Minggu, 05 Agustus 2018

BERCITA-CITA MATI SYAHID



BERCITA-CITA MATI SYAHID




: *MUTHOLAAH Vol. 90*    27/01/2018



☄☄๐ŸŽ‹๐ŸŽ‹๐ŸŒณ๐ŸŒณ

_ุนَู†ْ ุฃَู†َุณِ ุจْู†ِ ู…َุงู„ِูƒٍ ู‚َุงู„َ:_
ู‚َุงู„َ ุฑَุณُูˆู„ُ ุงู„ู„َّู‡ِ ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„َّู‡ُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ :

*ู…َู†ْ ุทَู„َุจَ ุงู„ุดَّู‡َุงุฏَุฉَ ุตَุงุฏِู‚ًุง ุฃُุนْุทِูŠَู‡َุง ูˆَู„َูˆْ ู„َู…ْ ุชُุตِุจْู‡ُ*

                              ุฑูˆุงู‡ ู…ุณู„ู…

▪▪▪▪▪▪▪▪▪▪

*_๐ŸŒทArti hadits:_*

_Dari Anas bin Malik dia berkata,_
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
_*"Barangsiapa memohon syahadah (mati dalam keadaan syahid) dengan sungguh-sungguh, maka sungguh ia akan diberi pahala seperti pahala mati syahid meskipun ia tidak mati syahid."*_
(HR. Muslim, Sohih).

            ☄☄๐ŸŽ‹๐ŸŽ‹๐ŸŒณ๐ŸŒณ

*_๐ŸŒทPENGERTIAN HADITS :_* 

๐Ÿ’ฌKabar gembira dari Nabi Muhammad SAW untuk mukmin pendamba syahid.

๐Ÿ’ฌSetiap mukmin yang bercita-cita mati syahid,  dรจngan *sebenar-benar dia memohon kepada Allah* ,maka pasti Allah akan mengabulkan keinginannya.

๐Ÿ’ฌDia akan disejajarkan dengan para syuhada' (orang yang mati dimedan jihad)  beserta seluruh kemulyaan yang diberikan kepadanya. Meski matinya belum tentu ditempat yang dan dengan cara yang sama pula.
_Akan tetapi  kekuatan niat dan cita-citanyalah yang mengantarkannya kepada derajat syuhada'._ 

๐Ÿ’ฌBerkata Iyadh : _"Hadits ini menunjukkan bahwa niat kuat kepada amal kebaikan yang belum terlaksana karena suatu udzur tertentu, maka akan mengantarkan yang bersangkutan kepada derajat orang yang telah mengerjakan amalan tersebut"_ (Faidhul Qodir jilid 6, hal.227). 

๐Ÿ’ฌ Pahala mati syahid sangatlah banyak:

๐ŸŒบRasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: _“Bagi orang syahid di sisi Allah ia beroleh beberapa perkara_, yaitu : 

_1.Diampuni dosanya pada awal mengalirnya darah_, 

_2. Diperlihatkan tempat duduknya di surga,_ 

_3. dilindungi dari adzab kubur,_ 

_4. aman dari kengerian yang besar (hari kiamat),_

_5. dipakaikan perhiasan iman_, 

_6. dinikahkan dengan 70 hurun ‘in (bidadari surga), dan_ 

_7. diperkenankan memberi syafaat kepada tujuh puluh orang dari kalangan kerabatnya.”_

(HR. At-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad dengan sanad yang shahih).

๐ŸŒบMendapat karomah dan kenikmatan ketika sakarotul mautnya.

Rosulullah SAW bersabda : 

*ู…َุง ู…ِู†ْ ุฃَุญَุฏٍ ูŠَุฏْุฎُู„ُ ุงู„ْุฌَู†َّุฉَ ูŠُุญِุจُّ ุฃَู†ْ ูŠَุฑْุฌِุนَ ุฅِู„َู‰ ุงู„ุฏُّู†ْูŠَุง ูˆَุฃَู†َّ ู„َู‡ُ ู…َุง ุนَู„َู‰ ุงู„ุฃَุฑْุถِ ู…ِู†ْ ุดَู‰ْุกٍ ุฅِู„ุงَّ ุงู„ุดَّู‡ِูŠุฏِ ูَุฅِู†َّู‡ُ ูŠَุชَู…َู†َّู‰ ุฃَู†ْ ูŠَุฑْุฌِุนَ ูَูŠُู‚ْุชَู„َ ุนَุดْุฑَ ู…َุฑَّุงุชٍ ู„ِู…َุง ูŠَุฑَู‰ ู…ِู†َ ุงู„ْูƒَุฑَุงู…َุฉِ*

_“Tidak ada orang masuk surga lalu ia menginginkan kembali ke dunia padahal ia memiliki segala sesuatu yang ada di dunia ini, kecuali orang yang mati syahid. Dia bercita-cita untuk kembali ke dunia kemudian dibunuh, berulang sepuluh kali, setelah dia melihat besarnya kemuliaan (mati syahid)”_ (HR. Bukhari dan Muslim)

*๐Ÿ’ฌ Macam-macam mati syahid*

 Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : 
_*“Orang-orang yang mati syahid yang selain terbunuh di jalan Allah ‘azza wa jalla itu ada tujuh orang :*_ 

▪Korban wabah 
▪mati tenggelam (ketika melakukan safar dalam rangka ketaatan) 
▪yang punya luka pada lambung.
▪mati karena penyakit perut 
▪korban kebakaran 
▪yang mati tertimpa reruntuhan
▪dan seorang wanita yang meninggal karena melahirkan (dalam keadaan nifas atau dalam keadaan bayi masih dalam perutnya) 

(HR. Abu Daud, no. 3111. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih).

*๐Ÿ’ฌOrang yang mati syahid ada 3:*

_1. Syahid dunia dan akhirat,_
merekalah orang yang terbunuh karena sebab apapun di medan perang melawan orang kafir.

_2. Syahid akhirat,_ namun hukum di dunia tidak syahid. Mereka adalah orang yang disebut syahid dalam hadits diatas, mati di selain medan perang ( seperti orang tenggelam dst).

_3. Syahid dunia, dan bukan akhirat_. 
Dialah orang yang mati di medan jihad, sementara dia ghulul (mencuri ghanimah), atau terbunuh ketika lari dari medan perang, atau sebab lainnya.
(Umdatul Qari Syarh Shahih Bukhari, 14/128).

๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ
*Ya Allah kami mohon, matikan kami dalam keadaan syahid Ya Roob!!!*
๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ
▪▪▪▪▪▪▪▪▪▪▪
      ๐Ÿ’ MT AS SAKINAH ๐Ÿ’
Kunjungi : 
- # http://talimassakinah.blogspot.co.id 
- # fb : Taklim As Sakinah
- # Gmail : jauharulfoundation@gmail.com

MAKNA RITUAL IBADAH HAJI



MAKNA RITUAL IBADAH HAJI






DAFTAR ISI
                                     


                                                       

 

Sabtu, 14 April 2018

10 Alasan Kenapa Laki-Laki Harus Shalat Berjamaah Di Masjid




10 Alasan Kenapa Laki-Laki Harus Shalat Berjamaah Di Masjid


Memang ada ikhtilaf ulama apakah Wajib Ain bagi laki-laki hukumnya shalat  berjamaah di masjid atau hukumnya sunnah saja. Betapapun sholat jamaah di masjid itu keharusan dan mempunyai banyak faedah. Berikut dalil-dalilnya :

1. Allah yang langsung memerintahkan dalam al-Quran agar shalat berjamaah.

Allah Ta’ala berfirman,

ูˆَุฃَู‚ِูŠู…ُูˆุง ุงู„ุตَّู„ุงَุฉَ ูˆَุกَุงุชُูˆุง ุงู„ุฒَّูƒَุงุฉَ ูˆَุงุฑْูƒَุนُูˆุง ู…َุนَ ุงู„ุฑَّุงูƒِุนِูŠู†َ

“Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah beserta orang-orang yang ruku’.” (Al-Baqarah: 43)

Ibnul Qayyim Al-Jauziyahrahimahullah berkata,

، ูู„ุง ุจุฏ ู„ู‚ูˆู„ู‡ { ู…ุน ุงู„ุฑุงูƒุนูŠู† } ู…ู† ูุงุฆุฏุฉ ุฃุฎุฑู‰ ูˆู„ูŠุณุช ุฅู„ุง ูุนู„ู‡ุง ู…ุน ุฌู…ุงุนุฉ ุงู„ู…ุตู„ูŠู† ูˆุงู„ู…ุนูŠุฉ ุชููŠุฏ ุฐู„ูƒ

“makna firman Allah “ruku’lah beserta orang-orang yang ruku’, faidahnya yaitu tidaklah dilakukan kecuali bersama jamaah yang shalat dan bersama-sama.”[1]



2. saat-saat perang berkecamuk, tetap diperintahkan shalat berjamaah. Maka apalagi suasana aman dan tentram. Dan ini perintah langsung dari Allah dalam al-Quran

Allah Ta’ala berfirman,

ูˆَุฅِุฐَุง ูƒُู†ุชَ ูِูŠู‡ِู…ْ ูَุฃَู‚َู…ْุชَ ู„َู‡ُู…ُ ุงู„ุตَّู„ุงَุฉَ ูَู„ْุชَู‚ُู…ْ ุทَุขุฆِูَุฉُُ ู…ِّู†ْู‡ُู… ู…َّุนَูƒَ ูˆَู„ِูŠَุฃْุฎُุฐُูˆุง ุฃَุณْู„ِุญَุชَู‡ُู…ْ ูَุฅِุฐَุง ุณَุฌَุฏُูˆุง ูَู„ْูŠَูƒُูˆู†ُูˆุง ู…ِู† ูˆَุฑَุขุฆِูƒُู…ْ ูˆَู„ْุชَุฃْุชِ ุทَุขุฆِูَุฉٌ ุฃُุฎْุฑَู‰ ู„َู…ْ ูŠُุตَู„ُّูˆุง ูَู„ْูŠُุตَู„ُّูˆุง ู…َุนَูƒَ ูˆَู„ْูŠَุฃْุฎُุฐُูˆุง ุญِุฐْุฑَู‡ُู…ْ ูˆَุฃَุณْู„ِุญَุชَู‡ُู…ْ ูˆَุฏَّ ุงู„َّุฐِูŠู†َ ูƒَูَุฑُูˆุง ู„َูˆْ ุชَุบْูُู„ُูˆู†َ ุนَู†ْ ุฃَุณْู„ِุญَุชِูƒُู…ْ ูˆَุฃَู…ْุชِุนَุชِูƒُู…ْ ูَูŠَู…ِูŠู„ُูˆู†َ ุนَู„َูŠْูƒُู… ู…َّูŠْู„َุฉً ูˆَุงุญِุฏَุฉً ูˆَู„ุงَ ุฌُู†َุงุญَ ุนَู„َูŠْูƒُู…ْ ุฅِู† ูƒَุงู†َ ุจِูƒُู…ْ ุฃَุฐًู‰ ู…ِّู† ู…َّุทَุฑٍ ุฃَูˆْ ูƒُู†ุชُู… ู…َّุฑْุถَู‰ ุฃَู† ุชَุถَุนُูˆุง ุฃَุณْู„ِุญَุชَูƒُู…ْ ูˆَุฎُุฐُูˆุง ุญِุฐْุฑَูƒُู…ْ ุฅِู†َّ ุงู„ู„ู‡َ ุฃَุนَุฏَّ ู„ِู„ْูƒَุงูِุฑِูŠู†َ ุนَุฐَุงุจًุง ู…ُّู‡ِูŠู†ًุง

“Dan apabila kamu berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu) lalu kamu hendak mendirikan shalat bersama-sama mereka, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (shalat) besertamu dan menyandang senjata, kemudian apabila mereka (yang shalat bersamamu) sujud (telah menyempurnakan  satu rakaat), maka hendaklah mereka pindah dari belakangmu (untuk menghadapi musuh) dan hendaklah datang golongan yang kedua yang belum shalat, lalu shalatlah mereka denganmu.” (An-Nisa’ 102)

Ibnu Mundzir rahimahullah berkata,

ูููŠ ุฃู…ุฑ ุงู„ู„ู‡ ุจุฅู‚ุงู…ุฉ ุงู„ุฌู…ุงุนุฉ ููŠ ุญุงู„ ุงู„ุฎูˆู : ุฏู„ูŠู„ ุนู„ู‰ ุฃู† ุฐู„ูƒ ููŠ ุญุงู„ ุงู„ุฃู…ู† ุฃูˆุฌุจ .



