Selasa, 29 Januari 2019

MANFAAT SHOLAT MALAM

*MUTHOLAAH Vol. 104*


“MANFAAT SHOLAT MALAM”




عَنْ بِلَالٍ رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ :
))عَلَيْكُمْ بِقِيَامِ اللَّيْلِ فَإِنَّهُ دَأَبُ الصَّالِحِينَ قَبْلَكُمْ , وَإِنَّ قِيَامَ اللَّيْلِ قُرْبَةٌ إِلَى اللَّهِ , وَمَنْهَاةٌ عَنْ الْإِثْمِ , وَتَكْفِيرٌ لِلسَّيِّئَاتِ , وَمَطْرَدَةٌ لِلدَّاءِ عَنْ الْجَسَدِ ((


ARTI HADITS :

Dari Bilal Rodiyallahu 'Anhu bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

“Hendaknya kalian melakukan shalat malam, karena shalat malam adalah kebiasaan orang-orang shalih sebelum kalian, dan sesungguhnya shalat malam mendekatkan kepada Allah, serta menghalangi dari dosa, menghapus kesalahan, dan menolak penyakit dari badan”.

[HR. Tirmidzi, Ahmad, dan Hakim, Hadits Hasan].





PENGERTIAN HADITS :

Menurut keterangan para ulama fiqih bahwa “Hukum sholat malam adalah sunah muakkad”. Waktunya adalah setelah sholat ‘isya sampai dengan sebelum waktu sholat shubuh.  Akan tetapi, waktu yang paling utama adalah sepertiga malam yang terakhir dan boleh dikerjakan sesudah tidur ataupun sebelumnya.

Hadits diatas memberikan penjelasan tentang faedah  melaksanakan sholat malam, yaitu : 

1.    Sholat malam adalah kebiasaan  yang dilakukan oleh orang-orang sholeh.  Jadi, orang sholeh lagi hebat pasti  melaksanakan sholat malam.  Sebaliknya “jika seseorang enggan melaksanakan sholat malam”  berarti ia bukanlah termasuk bagian dari jiwa jiwa mulia ini. 

Sebuah hadits mengatakan : 

شَرَفُ الْمُؤْمِنِ قِيَامُهُ بِاللَّيْلِ
“Kemulian seorang mukmin adalah berdirinya dia pada malam hari (untuk shalat malam), dan keperkasaannya adalah ketidakbutuhannya terhadap manusia”.
[HR. ath-Thabarani dan al-Hakim, Hadits Hasan].

2.    Sholat malam  merupakan sarana untuk bisa dekat dengan Allah.  Kesepian dan gelapnya malam merupakan waktu yang sangat cocok seorang hamba untuk berduaan dan bermunajat pada Allah. Dan pada waktu malamlah  Allah membuka rahmatNya seluas luasnya.  Siapapun manusia yang berdoa dan mengadu kepadaNya, niscaya  Allah pedulikan. 

Rasulullah shallallahu‘alaihiwasallam bersabda : 

يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ فَيَقُولُ مَنْ يَدْعُونِى فَأَسْتَجِيبَ لَهُ وَمَنْ يَسْأَلُنِى فَأُعْطِيَهُ وَمَنْ يَسْتَغْفِرُنِى فَأَغْفِرَ لَهُ

Rabb kita turun ke langit dunia pada setiap malam yaitu ketika sepertiga malam terakhir.  Allah berfirman : “Barangsiapa yang berdoa kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan. Barangsiapa yang meminta kepada-Ku, niscaya Aku penuhi. Dan barangsiapa yang memohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku ampuni”. [HR. Bukhari no. 1145 dan Muslim no. 1808].

3.    Melazimi Sholat malam juga akan bisa mengendalikan diri dari kecenderungan melakukan kemaksiatan. Sholat malam adalah sifat yang melekat pada diri orang sholeh, jika sifat ini juga melekat di dalam diri manusia siapapun dia,  maka pastilah kemaksiatan tidak akan mungkin mendekat.  Mustahil sifat sholeh dan sifat setan bercampur menjadi satu pada satu jiwa manusia sholeh.  Lengkapnya Allah juga berfirman : 

))إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ)( ) سورة العنكبوت(
الآية
“Sesungguhnya sholat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar”.
[QS. Al Ankabut : 45].

4.    Sholat malam juga akan menghapus dosa dan kesalahan yang telah diperbuat. Sudah kita ketahui bersama bahwa amal kebaikan itu akan mengikis dosa dosa, diantaranya yang sangat efektif menghapus dosa ialah ibadah sholat malam.
5.    Sholat malam ternyata tidak hanya memberikan faedah yang bersifat ruh beragama, namun juga memberikan faedah yang bersifat dohir, yaitu dengan sholat malam akan mengusir segala macam penyakit yang hinggap didalam tubuh.


- So... ingin sehat  jasmani dan rohani ? Ayo hidupkan malam malam kita dengan sholat malam.!!




-MT.AS SAKINAH-


Kunjungi :

# FB : Taklim As Sakinah

# Gmail : jauharulfoundation@gmail.com

Menuai Berkah Dalam Bisnis Berjamaah


*MUTHOLAAH VOL.103*

“MENUAI BERKAH DALAM BISNIS BERJAMAAH”





عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَفَعَهُ قَالَ:
إِنَّ اللَّهَ يَقُولُ))أَنَا ثَالِثُ الشَّرِيكَيْنِ مَا لَمْ يَخُنْ أَحَدُهُمَا صَاحِبَهُ فَإِذَا خَانَهُ خَرَجْتُ مِنْ بَيْنِهِمَا((
رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ, وَصَحَّحَهُ اَلْحَاكِمُ


ARTI HADITS :

Dari Abu Hurairah meriwayatkan sampai ke Rasul (Marfu’) bersabda :

"Sesungguhnya Allah berfirman, Aku adalah yang ketiga dari dua orang yang berserikat selama tidak ad pihak yang menghianati mitra perserikatan, jika ada yang berkhianat maka Aku keluar dari keduanya”.

[HR. Abu Dawud, Disohihkan oleh Al Hakim].




PENGERTIAN HADITS :

Hadits ini merupakan asas dalam kerjasama bisnis.  Di dalam kerjasama bisnis, diantara anggota serikat bisnis harus saling memegang amanah. Janji Allah untuk orang yang mengadakan musyarokah/kerjasama  bisnis yang dikerjakan dengan saling amanah, ialah dengan Dia membersamai dan hadir di tengah tengah perserikatan ini.

Yang dimaksud dengan “kebersamaan Allah” ialah Allah akan menjaga keselamatan hidup mereka, menjaga aset asetnya dari kerugian, dan Allah akan mencurahkan rezki kepada perserikatan ini dengan melancarkan perjalanan  bisnisnya. Tidak cukup disitu, yang lebih penting lagi ialah _Allah akan mencurahkan berkah didalam perserikatan tersebut. ('Aunul Ma'bud, juz.9, hal.170).

Mafhum Mukholafahnya(makna terbaliknya) adalah _jika ada yang berkhianat dalam perserikatan tersebut, maka otomatis Allah akan lepas tangan darinya, dan dibiarkanlah perserikatan itu berjalan dengan sendirinya. Tentunya segala hal di dunia ini jika terlepas dari bantuan Allah maka dipastikan tidak akan ada keberhasilan apalagi keberkahan di dalamnya.  Semuanya akan berhasil dan berkah jika Allah menghendakinya. 

Upaya mencari uang dengan berjamaah adalah sebuah upaya yang terpuji, sejalan dengan perintah Allah yang mengajak untuk ta'awun 'alal biri wa taqwa. (saling membantu dalam kebaikan dan ketakwaan). Dari segi bahasa, “syirkah adalah penggabungan (ikhtilâth) harta”.  Sedang menurut istilah syari’, “syirkah adalah hak kepemilikan terhadap suatu yang dimiliki oleh dua orang atau lebih sesuai prosentase tertentu” (yaitu kerjasama dalam usaha atau sekedar kepemilikan suatu benda). [Mugnil Muhtâj, 2/211 ].

Hukum melakukan syirkah adalah “mubah”.

Mari kita berjamaah dan saling bahu membahu dalam segala hal, diantaranya dalam bisnis.
Tujuan kita tidak hanya mendapatkan uang semata , namun juga “mengharap pertolongan Allah dan keberkahanNya”


-MT AS SAKINAH-




Kunjungi :

# FB : Taklim As Sakinah

Selasa, 22 Januari 2019

FENOMENA MUSNAHNYA ILMU


*MUTHOLAAH Vol.102*

“FENOMENA MUSNAHNYA ILMU”




عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ :
))إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنْ الْعِبَادِ وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالًا فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا((
رواه البخاري و مسلم


ARTI HADITS :

Dari Abdullah bin 'Amru bin Al 'Ash berkata :
Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda :

"Sesungguhnya Allah tidaklah mencabut ilmu sekaligus mencabutnya dari hamba, akan tetapi Allah mencabut ilmu dengan cara mewafatkan para ulama hingga bila sudah tidak tersisa ulama maka manusia akan mengangkat pemimpin dari kalangan orang-orang bodoh, ketika mereka ditanya mereka berfatwa tanpa ilmu, mereka sesat dan menyesatkan".

[HR. Bukhori dan Muslim]

PENGERTIAN HADITS :

Yang dimaksud dicabutnya ilmu bukan berarti tiba tiba ilmu hilang dari hati dan fikiran orang yang berilmu, namun yang dimaksud dicabutnya ilmu ialah wafatnya para pemilik ilmu / ahli ilmu.

Yang dimaksud dengan ilmu di sini adalah ilmu al-Qur-an dan as-Sunnah, ia adalah ilmu yang diwariskan dari para Nabi Alaihimussallam, karena sesungguhnya para ulama adalah pewaris para Nabi, dan dengan kepergian (wafat)nya mereka, maka hilanglah ilmu, matilah Sunnah-Sunnah Nabi, sehingga munculah kebodohan dan  berbagai penyimpangan-penyimpangan dalam agama.  Sedang ilmu – ilmu dunia maka akan terus berkembang seiring dengan perkembangan zaman.

Kebodohan yang sejati ialah ketika manusia kering dari ilmu agama.  Para ulama yang seharusnya mereka yang mengamalkan ilmunya, memberikan arahan kebenaran kepada umat, namun kali ini orang yang diulamakan  sekalipun juga minim ilmu, sehingga perilaku dan kebijaksanaannya menyimpang dari kebenaran. Mereka sendiri sesat, dan ketika memberikan arahan kepada umatpun juga arahan yang menyesatkan.  Kaum muslimin senantiasa merasa butuh akan keberadaan para ulama robbani yang dapat menuntun mereka ke jalan kebaikan, kebenaran dan keselamatan, serta memperingatkan mereka dari setiap keburukan, kesesatan dan kebinasaan.

Oleh karenanya  Imam Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata, Para ‘ulama Salaf mengatakan : “Kematian seorang ‘ulama (robbani) adalah cela dalam tubuh Islam. Tidak mungkin ditambal dengan apapun sepanjang zaman”. (Diriwayatkan oleh Ad-Darimi no.324).

Imam adz-Dzahabi rahimahullah ulama besar ahli tarikh (sejarah) Islam berkata : “Adapun sekarang, maka tidak tersisa dari ilmu yang sedikit itu kecuali sedikit saja pada sedikit manusia, sungguh sedikit dari mereka yang mengamalkan ilmu yang sedikit tersebut, maka cukuplah Allah sebagai penolong bagi kita”. [Tadzkiratul Huffaazh (III/1031)]. 

Jika hal ini terjadi pada masa Imam adz-Dzahabi, maka bagaimana pula dengan zaman kita sekarang ini?

Untuk mengetahui seberapa jauh hilangnya ilmu, maka hadits dibawah ini menggambarkan akan hal itu : 

Diriwayatkan dari Hudzaifah Radhiyallahu anhu, dia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يَدْرُسُ اْلإِسْلاَمُ كَمَا يَدْرُسُ وَشْيُ الثَّوْبِ حَتَّى لاَ يُدْرَى مَا صِيَامٌ، وَلاَ صَلاَةٌ، وَلاَ نُسُكٌ، وَلاَ صَدَقَةٌ وَيُسْرَى عَلَى كِتَابِ اللهِ فِـي لَيْلَةٍ فَلاَ يَبْقَى فِي اْلأَرْضِ مِنْهُ آيَةٌ، وَتَبْقَى طَوَائِفُ مِنَ النَّاسِ: الشَّيْخُ الْكَبِيرُ، وَالْعَجُوزُ، يَقُولُونَ: أَدْرَكْنَا آبَاءَنَا عَلَى هَذِهِ الْكَلِمَةِ؛ يَقُولُونَ: لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ فَنَحْنُ نَقُولُهَا: فَقَالَ لَهُ صِلَةُ: مَا تُغْنِي عَنْهُمْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ، وَهُمْ لاَ يَدْرُونَ مَا صَلاَةٌ، وَلاَ صِيَامٌ، وَلاَ نُسُكٌ، وَلاَ صَدَقَةٌ فَأَعْرَضَ عَنْهُ حُذَيْفَةُ، ثُمَّ رَدَّدَهَا عَلَيْهِ ثَلاَثًا، كُلَّ ذَلِكَ يُعْرِضُ عَنْهُ حُذَيْفَةُ، ثُمَّ أَقْبَلَ عَلَيْهِ فِي الثَّالِثَةِ، فَقَالَ: يَا صِلَةُ! تُنْجِيهِمْ مِنَ النَّارِ، ثَلاَثًا


