TIGA KEUNIKAN TRADISI IBADAH TURKIYE
Oleh : Khoirul Amirudin, M.Ag.
Cerita : 1
Amin yang Tertahan di Hagia Sophia
Beberapa hari lagi, insya Allah, Ramadhan kembali menyapa. Setiap kali bulan itu mendekat, ingatan saya selalu melayang pada satu Ramadhan yang begitu berkesan Ramadhan tahun lalu di Istanbul, Turki.
Sekitar Maret 2025, saya berkesempatan menginjakkan kaki di kota yang menjadi persimpangan peradaban itu. Istanbul, dengan langitnya yang biru pucat, azan yang menggema dari berbagai arah, dan masjid-masjid megah yang berdiri anggun seolah menyimpan ribuan kisah doa. Di sanalah saya merasakan Ramadhan yang berbeda.
Salah satu momen paling membekas adalah ketika saya menunaikan sholat di Hagia Sophia, lalu di beberapa masjid lain di Istanbul. Saya menyadari, ada praktik ibadah sholat yang terasa asing bagi saya bukan karena salah, tapi karena berbeda dari tradisi yang selama ini saya kenal di Indonesia.
Di tanah air, kita mayoritas bermadzhab Syafi’i. Sementara di Turki, masyarakatnya banyak mengikuti madzhab Hanafi. Perbedaan itu, salah satunya, terasa jelas dalam hal yang tampak sederhana: cara mengucapkan amin.
Di masjid-masjid Istanbul, jamaah tidak mengucapkan amin dengan suara keras setelah imam membaca ghairil maghdhubi ‘alaihim waladh-dhallin. Usai ayat itu, suasana justru senyap. Semua diam, khusyuk, tanpa satu suara pun yang menyahut.
Malam itu adalah malam pertama saya sholat Isya sekaligus Tarawih di Hagia Sophia. Tanpa banyak berpikir bahkan dengan rasa percaya diri saya dan beberapa jamaah asal Indonesia mengucapkan amin dengan lantang, terbawa kebiasaan yang selama ini melekat dalam sholat kami.
Sekejap, saya merasakan ada yang berbeda. Beberapa jamaah di sekitar tampak terkejut. Barangkali dalam hati mereka bertanya-tanya, mengapa ada yang bersuara di tengah keheningan sholat? Dan di saat itulah rasa malu perlahan merambat di dada saya. Hanya kami yang mengucapkan amin, sementara jamaah seluruh masjid terdiam.
Di tengah sholat, kesadaran itu datang pelan tapi jelas. Oh iya… mereka bermadzhab Hanafi. Seketika saya harus menahan senyumsenyum kecil yang hampir saja pecah di antara bacaan sholat. Bukan karena lucu, melainkan karena tersadar akan satu hal penting: betapa kebiasaan yang kita anggap paling benar, ternyata hanyalah salah satu dari banyak jalan yang sah dalam beribadah.
Pengalaman itu menjadi pelajaran berharga bagi saya. Bahwa perbedaan bukan untuk dipertentangkan, apalagi disalahkan. Kita boleh berbeda dalam cara, dalam tradisi, dalam praktik namun tujuan kita tetap satu. Menghadap Tuhan yang sama, dengan niat yang sama.
Cerita : 2
Satu Ayat yang Menenangkan
Perbedaan Ramadhan tidak hanya terasa dari suasana kota atau cahaya lampu masjid, tetapi juga dari cara ibadah dijalankan. Salah satu yang paling membekas dalam ingatanku adalah pengalaman mengikuti sholat tarawih di Turki, tepatnya di Hagia Sophia sebuah tempat yang bukan hanya megah secara bangunan, tetapi juga kaya makna spiritual.
