Selasa, 06 Agustus 2019

Mengenal Masjid Nabawi


Buletin El Fata 
 Edisi 11          Jumat  9  Agustus 2019 / 8  Dzulhijjah 1440 H





MENGENAL  MASJID  NABAWI


Salah satu peninggalan sejarah kehidupan makhluk paling mulia Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang masih dan akan terus disaksikan oleh dunia adalah Masjid yang beliau bangun di kota madinah yang kita kenal dengan nama Masjid Nabawi. Masjid Nabawi yang saat ini kita lihat berdiri begitu megah, dahulunya hanyalah sebuah bangunan sederhana. Bagaimana kisah selengkapnya dari perjalanan panjang sejarah masjid ini, mari kita simak bersama.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membangun Masjid Nabawi pada bulan Raibul Awal di awal-awal hijarahnya ke Madinah. Pada saat itu panjang masjid adalah 70 hasta dan lebarnya 60 hasta atau panjangnya 35 m dan lebar 30 m. Kala itu Masjid Nabawi sangat sederhana, kita akan sulit membayangkan keadaannya apabila melihat bangunannya yang megah saat ini. Lantai masjid adalah tanah yang berbatu, atapnya pelepah kurma, dan terdapat tiga pintu, sementara sekarang sangat besar dan megah.

Keutamaan :
Masjid Nabawi adalah masjid yang dibangun dengan landasan ketakwaan. Di antara keutamaan masjid ini adalah dilipatgandakannya pahala shalat di dalamnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
صَلَاةٌ فِي مَسْجِدِي هَذَا أَفْضَلُ مِنْ أَلْفِ صَلَاةٍ فِيمَا سِوَاهُ، إِلَّا الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ
“Shalat di masjidku ini lebih utama dari 1000 kali shalat di masjid selainnya, kecuali Masjid al-Haram.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Mimbar Nabi
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَا بَيْنَ بَيْتِي وَمِنْبَرِي رَوْضَةٌ مِنْ رِيَاضِ الْجَنَّةِ وَمِنْبَرِي عَلَى حَوْضِي
“Antara rumahku dan mimbarku ada taman dari taman-taman surga, dan mimbarku di atas telagaku.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Awalnya Nabi berkhutbah di atas potongan pohon kurma kemudian para sahabat membuatkan beliau mimbar, sejak saat itu beliau selalu berkhutbah di atas mimbar. Dari Jabir radhiallahu ‘anhu bahwa dulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saat khutbah Jumat berdiri di atas potongan pohon kurma, lalu ada seorang perempuan atau laki-laki Anshar mengatakan, ‘Wahai Rasulullah, bolehkah kami membuatkanmu mimbar?’  Nabi menjawab, ‘Jika kalian mau (silahkan)’. Maka para sahabat membuatkan beliau mimbar. Pada Jumat berikutnya, beliau pun naik ke atas mimbarnya, terdengarlah suara tangisan (merengek) pohon kurma seperti tangisan anak kecil, kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendekapnya. Pohon itu terus ‘merengek’ layaknya anak kecil. Rasulullah mengatakan, ‘Ia menagis karena kehilangan dzikir-dzikir yang dulunya disebut di atasnya’.” (HR. Bukhari),

Roudoh
Raudhah adalah suatu tempat di Masjid Nabawi yang terletak antara mimbar beliau dengan kamar (rumah) beliau. Rasulullah menerangkan tentang keutamaan raudhah,

عن أبي هريرة رضي الله عنه أن النبي قال: “مَا بَيْنَ بَيْتِي وَمِنْبَرِي رَوْضَةٌ مِنْ رِيَاضِ الجَنَّةِ، وَمِنْبَرِي عَلَى حَوْضِي
Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Antara rumahku dan mimbarku terdapat taman di antara taman-taman surga. Dan mimbarku di atas telagaku.” (HR. Bukhari, No : 1755).

Jarak antara mimbar dan rumah Nabi adalah 53 hasta atau sekitar 26,5 m.

Shuffah
Pada awal-awal hijrah, Shuffah ini merupakan tempat imam dan shaf pertama di Mesjid Nabawi tatkala mereka berqiblat kearah Baitul-Maqdis saat itu. Namun ketika qiblat dialihkan ke Ka’bah pada abad ke 2 H, otomatis shuffah ini tempatnya berubah menjadi bagian masjid paling belakang, bukan lagi diarah qiblat. Sebab itu, Nabi pun memerintahkan para sahabatnya untuk membuatkan tempat ini suatu atap dari dedaunan pohon kurma, sebagai tempat persinggahan kaum miskin yang tidak memiliki tempat tinggal. (Al-Mujtama’ Al-Madaniy Fi ‘Ahdi Al-Nubuwwah: Akram Dhiyaa Al-‘Umari: hal.90).

Shuffah tidak diketahui luasnya, yang pasti tempat tersebut cukup untuk ramai orang. Sehingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menggunakan tempat tersebut untuk jamuan makan yang menampung lebih kurang 300 orang. Sebagian mereka berada di sisi salah satu kamar isteri-isteri baginda shallallahu ‘alaihi wa sallam yang bersambungan langsung dengan Masjid Nabawi. (HR.Muslim dalam Shahihnya kitab
an-Nikah, hadits no. 93).

MakamNabi Muhammad SAW
Sebelum Masjid Nabawi diperluas, di situ terdapat makam Nabi Muhammad yang dulu kamarnya Sayyidah ‘Aisyah rodiyalahu ‘anhu. Setelah masjid ini diperluas, makam beliau masuk di dalam bangunan masjid yang sekarang berkubah rwarna hijau. Di situ, terdapat empat pintu yang masing-masing dinamakan Pintu at-Taubah di kiblatnya, Pintu ar-Raudhah di barat, Pintu Fathimah di timur, dan Pintu Tahajud di utara. Selain itu, di sini ada pula makam Abu Bakar dan Umar bin Khattab.(Tempat-Tempat Bersejarah di Tanah Haram. hal.39-41. Solo:Tiga Serangkai).

Makam Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menghadap kiblat kemudian di belakang beliau (dikatakan di belakang karena menghadap kiblat) terdapat makam Abu Bakar ash-Shiddiq dan posisi kepala Abu Bakar sejajar dengan bahu Nabi. Di belakang makam Abu Bakar terdapat makam Umar bin Khattab dan posisi kepala Umar sejajar dengan bahu Abu Bakar. Di zaman Nabi kamar beliau berdindingkan pelepah kurma yang dilapisi dengan bulu. Kemudian di zaman pemerintahan Umar bin Khattab dinding kamar ini diperbaiki dengan bangunan permanen.

Mudah-mudahan sejarah singkat Masjid Nabawi ini semakin membangkitkan kecintaan kita kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, para sahabatnya, dan Masjid Nabawi itu sendiri. Semoga Allah memudahkan langkah kaki kita untuk bisa selalu menziarahi masjid nabawi. Amin.



Text Box: Buletin el-Fata. 
Penasehat: Dr.Jamaluddin, Sp.M(K) , Sulaiman S. Ag. M. Pd.I Pimpinan Redaksi : M Khoirul Amd  Editor: Dra. Afri Asiatin Apt. Sekretaris: Pandu. Bendahara: Raka. Desain: Rizki. Distribusi dan Logistik: Tofa. Telp : 085642154046 Email elfatamedia@gmail.com Alamat Redaksi: Sentra Dakwah Yayasan Jauharul Ummah  Jl.Jamburaya no. 159 Perumnas Kamal Bangkalan.