“pada perintah Allah untuk tetap menegakkan shalat jamaah ketika takut (perang) adalah dalil bahwa shalat berjamaah ketika kondisi aman lebih wajib lagi.”[2]



Ibnul Qayyim Al-Jauziyahrahimahullah menjelaskan,

ูˆููŠ ู‡ุฐุง ุฏู„ูŠู„ ุนู„ู‰ ุฃู† ุงู„ุฌู…ุงุนุฉ ูุฑุถ ุนู„ู‰ ุงู„ุฃุนูŠุงู† ุฅุฐ ู„ู… ูŠุณู‚ุทู‡ุง ุณุจุญุงู†ู‡ ุนู† ุงู„ุทุงุฆูุฉ ุงู„ุซุงู†ูŠุฉ ุจูุนู„ ุงู„ุฃูˆู„ู‰، ูˆู„ูˆ ูƒุงู†ุช ุงู„ุฌู…ุงุนุฉ ุณู†ุฉ ู„ูƒุงู† ุฃูˆู„ู‰ ุงู„ุฃุนุฐุงุฑ ุจุณู‚ูˆุทู‡ุง ุนุฐุฑ ุงู„ุฎูˆู، ูˆู„ูˆ ูƒุงู†ุช ูุฑุถ ูƒูุงูŠุฉ ู„ุณู‚ุทุช ุจูุนู„ ุงู„ุทุงุฆูุฉ ุงู„ุฃูˆู„ู‰ …ูˆุฃู†ู‡ ู„ู… ูŠุฑุฎุต ู„ู‡ู… ููŠ ุชุฑูƒู‡ุง ุญุงู„ ุงู„ุฎูˆู

“Ayat ini merupakan dalil yang sangat jelas bahwa shalat berjamaah hukumnya fardhu ain bukan hanya sunnah atau fardhu kifayah,  Seandainya hukumnya sunnah tentu keadaan takut dari musuh adalah udzur yang utama. Juga bukan fardhu kifayah karena Alloh menggugurkan kewajiban berjamaah atas rombongan kedua dengan telah berjamaahnya rombongan pertama… dan Allah tidak memberi keringanan bagi mereka untuk meninggalkan shalat berjamaah dalam keadaan ketakutan (perang).“[3]



3.Orang buta yang tidak ada penuntut ke masjid tetap di perintahkan shalat berjamaah ke masjid jika mendengar adzan, maka bagaimana yang matanya sehat?

Dari Abu Hurairah radhiallahu anhudia berkata,

ุฃَุชَู‰ ุงู„ู†َّุจِูŠَّ ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„َّู‡ُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ ุฑَุฌُู„ٌ ุฃَุนْู…َู‰ ูَู‚َุงู„َ ูŠَุง ุฑَุณُูˆู„َ ุงู„ู„َّู‡ِ ุฅِู†َّู‡ُ ู„َูŠْุณَ ู„ِูŠ ู‚َุงุฆِุฏٌ ูŠَู‚ُูˆุฏُู†ِูŠ ุฅِู„َู‰ ุงู„ْู…َุณْุฌِุฏِ ูَุณَุฃَู„َ ุฑَุณُูˆู„َ ุงู„ู„َّู‡ِ ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„َّู‡ُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ ุฃَู†ْ ูŠُุฑَุฎِّุตَ ู„َู‡ُ ูَูŠُุตَู„ِّูŠَ ูِูŠ ุจَูŠْุชِู‡ِ ูَุฑَุฎَّุตَ ู„َู‡ُ ูَู„َู…َّุง ูˆَู„َّู‰ ุฏَุนَุงู‡ُ ูَู‚َุงู„َ ู‡َู„ْ ุชَุณْู…َุนُ ุงู„ู†ِّุฏَุงุกَ ุจِุงู„ุตَّู„َุงุฉِ ู‚َุงู„َ ู†َุนَู…ْ ู‚َุงู„َ ูَุฃَุฌِุจْ

“Seorang buta pernah menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan berujar, “Wahai Rasulullah, saya tidak memiliki seseorang yang akan menuntunku ke masjid.” Lalu dia meminta keringanan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk shalat di rumah, maka beliaupun memberikan keringanan kepadanya. Ketika orang itu beranjak pulang, beliau kembali bertanya, “Apakah engkau mendengar panggilan shalat (azan)?” laki-laki itu menjawab, “Ia.” Beliau bersabda, “Penuhilah seruan tersebut (hadiri jamaah shalat).”[4]

Dalam hadits yang lain yaitu, Ibnu Ummi Maktum (ia buta matanya). Dia berkata,

ูŠَุง ุฑَุณُูˆู„َ ุงู„ู„َّู‡ِ ุฅِู†َّ ุงู„ْู…َุฏِูŠู†َุฉَ ูƒَุซِูŠุฑَุฉُ ุงู„ْู‡َูˆَุงู…ِّ ูˆَุงู„ุณِّุจَุงุนِ. ูَู‚َุงู„َ ุงู„ู†َّุจِู‰ُّ -ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู…- « ุฃَุชَุณْู…َุนُ ุญَู‰َّ ุนَู„َู‰ ุงู„ุตَّู„ุงَุฉِ ุญَู‰َّ ุนَู„َู‰ ุงู„ْูَู„ุงَุญِ ูَุญَู‰َّ ู‡َู„ุงَ ».

“Wahai Rasulullah, di Madinah banyak sekali tanaman dan binatang buas. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apakah kamu mendengar seruan adzan hayya ‘alash sholah, hayya ‘alal falah? Jika iya, penuhilah seruan adzan tersebut”.”[5]



4.wajib shalat berjamaah di masjid jika mendengar adzan

Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

ู…َู†ْ ุณَู…ِุนَ ุงู„ู†ِّุฏَุงุกَ ูَู„َู…ْ ูŠَุฃْุชِู‡ِ ูَู„َุง ุตَู„َุงุฉَ ู„َู‡ُ ุฅِู„َّุง ู…ِู†ْ ุนُุฐْุฑٍ

“Barangsiapa yang mendengar azan lalu tidak mendatanginya, maka tidak ada shalat baginya, kecuali bila ada uzur.” [6]



5.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan ancaman kepada laki-laki yang tidak shalat berjamaah di masjid dengan membakar rumah mereka.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

ุฅِู†َّ ุฃَุซْู‚َู„َ ุตَู„َุงุฉٍ ุนَู„َู‰ ุงู„ْู…ُู†َุงูِู‚ِูŠู†َ ุตَู„َุงุฉُ ุงู„ْุนِุดَุงุกِ ูˆَุตَู„َุงุฉُ ุงู„ْูَุฌْุฑِ ูˆَู„َูˆْ ูŠَุนْู„َู…ُูˆู†َ ู…َุง ูِูŠู‡ِู…َุง ู„َุฃَุชَูˆْู‡ُู…َุง ูˆَู„َูˆْ ุญَุจْูˆًุง ูˆَู„َู‚َุฏْ ู‡َู…َู…ْุชُ ุฃَู†ْ ุขู…ُุฑَ ุจِุงู„ุตَّู„َุงุฉِ ูَุชُู‚َุงู…َ ุซُู…َّ ุขู…ُุฑَ ุฑَุฌُู„ًุง ูَูŠُุตَู„ِّูŠَ ุจِุงู„ู†َّุงุณِ ุซُู…َّ ุฃَู†ْุทَู„ِู‚َ ู…َุนِูŠ ุจِุฑِุฌَุงู„ٍ ู…َุนَู‡ُู…ْ ุญُุฒَู…ٌ ู…ِู†ْ ุญَุทَุจٍ ุฅِู„َู‰ ู‚َูˆْู…ٍ ู„َุง ูŠَุดْู‡َุฏُูˆู†َ ุงู„ุตَّู„َุงุฉَ ูَุฃُุญَุฑِّู‚َ ุนَู„َูŠْู‡ِู…ْ ุจُูŠُูˆุชَู‡ُู…ْ ุจِุงู„ู†َّุงุฑِ

“Shalat yang dirasakan paling berat bagi orang-orang munafik adalah shalat isya dan shalat subuh.Sekiranya mereka mengetahui keutamaannya, niscaya mereka akan mendatanginya sekalipun dengan merangkak. Sungguh aku berkeinginan untuk menyuruh seseorang sehingga shalat didirikan, kemudian kusuruh seseorang mengimami manusia, lalu aku bersama beberapa orang membawa kayu bakar mendatangi suatu kaum yang tidak menghadiri shalat, lantas aku bakar rumah-rumah mereka.”[7]

Ibnu Mundzir rahimahullah berkata,

ูˆููŠ ุงู‡ุชู…ุงู…ู‡ ุจุฃู† ูŠุญุฑู‚ ุนู„ู‰ ู‚ูˆู… ุชุฎู„ููˆุง ุนู† ุงู„ุตู„ุงุฉ ุจูŠูˆุชู‡ู… ุฃุจูŠู† ุงู„ุจูŠุงู† ุนู„ู‰ ูˆุฌูˆุจ ูุฑุถ ุงู„ุฌู…ุงุนุฉ

“keinginan beliau (membakar rumah) orang yang tidak ikut shalat berjamaah di masjid merupakan dalil yang sangat jelas akan wajib ainnya shalat berjamaah di masjid”[8]



6.tidak shalat berjamaah di masjid di anggap “munafik” oleh para sahabat.

Dari Abdullah bin Mas’udradhiallahu anhu dia berkata:

ูˆَู„َู‚َุฏْ ุฑَุฃَูŠْุชُู†َุง ูˆَู…َุง ูŠَุชَุฎَู„َّูُ ุนَู†ْู‡َุง ุฅِู„َّุง ู…ُู†َุงูِู‚ٌ ู…َุนْู„ُูˆู…ُ ุงู„ู†ِّูَุงู‚ِ ูˆَู„َู‚َุฏْ ูƒَุงู†َ ุงู„ุฑَّุฌُู„ُ ูŠُุคْุชَู‰ ุจِู‡ِ ูŠُู‡َุงุฏَู‰ ุจَูŠْู†َ ุงู„ุฑَّุฌُู„َูŠْู†ِ ุญَุชَّู‰ ูŠُู‚َุงู…َ ูِูŠ ุงู„ุตَّูِّ

“Menurut pendapat kami (para sahabat), tidaklah seseorang itu tidak hadir shalat jamaah, melainkan dia seorang munafik yang sudah jelas kemunafikannya.Sungguh dahulu seseorang dari kami harus dipapah di antara dua orang hingga diberdirikan si shaff (barisan) shalat yang ada.”[9]



7.shalat berjamaah mendapat pahala lebih banyak

Dalam satu riwayat 27 kali lebih banyak

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

ุตَู„َุงุฉُ ุงู„ْุฌَู…َุงุนَุฉِ ุฃَูْุถَู„ُ ู…ِู†ْ ุตَู„َุงุฉِ ุงู„ْูَุฐِّ ุจِุณَุจْุนٍ ูˆَุนِุดْุฑِูŠู†َ ุฏَุฑَุฌَุฉً

“Shalat berjamaah itu lebih utama daripada shalat sendirian dengan 27 derajat.”[10]

diriwayat yang lain 25 kali lebih banyak:

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

ุตَู„َุงุฉُ ุงู„ْุฌَู…َุงุนَุฉِ ุชَุนْุฏِู„ُ ุฎَู…ْุณًุง ูˆَุนِุดْุฑِูŠู†َ ู…ِู†ْ ุตَู„َุงุฉِ ุงู„ْูَุฐِّ

“Shalat berjamaah itu lebih utama daripada shalat sendirian dengan 25 derajat.”[11]

Banyak kompromi hadits mengenai perbedaan jumlah bilangan ini. Salah satunya adalah “mafhum adad” yaitu penyebutan bilangan tidak membatasi.



8.keutamaan shalat berjamaah yang banyak

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

ู…َู†ْ ุตَู„َّู‰ ุงู„ْุนِุดَุงุกَ ูِูŠ ุฌَู…َุงุนَุฉٍ ูƒَุงู†َ ูƒَู‚ِูŠَุงู…ِ ู†ِุตْูِ ู„َูŠْู„َุฉٍ ูˆَู…َู†ْ ุตَู„َّู‰ ุงู„ْุนِุดَุงุกَ ูˆَุงู„ْูَุฌْุฑَ ูِูŠ ุฌَู…َุงุนَุฉٍ ูƒَุงู†َ ูƒَู‚ِูŠَุงู…ِ ู„َูŠْู„َุฉٍ

“Barang siapa shalat isya dengan berjamaah, pahalanya seperti shalat setengah malam. Barang siapa shalat isya dan subuh dengan berjamaah, pahalanya seperti shalat semalam penuh.”[12]



9. tidak shalat berjamaah akan dikuasai oleh setan

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

ู…َุง ู…ِู†ْ ุซَู„َุงุซَุฉٍ ูِูŠ ู‚َุฑْูŠَุฉٍ ูˆَู„َุง ุจَุฏْูˆٍ ู„َุง ุชُู‚َุงู…ُ ูِูŠู‡ِู…ْ ุงู„ุตَّู„َุงุฉُ ุฅِู„َّุง ู‚َุฏْ ุงุณْุชَุญْูˆَุฐَ ุนَู„َูŠْู‡ِู…ْ ุงู„ุดَّูŠْุทَุงู†ُ ูَุนَู„َูŠْูƒَ ุจِุงู„ْุฌَู…َุงุนَุฉِ ูَุฅِู†َّู…َุง ูŠَุฃْูƒُู„ُ ุงู„ุฐِّุฆْุจُ ุงู„ْู‚َุงุตِูŠَุฉَ

“Tidaklah tiga orang di suatu desa atau lembah yang tidak didirikan shalat berjamaah di lingkungan mereka, melainkan setan telah menguasai mereka. Karena itutetaplah kalian (shalat) berjamaah, karena sesungguhnya srigala itu hanya akan menerkam kambing yang sendirian (jauh dari kawan-kawannya).”[13]



10.amal yang pertama kali dihisab adalah shalat, jika baik maka seluruh amal baik dan sebaliknya, apakah kita pilih shalat yang sekedarnya saja atau meraih pahala tinggi dengan shalat berjamaah?

Nabi  shallallahu ‘alaihi wasallambersabda,

ุฅِู†َّ ุฃَูˆَّู„َ ู…َุง ูŠُุญَุงุณَุจُ ุงู„ู†َّุงุณُ ุจِู‡ِ ูŠَูˆْู…َ ุงู„ْู‚ِูŠَุงู…َุฉِ ู…ِู†ْ ุฃَุนْู…َุงู„ِู‡ِู…ْ ุงู„ุตَّู„َุงุฉُ ู‚َุงู„َ ูŠَู‚ُูˆู„ُ ุฑَุจُّู†َุง ุฌَู„َّ ูˆَุนَุฒَّ ู„ِู…َู„َุงุฆِูƒَุชِู‡ِ ูˆَู‡ُูˆَ ุฃَุนْู„َู…ُ ุงู†ْุธُุฑُูˆุง ูِูŠ ุตَู„َุงุฉِ ุนَุจْุฏِูŠ ุฃَุชَู…َّู‡َุง ุฃَู…ْ ู†َู‚َุตَู‡َุง ูَุฅِู†ْ ูƒَุงู†َุชْ ุชَุงู…َّุฉً ูƒُุชِุจَุชْ ู„َู‡ُ ุชَุงู…َّุฉً ูˆَุฅِู†ْ ูƒَุงู†َ ุงู†ْุชَู‚َุตَ ู…ِู†ْู‡َุง ุดَูŠْุฆًุง ู‚َุงู„َ ุงู†ْุธُุฑُูˆุง ู‡َู„ْ ู„ِุนَุจْุฏِูŠ ู…ِู†ْ ุชَุทَูˆُّุนٍ ูَุฅِู†ْ ูƒَุงู†َ ู„َู‡ُ ุชَุทَูˆُّุนٌ ู‚َุงู„َ ุฃَุชِู…ُّูˆุง ู„ِุนَุจْุฏِูŠ ูَุฑِูŠุถَุชَู‡ُ ู…ِู†ْ ุชَุทَูˆُّุนِู‡ِ ุซُู…َّ ุชُุคْุฎَุฐُ ุงู„ْุฃَุนْู…َุงู„ُ ุนَู„َู‰ ุฐَุงูƒُู…ْ

“Sesungguhnya yang pertama kali akan dihisab dari amal perbuatan manusia pada hari kiamat adalah shalatnya. Rabb kita Jalla wa ‘Azza berfirman kepada para malaikat-Nya -padahal Dia lebih mengetahui,“Periksalah shalat hamba-Ku, sempurnakah atau justru kurang?” Sekiranya sempurna, maka akan dituliskan baginya dengan sempurna, dan jika terdapat kekurangan maka Allah berfirman, “Periksalah lagi, apakah hamba-Ku memiliki amalan shalat sunnah?” Jikalau terdapat shalat sunnahnya, Allah berfirman, “Sempurnakanlah kekurangan yang ada pada shalat wajib hamba-Ku itu dengan shalat sunnahnya.” Selanjutnya semua amal manusia akan dihisab dengan cara demikian.”[14]



Khusus bagi yang mengaku mazhab Syafi’i (mayoritas di Indonesia), maka Imam Syafi’i mewajibkan shalat berjamaah dan tidak memberi keringanan (rukshah).

Imam Asy Syafi’i  rahimahullahberkata,

ูˆุฃู…ุง ุงู„ุฌู…ุงุนุฉ ูู„ุง ุงุฑุฎุต ููŠ ุชุฑูƒู‡ุง ุฅู„ุง ู…ู† ุนุฐุฑ

“Adapun shalat jama’ah, aku tidaklah memberi keringanan bagi seorang pun untuk meninggalkannya kecuali bila ada udzur.”[15]

Berikut ini beberapa keutamaan shalat berjamaah di masjid.
1. Memenuhi panggilan azan dengan niat untuk melaksanakan shalat berjamaah.
2. Bersegera untuk shalat di awal waktu.
3. Berjalan menuju ke masjid dengan tenang (tidak tergesa-gesa).
4. Masuk ke masjid sambil berdoa.
5. Shalat tahiyyatul masjid ketika masuk masjid. Semua ini dilakukan dengan niat untuk melakukan shalat berjamaah.
6. Menunggu jamaah (yang lain).
7. Doa malaikat dan permohonan ampun untuknya.
8. Persaksian malaikat untuknya.
9. Memenuhi panggilan iqamat.
10. Terjaga dari gangguan setan karena setan lari ketika iqamat dikumandangkan.
11. Berdiri menunggu takbirnya imam.
12. Mendapati takbiratul ihram.
13. Merapikan shaf dan menutup celah (bagi setan).
1 4 . Menjawab imam saat mengucapkan sami’allah.
15. Secara umum terjaga dari kelupaan.
16. Akan memperoleh kekhusyukan dan selamat dari kelalaian.
17. Memosisikan keadaan yang bagus.
18. Mendapatkan naungan malaikat.
19. Melatih untuk memperbaiki bacaan al-Qur’an.
20. Menampakkan syiar Islam.
21. Membuat marah (merendahkan) setan dengan berjamaah di atas ibadah, saling ta’awun di atas ketaatan, dan menumbuhkan rasa giat bagi orangorang yang malas.
22. Terjaga dari sifat munafik.
23. Menjawab salam imam.
24. Mengambil manfaat dengan berjamaah atas doa dan zikir serta kembalinya berkah orang yang mulia kepada orang yang lebih rendah.
25. Terwujudnya persatuan dan persahabatan antartetangga dan terwujudnya pertemuan setiap waktu shalat.
26. Diam dan mendengarkan dengan saksama bacaan imam serta mengucapkan “amiin” saat imam membaca “amiin”, agar bertepatan dengan ucapan amin para malaikat.[16]



Masih banyak dalil-dalil lainnya mengenai wajib dan keutamaan shalat berjamaah di masjid.



Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush shalihaat, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam


Penyusun: dr. Raehanul Bahraen

www.muslimafiyah.com



[1] Ash-Shalatu wa hukmu tarikihahal. 139-141

[2] Al- Ausath 4/135

[3] Kitab Sholah hal. 138, Ibnu Qoyyim

[4] HR. Muslim no. 653

[5] HR. Abu Daud, Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits inishahih

[6] HR. Abu Daud dan Ibnu Majah. dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Misykat al-Mashabih: 1077 dan Irwa’ al-Ghalil no. 551

[7] HR. Al-Bukhari no. 141 dan Muslim no. 651

[8] Al-Ausath 4/134

[9] HR. Muslim no. 654

[10] HR. Bukhari

[11] HR. Muslim

[12]  Fathul Bari 2/154—157

[13]  HR. Abu Daud no. 547, An-Nasai no. 838, dan sanadnya dinyatakan hasan oleh An-Nawawi

[14] HR. Abu Daud no. 964, At-Tirmizi no. 413 dishahih oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 2571

[15] Ash Shalah wa Hukmu Tarikihahal. 107

[16] Syarh al-Bukhari, al-‘Utsaimin, 3/62, Fathul Bari, 2/154—157, dinukil dari situs..

__

Sabtu, 17 Maret 2018

๐Ÿ“ *Upah dari Bekam*

Assalamualaikum ustadz, sekarang sdng  ramai mengenai ceramah / fatwa mengenai upah bekam, apalagi ust erwandi tarmidzi memfatwakan khabits (jelek), sedangkan saya jg sbg al hajim, mohon penjelasannya ustadz

๐Ÿ’ Jawaban ๐Ÿ€

Wa'alaykumussalam wa rahmatullah wa barakatuh ..

Memang, terdapat beberapa hadits yang mengharamkan dan  mencela perbuatan mengambil upah atas bekam. Dikatakan bahwa upah bekam merupakan sesuatu yang jelek(khabits), sehingga sebagian ulama mengharamkannya.

Namun, ada pula hadits hadits lain yang menunjukkan kebolehan meraih upah atas bekam. Kesimpulan para Ulama, upah atas bekam adalah makruh tanzih (sebatas tidak disukai).

Hadits-hadits yang mengharamkan dan mencela upah atas bekam itu diantaranya :

๐Ÿ”นDari Uqbah Ibn ‘Amr ia berkata :

ู†ู‡ู‰ ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ุนู† ูƒุณุจ ุงู„ุญุฌุงู…

_“Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wasallam melarang mencari rizki (penghasilan) melalui profesi tukang bekam”._ *(HR. Ibnu Majah No. 2165)*

๐Ÿ”นDari Raafi' bin Khadij radhiyallahu 'anhu, bahwa Nabi shallallaahu 'alayhi wasallam bersabda,

 ุดَุฑُّ ุงู„ْูƒَุณْุจِ ู…َู‡ْุฑُ ุงู„ْุจَุบِูŠِّ ูˆَุซَู…َู†ُ ุงู„ْูƒَู„ْุจِ ูˆَูƒَุณْุจُ ุงู„ْุญَุฌَّุงู…ِ

_"Sejelek-jelek usaha adalah usaha pelacuran, jaul beli anjing dan usaha tukang bekam."_ *(HR. Muslim No. 2931)*

๐Ÿ”นDiriwayat yang lain, juga dari Raafi' bin Khadij radhiyallaahu anhu bahwasanya Nabi shallallaahu 'alayhi wasallam bersabda :

 ุซَู…َู†ُ ุงู„ْูƒَู„ْุจِ ุฎَุจِูŠุซٌ ูˆَู…َู‡ْุฑُ ุงู„ْุจَุบِูŠِّ ุฎَุจِูŠุซٌ ูˆَูƒَุณْุจُ ุงู„ْุญَุฌَّุงู…ِ ุฎَุจِูŠุซٌ

_Hasil penjualan anjing itu khabits (buruk/kotor), upah pelacur itu khabits, dan upah tukang bekam itu khabits._ *(HR. Muslim no. 2932)*

_Khabits_ berarti jelek, buruk. Lafadz ini menunjukkan celaan yang tegas atas apa yang disifati oleh lafadz ini.

Akan tetapi, lafadz khabits tidak selalu menunjukkan kepada makna haram.

Syaikh Abdullah Al Bassam mengatakan :

 ุฅู† ู„ูุธ " ุงู„ุฎุจูŠุซ " ูƒู…ุง ูŠุทู„ู‚ ุนู„ู‰ ุงู„ู…ุญุฑู…، ูŠุทู„ู‚ ุฃูŠุถุง ุนู„ู‰ ุงู„ุดูŠุก ุงู„ุฑุฏูŠุก ูˆุงู„ูƒุณุจ ุงู„ุฏู†ูŠุก، ูƒู‚ูˆู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰: {ูˆู„ุง ุชَูŠَู…ّู…ูˆุง ุงู„ุฎَุจِูŠุซَ ู…ِู†ْู‡ُ ุชُู†ْูِู‚ูˆู†} ูˆุณู…ู‰ ุงู„ุดุงุฑุน ุงู„ุซูˆู… ูˆุงู„ุจุตู„ ุฎุจูŠุซูŠู†. ูุชุณู…ูŠุฉ ูƒุณุจ ุงู„ุญุฌุงู… ุฎุจูŠุซุง ู…ู† ู‡ุฐุง ุงู„ุจุงุจ، ู„ุฃู†ู‡ ู…ูƒุณุจ ุฏู†ูŠุก، ู…ู† ู…ู‡ู†ุฉ ุฒุฑูŠุฉ.
ูˆุงู„ุดุงุฑุน ูŠุฑุบุจ ููŠ ู…ุนุงู„ูŠ ุงู„ุฃู…ูˆุฑ، ูˆุงู„ู…ูƒุงุณุจ ุงู„ุทูŠุจุฉ ุงู„ุดุฑูŠูุฉ. ููŠูƒูˆู† ูƒุณุจ ุงู„ุญุฌุงู… ุฎุจูŠุซุง ู…ู† ุฌุงู†ุจ ุงู„ุขุฎุฐ، ู…ุน ุฃู†ู‡ ุญู„ุงู„ ู„ู‡

"Sesungguhnya istilah ‘khabits’ terkadang digunakan untuk pengertian haram, serta terkadang digunakan untuk pengertian sesuatu yang hina dan pendapatan yang jelek pada pandangan sisi mata manusia, sebagaimana firman Allaah (dalam surah al-Baqarah: 267):

_padahal kamu sendiri tidak mau mengambil khabits(yang jelek) darinya apa yang kamu belanjakan_

 Juga sebagaimana Syara'  menyebut bawang merah dan bawang putih sebagai "khabitsain"(dua perkara yang jelek).