Malam itu, aku terkejut sekaligus takzim. Bacaan imam sholat tarawih begitu singkat. Setelah Al-Fatihah, imam hanya membaca satu ayat Al-Qur’an, lalu ruku. Begitu seterusnya, satu ayat demi satu ayat, mengalir sederhana namun terasa khusyuk. Tidak ada bacaan panjang yang melelahkan, tidak pula gerakan yang tergesa-gesa.
Durasi ruku dan sujudnya terasa pas tidak terlalu lama, namun juga tidak terburu-buru. Semua dilakukan dengan ritme yang tenang dan tertata. Yang singkat hanyalah berdirinya, karena memang hanya satu ayat yang dibaca. Justru di situlah letak keindahannya: sholat terasa ringan, tetapi tetap menjaga kekhidmatan.
Pengalaman ini membuatku membandingkan dengan tarawih di Indonesia. Di tanah air, kita sering menemui variasi yang sangat beragam. Ada imam yang membaca panjang lebar dengan berdiri lama, ruku dan sujud panjang. Ada pula yang semuanya serba cepat berdiri cepat, ruku cepat, sujud pun cepat. Semua sah dan memiliki landasan, tentu saja.
Namun, tarawih di Turki memberiku perspektif baru. Kesederhanaan bacaan, konsistensi gerakan, dan ketenangan suasana menghadirkan kekhusyukan yang berbeda. Rasanya, pola seperti ini layak dipertimbangkan dan dicontoh oleh para imam di Indonesia bukan untuk mengganti tradisi, tetapi untuk memperkaya cara kita menghadirkan kenyamanan dalam ibadah. Dicoba aja pak Imam...hehe.
Cerita : 3
Subuh yang Datang di Ujung Waktu
Pengalaman Ramadhan di Turki kembali memberiku kejutan, kali ini saat waktu subuh. Pagi itu, kami bergegas keluar dari hotel. Langkah kami dipercepat, napas sedikit tersengal, takut jika sholat subuh terlewat. Masjid sudah terlihat jelas tepat di seberang hotel tempat kami menginap. Dalam bayanganku, imam pasti sudah bersiap, jamaah mungkin sudah berbaris.
Namun kenyataan berkata lain.
Sesampainya di masjid, suasana justru terasa tenang dan sunyi. Imam belum berdiri di mihrab. Muadzin pun belum bersiap mengumandangkan iqamah. Yang terdengar justru lantunan ayat-ayat Al-Qur’an. Imam dan muadzin duduk, mengaji dengan khusyuk. Bukan sebentar mereka membaca hingga satu juz penuh bahkan mungkin lebih.
Kami saling berpandangan, bingung namun terdiam. Rupanya, di sana ada kebiasaan unik: sholat subuh memang dilaksanakan di akhir waktu. Setelah adzan dikumandangkan, masih ada jeda yang cukup panjang sebelum sholat dimulai. Jeda itu diisi dengan tilawah Al-Qur’an, dipimpin oleh seorang qari, sementara jamaah menyimak atau ikut membaca dalam diam.
Satu juz selesai dibaca, barulah sholat subuh dilaksanakan.
Yang membuat kami semakin tertegun, sebagian jamaah terutama ibu-ibu dari jamaah Indonesia justru sudah meninggalkan masjid. Mungkin mereka mengira sholat subuh telah selesai. Padahal, sholat yang dinanti-nanti itu justru belum dimulai. Subuh belum ditegakkan; ia sedang menunggu saatnya sendiri.
Di situlah aku benar-benar merasakan betapa beragamnya wajah ibadah umat Islam. Tradisi sholat subuh di Turki ini terasa sangat berbeda dengan di Indonesia, di mana sholat subuh umumnya dilakukan di awal waktu, segera setelah adzan dan iqamah dikumandangkan.
Perbedaan ini tidak untuk dibandingkan mana yang lebih benar. Ia justru mengajarkan satu hal penting: bahwa Islam hidup dalam banyak budaya, dan setiap tempat memiliki caranya sendiri dalam memuliakan waktu-waktu ibadah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar