdillah berkata :

ุฃู† ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ู„ู…ุง ู†ุญุฑ ู‡ุฏูŠู‡ ุฃู…ุฑ ู…ู† ูƒู„ ุจุฏู†ุฉ ุจุจุถุนุฉ ูุชุทุจุฎ، ูุฃูƒู„ ู…ู† ู„ุญู…ู‡ุง، ูˆุญุณุง ู…ู† ู…ุฑู‚ู‡ุง
“Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam setelah menyembelih hewannya, ia meminta sebagian daging dari untanya dan dimasak. Kemudian memakan dagingnya dan mencicipi kuahnya”.
[HR. Muslim].
Imam Malik pernah berkata :
ุฃุญุจ ุฃู† ูŠุฃูƒู„ ู…ู† ุฃุถุญูŠุชู‡؛ ู„ุฃู† ุงู„ู„ู‡ ูŠู‚ูˆู„: ูَูƒُู„ُูˆุงْ ู…ِู†ْู‡َุง ูˆَุฃَุทْุนِู…ُูˆุงْ ุงู„ْุจَุขุฆِุณَ ุงู„ْูَู‚ِูŠุฑَ
Saya senang jika sohibul kurban makan daging kurbannya. Karena Allah berfirman, yang artinya: “Makanlah darinya dan berikan kepada orang yang sangat membutuhkan”.
(QS. Al-Haj: 28).  (Tafsir Ibn Katsir, 5:416).



TANYA (2) :
Assalamu'alaikum Wr.Wb. Ustadz ada teman saya bertanya, Suatu kisah !! 
Jikalau kita sudah mengetahui urgensi, keistimewaan dan manfaat berpuasa 9 -11 Dzulhijjah Yang mana Allah memberikan ampunan dari dosa – dosanya yang telah lalu. Tetapi dia ini merasa telah  melakukan  dosa besar terhadap Allah. 
Ustadz apakah dosa besar termasuk atau dapat diterima ampunannya oleh Allah jika kita melaksanakan puasa 9 - 11 Dzullijjah ini?  Atau apakah harus melaksanakan hukum Allah terlebih dahulu?

JAWAB : 
Wa'alaikumussalaam Wr.Wb.
Maaf sebelumnya kita luruskan terlebih dahulu. Puasa sunnah yang sangat dianjurkan di bulan dzulhijjah adalah pada tanggal 9 nya saja, bukan pada tanggal 10 apalagi sapai tanggal 11. Bahkan puasa tepat di hari raya (baik idul adha atau idul fitri) dan hari tasyrik (tanggal 11, 12, 13) adalah dilarang.
Berikut hadits yang melarang puasa di hari ied : 
ุนَู†ْ ุฃَุจِู‰ ู‡ُุฑَูŠْุฑَุฉَ – ุฑุถู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ – ุฃَู†َّ ุฑَุณُูˆู„َ ุงู„ู„َّู‡ِ -ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู…- ู†َู‡َู‰ ุนَู†ْ ุตِูŠَุงู…ِ ูŠَูˆْู…َูŠْู†ِ ูŠَูˆْู…ِ ุงู„ุฃَุถْุญَู‰ ูˆَูŠَูˆْู…ِ ุงู„ْูِุทْุฑِ
“Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhum bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang dari puasa pada dua hari : Idul Fithri dan Idul ‘Adha”.
[HR. Muslim no. 1138].
Dalam hadits disebutkan bahwa hari tasyrik adalah hari makan minum dan dzikullah bukan hari untuk berpuasa.
ุฃَูŠَّุงู…ُ ุงู„ุชَّุดْุฑِูŠู‚ِ ุฃَูŠَّุงู…ُ ุฃَูƒْู„ٍ ูˆَุดُุฑْุจٍ
“Hari-hari tasyriq adalah hari makan dan minum”.
[HR. Muslim no. 1141].
Hadits larangan berpuasa d ihari tasyriq. Dari Ibnu ‘Umar dan ‘Aisyah berkata :
ู„َู…ْ ูŠُุฑَุฎَّุตْ ูِู‰ ุฃَูŠَّุงู…ِ ุงู„ุชَّุดْุฑِูŠู‚ِ ุฃَู†ْ ูŠُุตَู…ْู†َ ، ุฅِู„ุงَّ ู„ِู…َู†ْ ู„َู…ْ ูŠَุฌِุฏِ ุงู„ْู‡َุฏْู‰َ
“Tidak diberi keringanan di hari tasyriq untuk berpuasa kecuali jika tidak didapati hewan hadyu(untuk orang yang sedang haji)”.
(HR. Bukhari no. 1998).

Imam Nawawi rahimahullah menuturkan : “Pendapat yang terkuat menurut ulama Syafi’iyah bahwa yang jadi pegangan adalah pendapat Imam Syafi’i yang jadid (yang baru) yaitu “tidak boleh berpuasa pada hari tasyrik” baik untuk jamaah haji yang menjalankan manasik tamattu’ atau selain mereka. (Al Majmu’, 6: 313).

Kemudian, tentang fadilah puasa 9 asyuro akan menghapus dosa yang telah lampau dan yang akan datang adalah benar kabarnya.
Dari Abu Qotadah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
ุตِูŠَุงู…ُ ูŠَูˆْู…ِ ุนَุฑَูَุฉَ ุฃَุญْุชَุณِุจُ ุนَู„َู‰ ุงู„ู„َّู‡ِ ุฃَู†ْ ูŠُูƒَูِّุฑَ ุงู„ุณَّู†َุฉَ ุงู„َّุชِู‰ ู‚َุจْู„َู‡ُ ูˆَุงู„ุณَّู†َุฉَ ุงู„َّุชِู‰ ุจَุนْุฏَู‡ُ 
“Puasa Arofah (9 Dzulhijjah) dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun akan datang”. [HR. Muslim no. 1162].
Adapun tentang penghapusan dosa,  maksudnya adalah dosa-dosa kecil. Sedang dosa besar tidak menjadi kepastian untuk bisa dihapus. Imam Nawawi rahimahullah mengatakan : “Jika bukan dosa kecil yang diampuni, moga dosa besar yang diperingan. Jika tidak, moga ditinggikan derajat.” (Syarh Shahih Muslim, 8: 51). 
Dosa besar harus dihilangkan dengan tobat nsuhah yaitu menyesali dosanya, jera tidak mengulanginya, dan mengiringinya dengan banyak amal sholeh.
TANYA (3) :
Assalamu alaikum Wr.Wb. Menjelang dan pasca wukuf, banyak KBIH yg mengajak jamaahnya umrah berkali kali. Bahkan ada KBIH sebelum wukuf sudah 6 x umrah : 
1.    Apakah ada perintah atau contoh dari Rasulullah untuk umrah beberapa kali sebelum & sesudah haji ?
2.    Kalau tidak ada perintah atau contoh dari Rasulullah, apakah amalan umrah itu sia sia ? Mohon penceraahannya ?
JAWAB : 
Wa alaikumsalam Wr.Wb. Ada perbedaan pandangan dikalangan ahli ilmu soal umroh berkali-kali. Ada yang membolehkan ada juga yang melarangnya.
Berikut sedikit kami kemukakan pendapat mereka mereka : 
Pertama : yang membolehkan, mereka adalah tiga imam madzhab (Hanafi, Syafi’i dan Hanbali). Dikatakan dalam kitab al-Fiqh ‘ala al-Madzahib al-Arba’ah : 




ูˆَูŠُู†ْุฏَุจُ ุงْู„ุฅِ ูƒْุซَุงุฑُ ู…ِู†َ ุงู„ْุนُู…ْุฑَุฉِ ูˆَุชَุชَุฃَูƒَّุฏُ ูِู‰ْ ุดَู‡ْุฑِ ุฑَู…َุถَุงู†َ ุจِุงุชِّูَุงู‚ِ ุซَู„ุงَ ุซَุฉٍ ูˆَุฎَุงู„َูَ ุงู„ْู…َุงู„ِูƒِูŠَّุฉُ
Artinya: “Dianjurkan memperbanyak atau mengulang-ulang ibadah umrah, terutama di bulan Ramadlan sesuai dengan kesepakatan tiga imam madzhab (Hanafi, Syafi’i dan Hanbali), kecuali Imam Maliki yang tidak sependapat”.                                                                [Abd al-Rahman al-Jaziri, al-Fiqh ‘ala al-Madzahib al-Arba’ah, 687].


Dalilnya : Jabir ra meriwayatkan bahwa suatu ketika ‘Aisyah ra meminta izin kepada Rasulullah Saw untuk melakukan umrah setelah hajinya, karena pada saat umrah sebelumnya ia batal karena kedatangan haid sebelum melakukan thawaf. Aisyah belum puas sebelum melakukan ibadah umrah tersendiri. Karena itu setelah ia suci dan selesai thawaf haji, ia berkata kepada Rasulullah Saw :
ูŠَุง ุฑَุณُูˆْู„َ ุงู„ู„ู‡ِ ุฃَุชَู†ْุทَู„ِู‚ُูˆْู†َ ุจِุญَุฌٍّ ูˆَุนُู…ْุฑَุฉٍ ูˆَุฃَู†ْุทَู„ِู‚ُ ุจِุงู„ْุญَุฌِّ؟ ูَุฃَู…َุฑَ ุนَุจْุฏَ ุงู„ุฑَّุญْู…َู†ِ ุจْู†َ ุฃَุจِู‰ْ ุจَูƒْุฑٍ ุฃَู†ْ ูŠَุฎْุฑُุฌَ ู…َุนَู‡َุง ุฅِู„َู‰ ุงู„ุชَّู†ْุนِูŠْู…ِ ูَุงุนْุชَู…َุฑَุชْ ุจَุนْุฏَ ุงู„ْุญَุฌِّ ูِู‰ْ ุฐِู‰ ุงู„ْุญِุฌَّุฉِ ( ุฑูˆุงู‡ ุงู„ุจุฎุงุฑู‰(
Artinya: “Wahai Rasulullah Saw, apakah mereka pergi menunaikan ibadah haji dan umrah sedangkan aku hanya dapat ibadah haji saja? Rasulullah Saw kemudian memerintahkan Abd al-Rahman bin Abu Bakar untuk keluar menemani Aisyah pergi ke Tan’im, kemudian Aisyah pun melakukan ibadah umrah setelah haji di musim haji itu”. [ HR. Al-Bukhari].

An-Nawawi mengatakan diperbolehkan umroh berkali - kali : 
ูˆَู„َุง ูŠُูƒْุฑَู‡ُ ุนُู…ْุฑَุชَุงู†ِ ูˆَุซَู„َุงุซٌ ูˆَุฃَูƒْุซَุฑُ ูِูŠ ุงู„ุณَّู†َุฉِ ุงู„ْูˆَุงุญِุฏَุฉِ ูˆَู„َุง ูِูŠ ุงู„ْูŠَูˆْู…ِ ุงู„ْูˆَุงุญِุฏِ ุจَู„ْ ูŠُุณْุชَุญَุจُّ ุงู„ْุงِูƒْุซَุงุฑُ ู…ِู†ْู‡َุง ุจِู„َุง ุฎَู„َุงูٍ ุนِู†ْุฏَู†َุง
Artinya : “Di kalangan kami (madzhab Syafi’i) tidak ada perbedaan bahwa tidak dimakruhkan melakukan dua umrah, tiga, atau lebih banyak lagi dalam satu tahun. Begitu juga ketika dilakukan dalam satu hari, bahkan hal tersebut dianjurkan untuk memperbanyaknya”. [An-Nawawi, Al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab, juz VII, 138].

Pendapat akan pembolehan ini adalah pendapat mayoritas ulama :
ูˆَุงู„ْุฌُู…ْู‡ُูˆุฑُ ุนَู„َู‰ ุฌَูˆَุงุฒِ ุงู„ْุงِุณْุชِูƒْุซَุงุฑِ ู…ِู†ْู‡َุง ูِูŠ ุงู„ْูŠَูˆْู…ِ ูˆَุงู„ู„َّูŠْู„َุฉِ ู„ِุฃَู†َّู‡ُ ุนَู…َู„ُ ุจِุฑٍّ ูˆَุฎَูŠุฑٍ ูَู„َุง ูŠَุฌِุจُ ุงู„ْุงِู…ْุชِู†َุงุนُ ู…ِู†ْู‡ُ ุฅِู„َّุง ุจِุฏَู„ِูŠู„ٍ ูˆَู„َุง ุฏَู„ِูŠู„َ ุฃَู…ْู†َุนَ ู…ِู†ْู‡ُ ุจَู„ِ ุงู„ุฏَّู„ูŠِู„ُ ูŠَุฏُู„ُّ ุนَู„َูŠْู‡ِ ุจِู‚َูˆْู„ِ ุงู„ู„ู‡ِ ุนَุฒَّ ูˆَุฌَู„َّ: ูˆَุงูْุนَู„ُูˆุง ุงู„ْุฎَูŠْุฑَ [ ุงู„ุญุฌ 77 ] ูˆَู‚َุงู„َ ุฑَุณُูˆู„ُ ุงู„ู„ู‡ِ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ุงَู„ْุนُู…ْุฑَุฉُ ุฅِู„َู‰ ุงู„ْุนُู…ْุฑَุฉِ ูƒَูَّุงุฑَุฉٌ ู„ِู…َุง ุจَูŠْู†َู‡ُู…َุง ูˆَุงู„ْุญَุฌُّ ุงู„ْู…َุจْุฑُูˆุฑُ ู„َูŠْุณَ ู„َู‡ُ ุฌَุฒَุงุกٌ ุฅِู„َّุง ุงู„ْุฌَู†َّุฉُ
Artinya : “Mayoritas ulama membolehkan untuk memperbanyak umrah dalam sehari semalam karena hal itu merupakan amal kebajikan. Maka tidak wajib melarangnya kecuali dengan dalil, padahal tidak dalil yang melarangnya. Bahkan dalil yang memperbolehkannya adalah firman Allah azza wajalla, ‘Lakukanlah kebaikan’. [QS Al-Hajj: 77].

dan sabda Rasulullah SAW ‘Antara umrah yang satu ke umrah yang lain akan menghapus dosa di antara keduanya. Haji mabrur tidak ada balasannya kecuali surga”. (Ibnu Abdil Barr, Al-Istidzkar, juz IV, halaman 113).
Kedua : yang tidak membolehkan, diantaranya adalah Imam Malik dan ibnu Taimiyah 
Dalam Fiqh al-Sunnah, Sabiq menulis:
ูƒَุฑِู‡َ ู…َุงู„ِูƒٌ ุชِูƒْุฑَุงุฑَู‡َุง ูِู‰ْ ุงู„ْุนَุงู…ِ ุฃَูƒْุซَุฑَ ู…ِู†ْ ู…َุฑَّุฉٍ
Artinya: “Imam Malik memandang makruh mengulang-ulang umrah dalam satu tahun lebih dari satu kali”.  (Fiqh al-Sunnah, Vol.I, 633).

Kalau Ibnu Taimiyah mengatakan berkali – kali umroh tidak boleh, yang dibolehkan adalah thowafnya saja,  Beliau mengatakan : “Apa yang telah kami sebutkan ini merupakan hal yang menunjukkan bahwa thawaf itu lebih utama dan menunjukkan bahwa berumrah dari Makkah dan meninggalkan thawaf bukanlah sesuatu yang disunahkan, tetapi yang disunahkan adalah thawaf bukan umrah. Bahkan menjalankan umrah ketika itu adalah bid’ah yang tidak dilakukan oleh para ulama salaf dan tidak diperintahkan baik dalam Al-Qur`an maupun As-Sunah serta tidak ditemukan dalil syar’i yang menunjukkan kesunahannya. Karenanya maka menurut kesepakatan para ulama hal tersebut adalah termasuk bid’ah yang dibenci”. (Majmu'atul  Fatawi,  juz XXVI,  264).
Diantara dasar ketidak bolehan mengulangi umroh adalah : Rosulullah saw ibadah umroh hanya 4 kali seumur hidupnya.  Rosulullah SAW sepanjang hiupnya melakukan ibadah umroh hanya 4 kali saja.
  Dari Ibnu Abbas, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengerjakan umrah sebanyak empat kali. (Yaitu) umrah Hudaibiyah, umrah Qadha`, umrah ketiga dari Ji’ranah, dan keempat (umrah) yang bersamaan dengan pelaksanaan haji beliau.” (HR. Tirmidzi, no 816 dan dan Ibnu Majah no. 2450).
Pelaksanaan empat umrah yang dikerjakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut, masing-masing dikerjakan dengan perjalanan (safar) tersendiri. Bukan satu perjalanan untuk sekian banyak umrah, seperti yang dilakukan oleh jamaah haji sekarang ini. Pada penaklukan kota Mekah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berada di Mekah selama sembilan belas hari. Tetapi, tidak ada riwayat bahwa beliau keluar ke daerah halal untuk melangsungkan umrah dari sana. Apakah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak tahu bahwa itu masyru’(disyariatkan)? Tentu saja tidak mungkin!
Begitulah antara pro dan kontra mengenai hukum umrah berulang-ulang. Ada Ulama yang mengatakan boleh atau sunnah dan ada ulama yang mengatakan tidak boleh, makruh atau bahkan bid’ah, masing-masing memiliki dasar hukum yang jelas. Sebagai pembaca kita patut merenungkannya sambil memperhatikan dalil-dalil yang dijadikan rujukan. Jika kita telah mengambil pilihan salah satu di antara dua pendapat tersebut, kita harus konsekuen untuk mengamalkannya dengan sebaik-baiknya. Adapun terhadap pendapat yang tidak kita pilih atau tidak kita setujui, kita tetap harus menghormatinya. Betapa pun mereka itu adalah para ulama yang mumpuni di bidangnya.
TANYA (4) :
Assalamu'alaikum Wr.Wb.
Beberapa hari terakhir sering menerima pesan tentang amalan 10 hari bulan zulhijah disunahkan berpuasa dari tanggal 1-9 deng ganjaran pahal, Tetapi ada juga yang mengatakan bahwa haditsnya dhoif, mohon penjelasannya ?         
JAWAB :
Wa'alaikumussalaam Wr.Wb.
Khabar akan keutamaan 10 hari pertama dari bulan Dzulhijah adalah benar dan sohih riwayatnya.
Dari Ibnu ‘Abbas ra, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
ู…َุง ู…ِู†ْ ุฃَูŠَّุงู…ٍ ุงู„ْุนَู…َู„ُ ุงู„ุตَّุงู„ِุญُ ูِูŠู‡َุง ุฃَุญَุจُّ ุฅِู„َู‰ ุงู„ู„َّู‡ِ ู…ِู†ْ ู‡َุฐِู‡ِ ุงู„ุฃَูŠَّุงู…ِ ». ูŠَุนْู†ِู‰ ุฃَูŠَّุงู…َ ุงู„ْุนَุดْุฑِ. ู‚َุงู„ُูˆุง ูŠَุง ุฑَุณُูˆู„َ ุงู„ู„َّู‡ِ ูˆَู„ุงَ ุงู„ْุฌِู‡َุงุฏُ ูِู‰ ุณَุจِูŠู„ِ ุงู„ู„َّู‡ِ ู‚َุงู„َ « ูˆَู„ุงَ ุงู„ْุฌِู‡َุงุฏُ ูِู‰ ุณَุจِูŠู„ِ ุงู„ู„َّู‡ِ ุฅِู„ุงَّ ุฑَุฌُู„ٌ ุฎَุฑَุฌَ ุจِู†َูْุณِู‡ِ ูˆَู…َุงู„ِู‡ِ ูَู„َู…ْ ูŠَุฑْุฌِุนْ ู…ِู†ْ ุฐَู„ِูƒَ ุจِุดَู‰ْุกٍ
“Tidak ada satu amal sholeh yang lebih dicintai oleh Allah melebihi amal sholeh yang dilakukan pada hari-hari ini (yaitu 10 hari pertama bulan Dzul Hijjah)”. Para sahabat bertanya:  “Tidak pula jihad di jalan Allah” ?
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Tidak pula jihad di jalan Allah, kecuali orang yang berangkat jihad dengan jiwa dan hartanya namun tidak ada yang kembali satupun”.
 [HR. Abu Daud no. 2438, At Tirmidzi no. 757, sohih].
Oleh sebab itu hendaknya memperbanyak amal ibadah di 10 hari awal dari bulan Dzul hijah ini termasuk ibadah puasa. Sebagaimana yang juga diperintahkan oleh Nabi SAW:
ุนู† ุงุจู† ุนู…ุฑ ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ู…ุง ุนู† ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ู‚ุงู„ : ู…ุง ู…ู† ุฃูŠุงู… ุฃุนุธู… ูˆู„ุง ุงุญุจ ุฅู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุงู„ุนู…ู„ ููŠู‡ู† ู…ู† ู‡ุฐู‡ ุงู„ุฃูŠุงู… ุงู„ุนุดุฑ ูุฃูƒุซุฑูˆุง ููŠู‡ู† ู…ู† ุงู„ุชู‡ู„ูŠู„ ูˆุงู„ุชูƒุจูŠุฑ ูˆุงู„ุชุญู…ูŠุฏ
Imam Ahmad, rahimahullah, meriwayatkan dari Umar Radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“Tidak ada hari yang paling agung dan amat dicintai Allah untuk berbuat kebajikan di dalamnya daripada sepuluh hari (Dzulhijah) ini. Maka perbanyaklah pada saat itu tahlil, takbir dan tahmid”.
[HR.Ahmad].

Masalah puasa selama 10 hari awal bulan ini, maka disana ada dua hadits yang berbeda: 
Pertama, hadits yang menafikan puasa, Dari ‘Aisyah ra, ia menyebutkan :
ู…َุง ุฑَุฃَูŠْุชُ ุฑَุณُูˆู„َ ุงู„ู„َّู‡ِ -ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู…- ุตَุงุฆِู…ًุง ูِู‰ ุงู„ْุนَุดْุฑِ ู‚َุทُّ
“Aku tidak pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa pada sepuluh hari bulan Dzulhijah sama sekali”.
[HR. Muslim no. 1176].
Kedua, hadits yang mengadakan puasa, Dari Hafshah, ia berkata :
ุฃَุฑْุจَุนٌ ู„َู…ْ ูŠَูƒُู†ْ ูŠَุฏَุนُู‡ُู†َّ ุงู„ู†َّุจِูŠُّ : ุตِูŠَุงู…َ ุนَุงุดُูˆْุฑَุงุกَ ูˆَุงู„ْุนَุดْุฑَ ูˆَุซَู„ุงَุซَุฉَ ุฃَูŠَّุงู…ٍ ู…ِู†ْ ูƒُู„ِّ ุดَู‡ْุฑٍ، ูˆَุฑَูƒْุนَุชَูŠْู†ِ ู‚َุจْู„َ ุงู„ْุบَุฏَุงุฉِ
“Ada empat hal yang tidak pernah ditinggal Nabi shallallohu 'alaihi wasallam; puasa pada hari Asyura' (tanggal 10 Muharram), puasa pada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah, puasa tiga hari setiap bulan dan shalat dua rakaat sebelum shalat Subuh”.
[Hadits ini dha'if dikeluarkan oleh an-Nasa'i (2371); Abu Daud (2437); Ahmad (5/271) melalui jalan Abu Awanah))].
Dari Hunaidah bin Kholid, dari istrinya, beberapa istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan : 
ูƒَุงู†َ ุฑَุณُูˆู„ُ ุงู„ู„َّู‡ِ -ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู…- ูŠَุตُูˆู…ُ ุชِุณْุนَ ุฐِู‰ ุงู„ْุญِุฌَّุฉِ ูˆَูŠَูˆْู…َ ุนَุงุดُูˆุฑَุงุกَ ูˆَุซَู„ุงَุซَุฉَ ุฃَูŠَّุงู…ٍ ู…ِู†ْ ูƒُู„ِّ ุดَู‡ْุฑٍ ุฃَูˆَّู„َ ุงุซْู†َูŠْู†ِ ู…ِู†َ ุงู„ุดَّู‡ْุฑِ ูˆَุงู„ْุฎَู…ِูŠุณَ.
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa pada sembilan hari awal Dzulhijah, pada hari ‘Asyura’ (10 Muharram), berpuasa tiga hari setiap bulannya”.
[HR. Abu Daud no. 2437. Sohih].
Jawaban dari dua hadits diatas : 
Jawaban an-Nawawi setelah membawakan hadits Aisyah : 
Ulama mengatakan : "Hadits ini mengindikasikan makruhnya puasa sepuluh hari penuh(termasuk di tanggal 10 nya), dan yang dimaksud dengan sepuluh hari adalah sembilan hari pertama bulan Dzulhijjah”.  Mereka mengatakan : "Ini adalah hadits yang perlu ditakwilkan bahwa puasa sepuluh hari tidak dimakruhkan, bahkan sangat disunnahkan, utamanya tanggal sembilan, yakni hari Arafah”. Maka, hadits yang berbunyi, "Rasulullah tidak melakukan puasa sepuluh hari”. Adalah tidak melakukannya karena ada halangan, seperti sakit, atau dalam perjalanan, atau lainnya. Atau ditakwilkan (ditafsirkan) bahwa Aisyah tidak pernah melihat Rasulullah berpuasa dan itu tidak berarti beliau tidak melakukannya (hanya Aisyah tidak mengetahuinya). (Syarh Muslim (3/251).
Ibnu Hajar al 'asqolani mengatakan : "Mungkin Rasulullah shallallohu 'alaihi wasallam memang sengaja tidak melakukan puasa selama 9 hari pertama Dzulhijah) karena khawatir akan diwajibkan atas umatnya"(Fath al-Bari (2/534) )).
Kesimpulan kami pribadi :
Boleh berpuasa antara tanggal 1 - 9 dengan berpedoman pada keumuman hadits tentang keutamaan beribadah di tanggal-tanggal ini. Boleh puasa full, boleh juga pada sebagian hari saja seperti yang sudah diteranhkan di atas.
Ibnu Hazm berkata : "Kami menyunnahkan berpuasa pada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah sebelum hari korban (tanggal 10) berdasarkan hadits yang kami riwayatkan (maksudnya hadits Ibnu Abbas yang menerangkan keutamaan beramal di 10 hari pertama Dzulhijah)”.  ( al-Muhalla (7/19)).
Di antara sahabat yang mempraktekkan puasa selama sembilan hari awal Dzulhijah adalah Ibnu ‘Umar. Ulama lain seperti Al Hasan Al Bashri, Ibnu Sirin dan Qotadah juga menyebutkan keutamaan berpuasa pada hari-hari tersebut. Inilah yang menjadi pendapat mayoritas ulama. (Latho-if Al Ma’arif, hal. 459).
Puasa yang dianjurkan, sohih riwayatnya dan pasti pahalanya adalah puasa di tanggal 9 Dzulhijah. Berdasarkan hadits dari  Abu Qotadah, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
ุตِูŠَุงู…ُ ูŠَูˆْู…ِ ุนَุฑَูَุฉَ ุฃَุญْุชَุณِุจُ ุนَู„َู‰ ุงู„ู„َّู‡ِ ุฃَู†ْ ูŠُูƒَูِّุฑَ ุงู„ุณَّู†َุฉَ ุงู„َّุชِู‰ ู‚َุจْู„َู‡ُ ูˆَุงู„ุณَّู†َุฉَ ุงู„َّุชِู‰ ุจَุนْุฏَู‡ُ ูˆَุตِูŠَุงู…ُ ูŠَูˆْู…ِ ุนَุงุดُูˆุฑَุงุกَ ุฃَุญْุชَุณِุจُ ุนَู„َู‰ ุงู„ู„َّู‡ِ ุฃَู†ْ ูŠُูƒَูِّุฑَ ุงู„ุณَّู†َุฉَ ุงู„َّุชِู‰ ู‚َุจْู„َู‡ُ
“Puasa Arofah (9 Dzulhijah) dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun akan datang. Puasa Asyuro (10 Muharram) akan menghapuskan dosa setahun yang lalu”.
[HR. Muslim no. 1162].

TANYA (5) :
Assalamu'alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh.
Saya mau bertanaya mengenai beberapa hal mengenai qurban :
1.    Berapa jumlah persentasi dari daging hewan kurban yang di bagikan untuk fakir miskin? Afwan tadz, karena banyak fenomena di tempat pemotongan dan pembagian hewan kurban para panita & pengurus serta perangkat desa lebih banyak mendapatkan bagian dari fakir miskin yang harusnya lebih berhak.
2.    Bagaimana hukumnya dalam islam dan tatacara yang baik dalam proses pemotongan hewan kurban yang baik dan berprikehewanan ? Karena banyak di masyarakat cara menyembelih hewan dengan cara tidak berprikehewanan seperti saat merobohkan hewan menjadi stres karena saat jatuh banyak yang bersorak, kemudian saat disembelih hewan yang lain ikut stres karena melihat meregang nyawa dari yg disembelih.
3.    Bagaimana hukumnya yang lebih di dahulukan antara Akikah atau kurban ? Seperti seseorang belum akikah pada saat lahir karena faktor ekonomi orang tua dan ketika sudah dewasa lalu mampu untuk akikah dan kurban mana yang harus di dahulukan? Ksrena ada sebagian ulama mengatakan tidak sah kurban ketika belum melaksanakan akikah ?  Mohon penjelasannya ustadz ?

JAWAB :
Wa'alaikumussalaam Warohmatullahi Wabarokatuh.
Iya, terimakasih, kami juga mengucapkan "taqobbalallhu minna wa minkum, ja'alanallahu minal 'aidiin wal faa iziin" Amiin.
Ada beberapa pertanyaan yang ditanyakan, kami akan menjawab satu persatu : 

Pertama :
Sepengetahuan kami tidak ada batasan nominal secara jelas dan sohih pembagian daging hewan qurban.
Sayyid Sabiq Rahimahullah memaparkan cara pembagian sebagai berikut:
ู„ู„ู…ู‡ุฏูŠ ุฃู† ูŠุฃูƒู„ ู…ู† ู‡ุฏูŠู‡ ุงู„ุฐูŠ ูŠุจุงุญ ู„ู‡ ุงู„ุงูƒู„ ู…ู†ู‡ ุฃูŠ ู…ู‚ุฏุงุฑ ูŠุดุงุก ุฃู† ูŠุฃูƒู„ู‡، ุจู„ุง ุชุญุฏูŠุฏ، ูˆู„ู‡ ูƒุฐู„ูƒ ุฃู† ูŠู‡ุฏูŠ ุฃูˆ ูŠุชุตุฏู‚ ุจู…ุง ูŠุฑุงู‡. ูˆู‚ูŠู„: ูŠุฃูƒู„ ุงู„ู†ุตู، ูˆูŠุชุตุฏู‚ ุจุงู„ู†ุตู .ูˆู‚ูŠู„: ูŠู‚ุณู…ู‡ ุฃุซู„ุงุซุง، ููŠุฃูƒู„ ุงู„ุซู„ุซ، ูˆูŠู‡ุฏูŠ ุงู„ุซู„ุซ، ูˆูŠุชุตุฏู‚ ุจุงู„ุซู„ุซ.
“Si pemilik hewan kurban dibolehkan makan bagian yang dibolehkan baginya sesuai keinginannya tanpa batas. Dia pun boleh menghadiahkan atau menyedekahkan sesuka hatinya. Ada pula yang mengatakan dia boleh memakannya setengah dan menyedekahkan setengah. Dan dikatakan juga : dibagi tiga bagian, untuknya adalah sepertiga, dihadiahkan sepertiga, dan disedekahkan sepertiga”. [Fiqih sunnah, 1/742-743].


Sedang keterangan yang mengatakan supaya bersedekah dengan 1/3 dari hewan kurbannya adalah “keterangan lemah”. (Shahih Fiqh Sunnah, Abu Malik Kamal bin As Sayid Salim, 2/378). Bahkan disedekahkan seluruhnya pun juga boleh – boleh saja, Dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ’anhu :
ุฃَู†َّ ุงู„ู†َّุจِู‰َّ – ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… – ุฃَู…َุฑَู‡ُ ุฃَู†ْ ูŠَู‚ُูˆู…َ ุนَู„َู‰ ุจُุฏْู†ِู‡ِ ، ูˆَุฃَู†ْ ูŠَู‚ْุณِู…َ ุจُุฏْู†َู‡ُ ูƒُู„َّู‡َุง ، ู„ُุญُูˆู…َู‡َุง ูˆَุฌُู„ُูˆุฏَู‡َุง ูˆَุฌِู„ุงَู„َู‡َุง ) ูِู‰ ุงู„ْู…َุณَุงูƒِูŠู†ِ( ، ูˆَู„ุงَ ูŠُุนْุทِู‰َ ูِู‰ ุฌِุฒَุงุฑَุชِู‡َุง ุดَูŠْุฆًุง
Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam memerintahkan dia untuk mengurusi unta-unta hadyu. Beliau memerintah untuk membagi semua daging qurbannya, kulit dan jilalnya (kulit yang ditaruh pada punggung unta untuk melindungi dari dingin) untuk orang-orang miskin. Dan beliau tidak diperbolehkan memberikan bagian apapun dari qurban itu kepada tukang jagal (sebagai upah). HR. Bukhari no. 1717 dan Muslim no. 1317].
[
Pembagian daging qurban yang tersebut dalam hadits sebagai berikut : 
Dari Salamah bin Al Akwa’ radhiyallahu, ia berkata bahwa Nabi  shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
ู…َู†ْ ุถَุญَّู‰ ู…ِู†ْูƒُู…ْ ูَู„ุงَ ูŠُุตْุจِุญَู†َّ ุจَุนْุฏَ ุซَุงู„ِุซَุฉٍ ูˆَูِู‰ ุจَูŠْุชِู‡ِ ู…ِู†ْู‡ُ ุดَู‰ْุกٌ . ูَู„َู…َّุง ูƒَุงู†َ ุงู„ْุนَุงู…ُ ุงู„ْู…ُู‚ْุจِู„ُ ู‚َุงู„ُูˆุง ูŠَุง ุฑَุณُูˆู„َ ุงู„ู„َّู‡ِ ู†َูْุนَู„ُ ูƒَู…َุง ูَุนَู„ْู†َุง ุนَุงู…َ ุงู„ْู…َุงุถِู‰ ู‚َุงู„َ ูƒُู„ُูˆุง ูˆَุฃَุทْุนِู…ُูˆุง ูˆَุงุฏَّุฎِุฑُูˆุง ูَุฅِู†َّ ุฐَู„ِูƒَ ุงู„ْุนَุงู…َ ูƒَุงู†َ ุจِุงู„ู†َّุงุณِ ุฌَู‡ْุฏٌ ูَุฃَุฑَุฏْุชُ ุฃَู†ْ ุชُุนِูŠู†ُูˆุง ูِูŠู‡َุง
”Barangsiapa di antara kalian berqurban, maka janganlah ada daging qurban yang masih tersisa dalam rumahnya setelah hari ketiga.”
Ketika datang tahun berikutnya, para sahabat mengatakan :
”Wahai Rasulullah, apakah kami harus melakukan sebagaimana tahun lalu?”
Maka beliau menjawab, ”(Adapun sekarang),  makanlah sebagian, sebagian lagi berikan kepada orang lain dan sebagian lagi simpanlah. Pada tahun lalu masyarakat sedang mengalami paceklik sehingga aku berkeinginan supaya kalian membantu mereka dalam hal itu. (HR. Bukhari no. 5569 dan Muslim no. 1974).
Berdasarkan hadits ini, yang dituntut oleh dalil hendaknya shahibul qurban memakan sebagian hewan qurbannya dan ada yang disedekahkan kepada fakir miskin, tanpa ukuran atau kadar baku untuk jatah shahibul qurban atau pun untuk fakir miskin. Intinya, pemanfaatan hasil sembelihan qurban dibagi-bagikan, sedekahkan dan dimanfaatkan untuk sendiri.
Sedang bila mau dibagi tiga bagian dengan ukuran 1/3 seperti apa yang diterapkan sebagian muslimin maka hal itu juga tidak masalah. Begitu juga pembagian seperti ini juga menjadi pedoman mayoritas ulama Syafi’iah, Diantaranya adalah sayyid Abu Bakar Muhammad Syatha (Sohibu I’anatut Talibin), Syekh Ibrahim al-Bajuri (Sohibu Hasyiatul Bajuri) dan Syekh Khotib as-Syarbini (Sohibu Mughnil Muhtaj).
Dan Diriwayatkan oleh al-Hafidz Abu Musa al-Ashfihani dari Ibnu Abbas dalam menjelaskan pembagian daging qurban Rasulullah saw, “Dan Rasulullah saw memberikan makan keluarganya sepertiga, membagikan kepada orang fakir miskin, tetangganya sepertiga dan disedekahkan kepada orang yang minta-minta sepertiga.” 
(al-Fiqh al-Islami wa adillatuh. Wahbah Azzuhaily : III/631).

Kedua :
Sedang tata cara penyembelihan, sebagai berikut : 
1.    Sebaiknya pemilik qurban menyembelih hewan qurbannya sendiri.
2.    Apabila pemilik qurban tidak bisa menyembelih sendiri, maka harusnya dia hadir menyaksikan penyembelihannya.
3.    Menjauhkan pisaunya dari pandangan binatang Qurban. Cara ini seperti yang diceritakan Ibnu Abbas Radhiallahu’anhu bahwa Rasulullah pernah melewati seseorang yang meletakkan kakinya didekat leher seekor kambing, sedangkan dia menajamkan pisaunya. Binatang itu pun melirik kepadanya. Lalu beliau bersabda (artinya): “Mengapa engkau tidak menajamkannya sebelum ini (sebelum dibaringkan,)? Apakah engkau ingin mematikannya sebanyak dua kali?”. (H.R. Ath Thabrani dengan sanad shahih).
4.    Menyembelih dengan pisau yang tajam.
5.    Hewan qurban dibaringkan di atas lambung kirinya dan posisi keempat  kakinya ke arah kiblat.
6.    Leher hewan diinjak dengan telapak kaki kanan penyembelih.
7.    Kemudian pisau ditekan kuat-kuat supaya cepat putus.
8.    Membaca doa sebelum menyembelih :
ุจِุณْู…ِ ุงู„ู„ู‡ِ ูˆَุงู„ู„ู‡ُ ุฃَูƒْุจَุฑُ
“Dengan nama Allah dan Allah itu Maha Besar”. [H.R. Muslim].
ุจِุณْู…ِ ุงู„ู„ู‡ِ ูˆَุงู„ู„ู‡ُ ุฃَูƒْุจَุฑُ ุงَู„ู„َّู‡ُู…َّ ู‡َุฐَุง ู…ِู†ْูƒَ ูˆَู„َูƒَ
“Dengan nama Allah dan Allah itu Maha Besar, Ya Allah ini adalah dari-Mu dan untuk-Mu”.
[H.R. Abu Dawud dengan sanad shahih].

9.    Memastikan pada bagian kerongkongan, tenggorokan, atau dua urat leher itu telah terpotong dengan pasti.

Ketiga :
Selanjutnya Soal aqiqah, Pertama kita tetapkan dulu hukum dari aqiqah dan qurban, kemudian baru kita  simpulkan.
Hukum Aqiqah
ร˜ Hukum Aqiqah menurut madzhab Syaf'i dan Hanbali adalah “Sunnah Muakkadah”.
ร˜ Dan menurut madzhab maliki aqiqoh hukumnya “mandub”, dan dalam istilah madzhab maliki hukum mandub derajatnya dibawah hukum masnun/dรฌsunnahkan (meski keduanya sama-sama menunjukkan hukum sunat). 
ร˜ Sedangkan menurut madzhab Hanafi aqiqoh hukumnya “mubah”, sebab syari'at mengenai aqiqoh tersebut sudah dinash (dihilangkan ketentuan hukumnya). (Al-Mausu'ah Al-Fiqhiyah, Juz : 30 Hal : 276-277). 

Hukum Qurban
ร˜  Hukum qurban menurut  jumhur fuqoha' dan tiga madzhab (syafi'i, hanbali dan maliki) mengatkan bahwa hukum qurban sunnah muaakkadah. 

 ุฐู‡ุจ ุฌู…ู‡ูˆุฑ ุงู„ูู‚ู‡ุงุก، ูˆู…ู†ู‡ู… ุงู„ุดุงูุนูŠุฉ ูˆุงู„ุญู†ุงุจู„ุฉ، ูˆู‡ูˆ ุฃุฑุฌุญ ุงู„ู‚ูˆู„ูŠู† ุนู†ุฏ ู…ุงู„ูƒ، ูˆุฅุญุฏู‰ ุฑูˆุงูŠุชูŠู† ุนู† ุฃุจูŠ ูŠูˆุณู ุฅู„ู‰ ุฃู† ุงู„ุฃุถุญูŠุฉ ุณู†ุฉ ู…ุคูƒุฏุฉ. ูˆู‡ุฐุง ู‚ูˆู„ ุฃุจูŠ ุจูƒุฑ ูˆุนู…ุฑ ูˆุจู„ุงู„ ูˆุฃุจูŠ ู…ุณุนูˆุฏ ุงู„ุจุฏุฑูŠ ูˆุณูˆูŠุฏ ุจู† ุบูู„ุฉ ูˆุณุนูŠุฏ ุจู† ุงู„ู…ุณูŠุจ ูˆุนุทุงุก ูˆุนู„ู‚ู…ุฉ ูˆุงู„ุฃุณูˆุฏ ูˆุฅุณุญุงู‚ ูˆุฃุจูŠ ุซูˆุฑ ูˆุงุจู† ุงู„ู…ู†ุฐุฑ
“Adapun hukum qurban menurut jumhur fuqoha' , termasuk mereka madzhab Syafi'i, Hanbali, pendapat yang lebih unggul dalam madzhab Maliki dan salah satu riwayat pendapat Syekh Abu Yusuf (pengikut madzhab Hanafi) hukumnya *sunah mu'akkadah.* Ini juga merupakan pendapat abu Bakar, Umar, Bilal, Abu Mas'ud Al-Badri, Suwaid bin Ghofalah, Sa'id bin Al-Musayyab, Atho', Alqomah, Al-Aswad, Ishaq, Abu Tsur dan Ibnu Al-Mundzir”. [Al-Mausu'ah Al-Fiqhiyah, Juz : 5 Hal : 76-77].

                                                                                       
ร˜  menurut Abu Hanifah, madzhab hanafi hukum qurban wajib.
Dari uraian tentang pandangan berbagai madzhab tentang aqiqoh dan qurban diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa perintah pelaksanaan qurban lebih tegas dibandingkan perintah mengenai aqiqoh, sampai – sampai menurut madzhab hanafi berqurban hukumnya wajib. Hal ini dapat kita lebih tegaskan bahwasanya melaksanakan qurban lebih didahulukan dibandingkan aqiqoh dan lagi karena waktu pelaksanaan qurban lebih sempit, maka berqurban lebih didahulukan daripada aqiqoh yang batasan pelaksanaannya lebih lama.
persoalan sah tidaknya berqurban bagi orang yang belum diaqiqahi, maka kami coba jelaskan sebagai berikut :
Aqiqah dan qurban adalah dua kewajiban ibadah yang berbeda yang tidak saling berkaitan.
 ุงุจู† ุญุฌุฑ ุงู„ู‡ูŠุชู…ูŠ ุฑุญู…ู‡ ุงู„ู„ู‡ :  ูˆَุธَุงู‡ِุฑُ ูƒَู„َุงู…ِ َุงู„ْุฃَุตْุญَุงุจِ ุฃَู†َّู‡ُ ู„َูˆْ ู†َูˆَู‰ ุจِุดَุงุฉٍ ุงู„ْุฃُุถْุญِูŠَّุฉَ ูˆَุงู„ْุนَู‚ِูŠู‚َุฉَ ู„َู…ْ ุชَุญْุตُู„ْ ูˆَุงุญِุฏَุฉٌ ู…ِู†ْู‡ُู…َุง ، ูˆَู‡ُูˆَ ุธَุงู‡ِุฑٌ ; ู„ِุฃَู†َّ ูƒُู„ًّุง ู…ِู†ْู‡ُู…َุง ุณُู†َّุฉٌ ู…َู‚ْุตُูˆุฏَุฉٌ ” ุงู†ุชู‡ู‰
Imam Ibnu Hajar Al-Haitami salah seorang ulama Syafi’iyah mengatakan :
“Seandainya seseorang berniat satu kambing untuk qurban dan ‘aqiqah sekaligus maka keduanya sama-sama tidak teranggap. Inilah yang lebih tepat karena maksud dari *qurban dan ‘aqiqah itu berbeda”. (Tuhfah al muhtaj syarahal minhaj : 9/371).

Kami belum menemukan syarat sahnya qurban adalah aqiqah. Aqiqah adalah kewajiban orang tua.
Al-Khallal meriwayatkan dari Ismail bin Said as-Syalinji, beliau mengatakan :
ุณุฃู„ุช ุฃุญู…ุฏ ุนู† ุงู„ุฑุฌู„ ูŠุฎุจุฑู‡ ูˆุงู„ุฏู‡ ุฃู†ู‡ ู„ู… ูŠุนู‚ ุนู†ู‡ ، ู‡ู„ ูŠุนู‚ ุนู† ู†ูุณู‡ ؟ ู‚ุงู„ : ุฐู„ูƒ ุนู„ู‰ ุงู„ุฃุจ
Saya bertanya kepada Imam Ahmad tentang seseorang yang diberi-tahu orang tuanya, bahwa dirinya belum diaqiqahi. Bolehkah orang ini mengaqiqahi dirinya sendiri? Kata Ahmad, “Itu tanggung jawab ayahnya”. (Tuhfatul Maudud, hlm. 58).
Kesimpulan, qurbabnya orang yang belum diaqikahi adalah sah.

TANYA (6) :
Ustadz, mohon bimbingannya:
1.    Ucapan salam atau do'a yg dicontohkan Rasulullah shollallahu 'alaihi wasallam ketika kita bertemu dengan org yg baru selesai ibadah qurban (selesai pemotongan hewan kurban) ?
2.    Ucapan salam atau do'a yg dicontohkan Rasulullah shollallahu 'alaihi wasallam ketika kita bertemu dengan org yg *baru selesai ibadah haji (pulang haji) ?
JAWAB
Allahualam, setahu kami, ucapan selamat yang diucapkan di dua hari raya adalah 
ุชَู‚َุจَّู„َ ุงู„ู„َّู‡ُ ู…ِู†َّุง ูˆَู…ِู†ْูƒ
 sebagaimana yang dipraktekkan ditengah tengah kehidupan para sahabat Nabi saw : 
ูุนู† ุฌُุจَูŠْุฑِ ุจْู†ِ ู†ُูَูŠْุฑٍ ู‚َุงู„َ : ูƒَุงู†َ ุฃَุตْุญَุงุจُ ุฑَุณُูˆู„ِ ุงู„ู„َّู‡ِ ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„َّู‡ُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ ุฅِุฐَุง ุงِู„ْุชَู‚َูˆْุง ูŠَูˆْู…َ ุงู„ْุนِูŠุฏِ ูŠَู‚ُูˆู„ُ ุจَุนْุถُู‡ُู…ْ ู„ِุจَุนْุถٍ : ุชَู‚َุจَّู„َ ุงู„ู„َّู‡ُ ู…ِู†َّุง ูˆَู…ِู†ْูƒ* . ู‚ุงู„ ุงู„ุญุงูุธ : ุฅุณู†ุงุฏู‡ ุญุณู† .
“Dari Jubair bin Nufair, ia berkata bahwa jika para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berjumpa dengan hari ‘ied (Idul Fithri atau Idul Adha), satu sama lain saling mengucapkan, “Taqobbalallahu minna wa minka (Semoga Allah menerima amalku dan amal kalian).” Al Hafizh Ibnu Hajar mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan”. [Fathul Bari, Ibnu Hajar Al Asqolani, Darul Ma’rifah, 1379, 2/446].
Begitu juga ucapan atau doa menyambut kepulangan orang haji atau umroh, kami belum menemukan nash dari Nabi S.A.W. Hanya saja dalam masalah doa,  longgar ruangan disana untuk membahas. Diantaranya doa yang di anjurkan oleh Imama Al-Qalyubi ulama syafiiyah dalam menyambut kedatangan orang umrah, adalah membaca doa berikut :
ูˆุฃู† ูŠุชู„ู‚ูˆู‡ ูƒุบูŠุฑู‡ู… , ูˆุฃู† ูŠู‚ุงู„ ู„ู‡ ุฅู† ูƒุงู† ุญุงุฌุง ุฃูˆ ู…ุนุชู…ุฑุง : ุชَู‚َุจَّู„َ ุงู„ู„َّู‡ُ  ุญุฌูƒ ุฃูˆ ุนُู…ْุฑَุชَูƒ ، ูˆَุบَูَุฑَ ุฐَู†ْุจَูƒ ، ูˆَุฃَุฎْู„َูَ ุนَู„َูŠْูƒ ู†َูَู‚َุชَูƒ
“Hendaknya mereka (keluarga) menyambutnya (yang umrah) seperti yang lain, dan memberikan doa jika baru pulang haji atau umrah”
“Semoga Allah menerima haji (atau umrah) anda, semoga Allah mengampuni dosa anda dan memberi ganti untuk biaya perjalanan anda”. [Hasyiyah al-Qalyubi, 2/190].

TANYA (7) :
Ustadz ana mau bertanya, apakah benar ada hadist yang melarang  ketika hari idul adha dan pemotongan hewan qurban tidak boleh ada  mengumandangkan  takbir / takbiran ? Mohon penjelasanny ustadz !
JAWAB :
Takbiran di hari adha adalah perintah syariat, perhatikan ayat dan hadits berikut : 
Allah berfirman : 
ูˆَูŠَุฐْูƒُุฑُูˆุง ุงุณْู…َ ุงู„ู„َّู‡ِ ูِูŠ ุฃَูŠَّุงู…ٍ ู…َุนْู„ُูˆู…َุงุชٍ ุนَู„َู‰ٰ ู…َุง ุฑَุฒَู‚َู‡ُู…ْ ู…ِู†ْ ุจَู‡ِูŠู…َุฉِ ุงู„ْุฃَู†ْุนَุงู…ِ
“Supaya mereka berdzikir (menyebut) nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezeki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak”. [QS. Al Hajj: 28].

Allah juga berfirman : 
ูˆَุงุฐْูƒُุฑُูˆุง ุงู„ู„َّู‡َ ูِูŠ ุฃَูŠَّุงู…ٍ ู…َุนْุฏُูˆุฏَุงุชٍ
“Dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah dalam beberapa hari yang berbilang”. [QS. Al Baqarah: 203]

Keterangan dua ayat diatas : 
Dari Sa’id bin Jubair dari Ibn Abbas, bahwa maksud _“hari yang telah ditentukan”_ adalah tanggal “1 – 9 Dzulhijjah”. Sedangkan makna “beberapa hari yang berbilang” adalah “hari tasyriq, tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah”. (Ibnu Hajar dalam Fathul Bari 2/458, Sanad shahih).
Sabda Nabi SAW supaya untuk memperbanyak takbir dan amal ibadah lain di hari adha dan sebelumnya :
ุนู† ุงุจู† ุนู…ุฑ ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ู…ุง ุนู† ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ู‚ุงู„ : ู…ุง ู…ู† ุฃูŠุงู… ุฃุนุธู… ูˆู„ุง ุงุญุจ ุฅู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุงู„ุนู…ู„ ููŠู‡ู† ู…ู† ู‡ุฐู‡ ุงู„ุฃูŠุงู… ุงู„ุนุดุฑ ูุฃูƒุซุฑูˆุง ููŠู‡ู† ู…ู† ุงู„ุชู‡ู„ูŠู„ ูˆุงู„ุชูƒุจูŠุฑ ูˆุงู„ุชุญู…ูŠุฏ
Dari Abdullah bin Umar, dari  Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Tidak ada amal yang dilakukan di hari yang lebih agung dan lebih dicintai Allah melebihi amal yang dilakukan di tanggal 1 – 10 Dzulhijjah. Oleh karena itu, perbanyaklah membaca tahlil, takbir, dan tahmid pada hari itu”. [HR. Ahmad,  Sanadnya sohih].

Jelas sudah “takbiran di hari ied Adha adalah anjuran Allah dan RosulNya”. Praktek takbiran dimulai sejak tanggal 1 Dzulhijjah sampai tanggal 13 Dzulhijjah. Takbir ini dinamakan “takbir Mutlaq”, maksudnya takbir yang tidak terikat dengan waktu, dikerjakan kapan saja. Hal ini seperti yang dilakukan oleh sahabat Umar bin Khotob R.A dan beberapa shahabat lainnya :
ูˆَูƒَุงู†َ ุงุจْู†ُ ุนُู…َุฑَ ูˆَุฃَุจُูˆ ู‡ُุฑَูŠْุฑَุฉَ ูŠَุฎْุฑُุฌَุงู†ِ ุฅِู„َู‰ ุงู„ุณُّูˆู‚ِ ูِู‰ ุฃَูŠَّุงู…ِ ุงู„ْุนَุดْุฑِ ูŠُูƒَุจِّุฑَุงู†ِ ، ูˆَูŠُูƒَุจِّุฑُ ุงู„ู†َّุงุณُ ุจِุชَูƒْุจِูŠุฑِู‡ِู…َุง . ูˆَูƒَุจَّุฑَ ู…ُุญَู…َّุฏُ ุจْู†ُ ุนَู„ِู‰ٍّ ุฎَู„ْูَ ุงู„ู†َّุงูِู„َุฉِ
Suatu riwayat diterangkan, bahwa  :
“Dulu Ibn Umar dan Abu Hurairah pergi ke pasar pada tanggal 1 – 10 Dzulhijjah. Mereka berdua mengucapkan takbiran kemudian masyarakat bertakbir disebabkan mendengar takbir mereka berdua”. “Muhammad bin ‘Ali pun bertakbir setelah shalat sunnah”. [HR. Al Bukhari sebelum hadis no.969].

Ada juga yang di diistilahkan dengan “takbir muqooyyad”, yakni takbir yang hanya dikerjakan waktu-waktu tertentu. “Takbir ini dikerjakan setelah sholat fardhu / wajib”. Sebagaimana keterangan berikut ini : 
Dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu :
ุฃَู†َّู‡ُ ูƒَุงู†َ ูŠُูƒَุจِّุฑُ ุจَุนْุฏَ ุตَู„ุงَุฉِ ุงู„ْูَุฌْุฑِ ูŠَูˆู…َ ุนَุฑَูَุฉَ ุฅِู„َู‰ ุตَู„ุงَุฉِ ุงู„ْุนَุตْุฑِ ู…ِู†ْ ุขุฎِุฑِ ุฃَูŠَّุงู…َ ุงู„ุชَّุดْุฑِูŠู‚ِ ูˆَูŠُูƒَุจِّุฑُ ุจَุนْุฏَ ุงู„ْุนَุตْุฑِ.
“Bahwa beliau bertakbir setelah shalat shubuh pada hari arofah (tanggal 9) Dzulhijjah sampai ashar akhir hari tasriq (tanggal 13 Dzulhijjah). Beliau juga bertakbir setelah ashar”.
[HR Ibn Abi Syaibah & Al Baihaqi, Shahih].
Dari Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu :
“Bahwa beliau dulu bertakbir setelah shalat shubuh pada tanggal 9 Dzulhijjah sampai setelah dluhur pada tanggal 13 Dzulhijjah”. (Ibn Abi Syaibah & Al Baihaqi, sohih sanad).
Berkaitan tentang takbir ketika menyembelih, kita perhatikan hal itu adalah sunnah Nabi SAW. Dimana salah satu dari do'a berqurban adalah bertakbir, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam menyembelih sendiri binatang qurban sambil membaca :
ุจِุณْู…ِ ุงู„ู„َّู‡ِ ูˆَุงู„ู„َّู‡ُ ุฃَูƒْุจَุฑُ ู‡َุฐَุง ุนَู†ِّูŠ ูˆَุนَู…َّู†ْ ู„َู…ْ ูŠُุถَุญِّ ู…ِู†ْ ุฃُู…َّุชِูŠ
"Bismillah Allahu Akbar, Ini dariku dan dari umatku yang tidak berkurban”.                           [HR. at-Tirmidzi, sohih].

Di hadits yang lain dari Anas bin Malik Radhiyallahu 'Anhu, ia berkata:
ุถَุญَّู‰ ุงู„ู†َّุจِูŠُّ ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„َّู‡ُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ ุจِูƒَุจْุดَูŠْู†ِ ุฃَู…ْู„َุญَูŠْู†ِ ุฃَู‚ْุฑَู†َูŠْู†ِ ุฐَุจَุญَู‡ُู…َุง ุจِูŠَุฏِู‡ِ ูˆَุณَู…َّู‰ ูˆَูƒَุจَّุฑَ ูˆَูˆَุถَุนَ ุฑِุฌْู„َู‡ُ ุนَู„َู‰ ุตِูَุงุญِู‡ِู…َุง
“Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam berkurban dengan ekor domba jantan yang dominasi warna putih dan bertanduk. Beliau menyembelihnya dengan tangannya sendiri, membaca basmalah dan bertakbir serta meletakkan kakinya di atas samping lehernya".[HR.Bukhory & Muslim].




ุชู… ุจุญู…ุฏ ุงู„ู„ู‡ ูˆูƒุฑู…ู‡
ูˆุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ู‰ ุณูŠุฏู†ุง ู…ุญู…ุฏ ูˆุขู„ู‡ ูˆุตุญุจู‡ ุฃุฌู…ุนูŠู†
 ูˆุงู„ุญู…ุฏ ู„ู„ู‡ ุฑุจ ุงู„ุนุงู„ู…ูŠู†
=====================
============



Bangkalan : 29 Agustus 2016


                                                               
Diringkas dari berbagai sumber oleh :
Muhammad  Khoirul AM







[1] Abu Malik Sohih Fiqih Sunnah juz 2, hal 366 (ma’a tazyid)
[2] Al Mughoni (345/9), Al Muhalla (7/355).
[3] Dikeluarkan oleh Abdurrazzaq (8139) dan Al Baihaqi (9/269) dengan sanad yang sohih
[4] Sayyid Sbiq Fiqih Sunnah 3/197
[5] Dikeluarkan oleh Abdurrazzaq (8149) dan Al Baihaqi (9/265) dengan sanat yang sohih
[6] Abu Malik Sohih Fiqih Sunnah juz 2, hal 369
[7] Abu Malik Sohih Fiqih Sunnah juz 2, hal 369
[8] Dikeluarkan oleh Abdurrazaq (8156), Ibnu Khazem Al Muhalla (7/358) dengan sanad yang sohih.
[9] Abu Malik Sohih Fiqih Sunnah juz 2, hal 369
[10] Abu Malik Sohih Fiqih Sunnah juz 2, hal 369
[11] Mawardi Al Hawi 19/145-146
[12] Mawardi Al Hawi 19/145-146
[13] Sayyid Sabiq Fiqih Sunnah 3/198
[14] Al Hawi (19/94)
[15] An Nawawi Syarh sohih muslim 3/138
[16] An Nawawi Syarh sohih muslim 3/138
[17] Imam Nawawi Syarh Muslim 13/110. Tamhiid 23/162
[18] Abu Malik Sohih Fiqih Sunnah 2/377
[19] Dikeluarkan oleh Ahmad (4/8), Al-Baihaqi (5/295), Ibnu Hibban (3854) dan Ibnu Adi dalam "Al-   Kamil" (3/1118)
[20] Abu Malik Sohih Fiqih Sunnah juz 2, hal 378
[21] Abu Malik Sohih Fiqih Sunnah juz 2, hal 378
[22] Abu Malik Sohih Fiqih Sunnah juz 2, hal 379
[23] Abu Malik Sohih Fiqih Sunnah juz 2, hal 379
[24] Dikeluarkan oleh Malik (866), dan Al Baihaki (9/289) dengan sanad yang sohih.
[25] Dikeluarkan Al Baihaki (9/289), Ibnu Khazem (7/358) dengan sanad yang sohih.
[26] Abu Malik Sohih Fiqih Sunnah juz 2, hal 380
[27] Abu Malik Sohih Fiqih Sunnah juz 2, hal 380
[28] Ibn Hajar al-Talkhis al-Habir mengutip pendapat Ibn Shalah yang mengatakan : Hadits ini tidak diketahui dari mana asalnya, dan sepengetahuan kami tidak sah bahwa perkataan ini berasal dari Nabi saw.
Tanggapan Al-Suyuti tentang hadits ini :  Ia mengatakan: al-‘Azluni mengatakan hadits ini diriwayatkan oleh al-Dailami dari Abu Hurairah dengan sanad lemah sekali. Hadits ini adalah hadits palsu sebagaimana yang dikatakan oleh al-Hafidz Ahmad al-Ghamari dalam al-Mughir (Jami’ al-Hadits, no hadits: 3314)
[29]  Ibn Majah al-Qazwini, Sunan Ibn Majah, dengan tahqiq Syu’aib al-Arnaut, dkk.  Hadits ini lemah , namun al-Tirmidzi tetap menghasankannya (Beirut: Dar ar-Risalah al-‘Ilmiyyah, 2009, Jil. 4), hlm. 305.
Al-Dzahabi mengatakan pada sanadnya ada Sulaiman bin Yazid Abul Mutsanna, ia itu lemah sekali, sebagian ahli hadits meninggalkan Haditsnya  (Mukhtashar al-Istidrak al-Dzahabi  Jil. 6 hlm. 2796) namun al-Tirmidzi tetap menghasankannya
[30] Imam al-Dzahabi mengatakan: dalam sanadnya ada ‘Aidzullah, Abu Hatim mengatakan haditsnya munkar.        ( Ibn al-Mulqin, Mukhtashar al-Istidrak al-Dzahabi  Jil. 2, hlm.868).                                                                                                                          al-Bukhari mengatakan haditsnya tidak sah, Abu Hatim mengatakan haditsnya munkar, Ibn Hibban mengatakan ia meriwayatkan riwayat yang munkar, tidak boleh berhujjah dengan haditsnya (Ibn al-Mulqin, al-Badr al-Munir, Jil. 9, hlm.274).
[31] Ibn Hajar mengatakan: Dalam sanadnya ada Abu Daud, dia itu pendusta. Imam Ahmad mengatakan: ia suka membuat hadit ( Ibn Hajar al-‘Asqalani, al-Talkhis al-Habir, Jil. 4, hlm.343).                                                    Al-Haitsami mengatakan: hadits ini diriwayatkan oleh al-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Kabir, dalam sanadnya ada Sulaiman bin ‘Amer al-Nakha’i, ia itu pendusta (Nuruddin al-Haitsami,Majma’ al-Zawaid, Jil. 4, 1994, hlm. 17).

[32] Al-Haitsami mengatakan bahwa hadits itu diriwayatkan oleh al-Thabrani dalam Mu’jam al-Kabir, dalam sanadnya ada Ibrahim bin Yazid al-Khuzi, ia itu lemah ( Ibid).