Jadi, upah yang didapat oleh tukang bekam adalah khabits dengan pengertian yang kedua, karena bekam adalah pekerjaan yang hina dina. Padahal, Allaah Taala memberikan motivasi kepada manusia untuk melakukan hal-hal yang baik, termasuk juga mencari pekerjaan yang baik dan mulia. Karena itu, upah bekam ini khabits (jelek) dilihat dari sudut pandang ini, meski upah itu tetap halal bagi tukang bekam tersebut.” *(Taisirul ‘Allam, 1/470. Maktabah As-Shahabah).*

Dan beberapa hadits yang menunjukkan bahwasanya upah bagi tukang bekam adalah halal/boleh.

๐Ÿ”น Dari Ibn 'Abbas radhiyallahu 'anhuma, ia berkata :

ุงุญْุชَุฌَู…َ ุงู„ู†َّุจِูŠُّ ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„َّู‡ُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ ูˆَุฃَุนْุทَู‰ ุงู„َّุฐِูŠ ุญَุฌَู…َู‡ُ ูˆَู„َูˆْ ูƒَุงู†َ ุญَุฑَุงู…ًุง ู„َู…ْ ูŠُุนْุทِู‡ِ

_Nabi shallallaahu 'alayhi wasallam berbekam dan dia memberikan upah kepada yang membekamnya, seandainya itu haram tentu tidak akan dia memberikan upahnya"._*(HR. Al Bukhari No. 2103)*

Dalam lafaz yang lain:

ุงุญْุชَุฌَู…َ ุงู„ู†َّุจِูŠُّ ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„َّู‡ُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ ูˆَุฃَุนْุทَู‰ ุงู„ْุญَุฌَّุงู…َ ุฃَุฌْุฑَู‡ُ

_Nabi shallallaahu 'alayhi wasallam berbekam dan memberikan upah kepada tukang bekamnya.."_*(HR. Al Bukhari No. 2278)*

๐Ÿ”นAnas Ibn Malik radhiyallahu 'anhu ditanya tentang upah dari berbekam, beliau menjawab:

 ุงุญْุชَุฌَู…َ ุฑَุณُูˆู„ُ ุงู„ู„َّู‡ِ ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„َّู‡ُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ ุญَุฌَู…َู‡ُ ุฃَุจُูˆ ุทَูŠْุจَุฉَ ูَุฃَู…َุฑَ ู„َู‡ُ ุจِุตَุงุนَูŠْู†ِ ู…ِู†ْ ุทَุนَุงู…ٍ ูˆَูƒَู„َّู…َ ุฃَู‡ْู„َู‡ُ ูَูˆَุถَุนُูˆุง ุนَู†ْู‡ُ ู…ِู†ْ ุฎَุฑَุงุฌِู‡ِ


_"Rasulullah shallallaahu 'alayhi wasallam pernah berbekam dan yang membekam beliau adalah Abu Thaibah, lantas beliau memerintahkan (keluarganya) supaya memberikan kepada Abu Thaibah dua sha' makanan, dan beliau menganjurkan kepada tuannya supaya dia (tuannya) meringankan tugas yang dibebankan kepada Abu Thaibah."_*(HR. Muslim No. 1577, At Tirmidzi No. 1278)*

Imam Bukhari dalam Shahih-nya, memasukkan hadits tentang bekam di atas dalam 'Kitab Al Ijaarah (Sewa Jasa), Bab Kharaj Al Hajjaam' (Pendapatan Tukang Bekam). Sedangkan Imam Muslim memuatnya dalam judul 'Bab Hilli Ujratil Hijaamah' (Bab Bolehnya Mengambil Upah dalam Hijamah).

Imam At-Tirmidzi rahimahullah memberikan komentar atas hadits di atas :

ูˆَู‚َุฏْ ุฑَุฎَّุตَ ุจَุนْุถُ ุฃَู‡ْู„ِ ุงู„ْุนِู„ْู…ِ ู…ِู†ْ ุฃَุตْุญَุงุจِ ุงู„ู†َّุจِูŠِّ ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„َّู‡ُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ ูˆَุบَูŠْุฑِู‡ِู…ْ ูِูŠ ูƒَุณْุจِ ุงู„ْุญَุฌَّุงู…ِ ูˆَู‡ُูˆَ ู‚َูˆْู„ُ ุงู„ุดَّุงูِุนِูŠِّ

"Sebagian ulama dari kalangan sahabat Nabi shallallaahu 'alayhi wasallam dan selain mereka, memberikan keringanan terhadap pencaharian dari berbekam dan ini pendapat Imam Asy Syafi'I." *(Sunan At Tirmidzi, hal. 304)*

Dan fatwa Imam Malik rahimahullah tentang upah bekam :

ูˆู„ุง ุฃุฑู‰ ุจู‡ ุจุฃุณุง

"Aku berpendapat tidak apa-apa". *(Al Muntaqa Syarh Al Muwaththa', 7/299)*

Sedang pendapat Imam Ahmad Ibn Hanbal :

ูˆู„ูŠุณ ุนู† ุฃุญู…ุฏ ู†ุต ููŠ ุชุญุฑูŠู… ‏ูƒุณุจ ุงู„ุญุฌุงู… ูˆู„ุง ุงู„ุงุณุชุฆุฌุงุฑ ุนู„ูŠู‡ุง ูˆุฅู†ู…ุง ู‚ุงู„: ู†ุญู† ู†ุนุทูŠู‡ ูƒู…ุง ุฃุนุทู‰ ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ‏ูˆุณู„ู… ูˆู†ู‚ูˆู„ ู„ู‡ ูƒู…ุง ู‚ุงู„ ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ู„ู…ุง ุณุฆู„ ุนู† ุฃูƒู„ู‡ ู†ู‡ุงู‡ ูˆู‚ุงู„ ุงุนู„ูู‡ ‏ุงู„ู†ุงุถุญ ูˆุงู„ุฑู‚ูŠู‚"

"Tidak ada perkataan haram dari Imam Ahmad tentang penghasilan berbekam, dan tidak pula bayar jasa untuknya. Yang dia katakan adalah kami memberikan sebagaimana Nabi shallallaahu 'alayhi wasallam juga memberikan, dan kami berkata kepada tukang bekam sebagaimana perkataan Nabi shallallaahu 'alayhi wasallam ketika ditanya memakan hasilnya, Nabi shallallaahu 'alayhi wasallam melarangnya dan bersabda : Berikan kepada tukang siram dan budak. *(Imam Ibn Qudamah, Al Mughni, 5/399)*

Kesimpulannya, para Ulama Hadits serta para Imam fiqh condong pada pendapat bahwa upah bekam merupakan upah yang *halal*. Meski akhirnya, mayoritas ulama berkesimpulan bahwa mengambil upah hasil bekam adalah perbuatan yang dibenci(makruh). *(lmam Shiddiq Hasan Khan, Raudhatun Nadliyyah, 2/132).*

Menurut Imam Shiddiq, hal tersebut karena ada hadits lain yang menunjukkan kepada status kemakruhan upah bekam ini.

Dari Muhayyishah radliyallaahu ‘anhu :

ุฃู†ู‡ ุงุณุชุฃุฐู† ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ّู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ّู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ููŠ ุฅุฌุงุฑุฉ ุงู„ุญุฌุงู… ูู†ู‡ุงู‡ ุนู†ู‡ุง، ูู„ู… ูŠุฒู„ ูŠุณุฃู„ู‡ ูˆูŠุณุชุฃุฐู†ู‡ ุญุชู‰ ุฃู…ุฑู‡ "ุฃู† ุงุนู„ูู‡ ู†ุงุถุญูƒ ูˆุฑู‚ูŠู‚ูƒ".

_“Bahwasannya ia pernah meminta ijin kepada Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wasallam untuk menyewa tukang bekam. Namun beliau melarangnya. Ia terus memohon dan meminta ijin kepada beliau, hingga beliau memerintahkan : ‘Hendaknya upahnya diberikan untuk makan untamu dan budakmu”._ *(HR. Abu Dawud No. 3422, At-Tirmidzi No. 1277, Ibnu Majah No. 2166).*

Kesimpulannya : Jika memang dapat beralih profesi, dan tidak menjadikan aktivitas berbekam sebagai mata pencaharian, maka hal itu lebih baik. Namun jika tidak ada lagi mata pencaharian lain, maka pekerjaan berbekam itu boleh. Semoga Allaah Ta'ala senantiasa memudahkah segala urusan kita.

Wallaahu a'lam.


Sabtu, 24 Februari 2018

TIDAK JATUH PADA LUBANG YANG SAMA

 _*MUTHOLAAH Vol. 89*_ 23/01/2018
๐ŸŽ๐ŸŽ๐Ÿ•ณ๐Ÿ•ณ๐ŸŽ๐ŸŽ๐ŸŽ๐Ÿ•ณ๐Ÿ•ณ๐ŸŽ๐ŸŽ




*TIDAK JATUH PADA LUBANG YANG SAMA* 






_ุนَู†ْ ุฃَุจِูŠ ู‡ُุฑَูŠْุฑَุฉَ ุนَู†ْ ุงู„ู†َّุจِูŠِّ ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„َّู‡ُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ ุฃَู†َّู‡ُ :_

*((ู‚َุงู„َ ู„َุง ูŠُู„ْุฏَุบُ ุงู„ْู…ُุคْู…ِู†ُ ู…ِู†ْ ุฌُุญْุฑٍ ูˆَุงุญِุฏٍ ู…َุฑَّุชَูŠْู†ِ))*
                       _ุฑูˆุงู‡ ุฃุจูˆ ุฏุงูˆุฏ_



➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖

_*Arti Hadits:*_

_Dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda:_

*"Seorang mukmin tidak boleh jatuh dalam satu lubang dua kali."*

_(HR. Abu Dawud, sohih)_

๐ŸŽ๐ŸŽ๐Ÿ•ณ๐Ÿ•ณ๐ŸŽ๐ŸŽ๐ŸŽ๐Ÿ•ณ๐Ÿ•ณ๐ŸŽ๐ŸŽ




*_PENGERTIAN  HADITS_*

*_๐Ÿฅ…" Jatuh dalam satu lubang"_* adalah _*kalimat perumpamaan*_ 
Maksudnya adalah _seorang mukmin yang sadar dan cerdas, semestinya tidak akan mungkin lalai masuk kedalam kesalahan kedua kalinya_. 

๐Ÿฅ…Sebuah perintah sekaligus peringatan bahwa *sebagai orang mukmin , kita harus cerdas*. Cerdas dalam mengambil pelajaran dari kejadian yang sudah berlalu dan cerdas menentukan langkah ke depan dengan konsep dan plaining yang tepat sehingga tidak terjatuh keduakalinya. 

๐Ÿฅ… Pembicaraan dalam hadits ini meliputi urusan dunia maupun agama(akhirat). Jika  telah terjatuh pada keterpurukan dunia seperti tertipu misalkan, maka sebagai seorang mukmin harus lebih waspada lagi kedepannya supaya tidak tertipu untuk keduakalinya. Begitu juga dalam urusan akhirat, ketika khilaf, terjatuh pada lubang dosa, maka segeralah bangkit dari sana. Kemudian ambil hikmah atau pelajaran pada kasus tersebut sehingga tidak lagi jatuh pada kesalahan yang sama untuk kesekian kalinya. 

๐Ÿฅ… Sifat mukmin sejati,  jika terjatuh pada perbuatan dosa,  hati sanubarinya akan merasakan beban berat dalam hidup. Sehingga tidak akan mungkin, seorang mukmin sejati melakukan kesalahan dan dosa berulang kali. 

๐Ÿฅ… Nabi Yusuf  'alaihi salam tidak mau berkomunikasi dengan seorang wanita siapapun pasca kasusnya dengan Zulaikho'. Karena beliau mengerti betul,dan menjaga agar ketergelincirannya kemarin tidak terulang kembali. 

_Disarikan dari kitab : Faidhul Qodir, jilid 6, hadits no. 9985_
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
     ๐Ÿ’MT AS SAKINAH๐Ÿ’

Kunjungi : 
- # http://talimassakinah.blogspot.co.id
- # fb : Taklim As Sakinah
- # Gmail : jauharulfoundation@gmail.com