“Islam akan hilang sebagaimana hilangnya hiasan pada pakaian sehingga tidak diketahui lagi apa itu puasa, tidak juga shalat, tidak juga haji, tidak juga shadaqah. Kitabullah akan diangkat pada malam hari hingga tidak tersisa di bumi satu ayat pun, yang tersisa hanyalah beberapa kelompok manusia: Kakek-kakek dan nenek-nenek, mereka berkata, ‘Kami men-dapati nenek moyang kami (mengucapkan) kalimat ini, mereka mengucapkan, ‘Laa ilaaha illallaah’, maka kami pun mengucapkannya. Lalu Shilah berkata kepadanya, “(Kalimat) Laa Ilaaha Illallaah tidak berguna bagi mereka, sedangkan mereka tidak mengetahui apa itu shalat, tidak juga puasa, tidak juga haji, dan tidak juga shadaqah. Lalu Hudzaifah berpaling darinya, kemudian beliau mengulang-ulangnya selama tiga kali. Setiap kali ditanyakan hal itu, Hudzaifah berpaling darinya, lalu pada ketiga kalinya Hudzaifah menghadap dan berkata, “Wahai Shilah, kalimat itu menyelamatkan mereka dari Neraka (sebanyak tiga kali)”. [Sunan Ibni Majah, kitab al-Fitan bab Dzahaabul Qur-aan wal ‘Ilmi (II/1344-1245)].

Fenomena dicabutnya ilmu secara keseluruhan akan terjadi di akhir zaman. Namun keadaan itu sudah dimulai sejak zaman dulu dan terus berjalan hingga sekarang. Sehingga semakin mendekati hari kimat maka semakin hilang ilmu dari muka bumi.  Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : 

*ﻣﻦ ﺃﺷﺮﺍﻁ ﺍﻟﺴﺎﻋﺔ ﺃﻥ ﻳُﺮْﻓَﻊَ ﺍﻟﻌﻠﻢ، ﻭﻳَﺜْﺒُﺖَ ﺍﻟﺠﻬﻞُ*

“Termasuk tanda-tanda hari kiamat adalah diangkatnya ilmu dan tetapnya kebodohan”.

[HR. Bukhori].

Terakhir, kita simak wasiat sahabat Nabi saw yang mulia ini :  Sahabat Abdullah bin Mas’ud radhiallahu berkata:

ﻋﻠﻴﻜﻢ ﺑﺎﻟﻌﻠﻢ ﻗﺒﻞ ﺃﻥ ﻳﺮﻓﻊ ﻭﺭﻓﻌﻪ ﻣﻮﺕ ﺭﻭﺍﺗﻪ، ﻓﻮﺍﻟﺬﻱ ﻧﻔﺴﻲ ﺑﻴﺪﻩ ﻟﻴﻮﺩّﻥّ ﺭﺟﺎﻝ ﻗﺘﻠﻮﺍ ﻓﻲ ﺳﺒﻴﻞ ﺍﻟﻠﻪ ﺷﻬﺪﺍﺀ ﺃﻥ ﻳﺒﻌﺜﻬﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻤﺎﺀ ﻟﻤﺎ ﻳﺮﻭﻥ ﻣﻦ ﻛﺮﺍﻣﺘﻬﻢ، ﻓﺈﻥ ﺃﺣﺪﺍ ﻟﻢ ﻳﻮﻟﺪ ﻋﺎﻟﻤﺎ ﻭﺇﻧﻤﺎ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﺑﺎﻟﺘﻌﻠﻢ

 “Wajib atas kalian untuk menuntut ilmu, sebelum ilmu tersebut diangkat/dihilangkan. Hilangnya ilmu adalah dengan wafatnya para periwayatnya/ulama. Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, sungguh orang-orang yang terbunuh di jalan Allah sebagai syuhada, mereka sangat menginginkan agar Allah membangkitkan mereka dengan kedudukan seperti kedudukannya para ulama, karena mereka melihat begitu besarnya kemuliaan para ulama. Sungguh tidak ada seorang pun yang dilahirkan dalam keadaan sudah berilmu. Ilmu itu tidak lain didapat dengan cara belajar”. [Syarh Nawawi lishahih Muslim 16/223-224 ]


-MT AS SAKINAH-

Kunjungi :

# FB : Taklim As Sakinah


Semangat belajar mengajar hadits


*MUTHOLAAH Vol.101*


“SEMANGAT BELAJAR - MENGAJAR HADITS”





عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ يُحَدِّثُ عَنْ أَبِيهِ قَالَ :
سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ :
))نَضَّرَ اللَّهُ امْرَأً سَمِعَ مِنَّا شَيْئًا فَبَلَّغَهُ كَمَا سَمِعَ فَرُبَّ مُبَلِّغٍ أَوْعَى مِنْ سَامِعٍ((
رواه الترمذي ، صحيح.


ARTI HADITS :

Dari Abdullah bin Mas'ud bercerita dari [bapaknya] dia berkata :
Aku mendengar Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Allah akan memperindah wajah seseorang yang mendengar sesuatu dariku kemudian dia sampaikan sebagaimana dia mendengarnya, maka bisa jadi orang yang menyampaikan lebih cerdas dari yang mendengar"

[HR. Tirmidzi, sohih]




PENGERTIAN HADITS :

Maksud kalimat نضر ( memperindah) adalah Allah memperindah, melimpahkan kebahagiaan, kesenangan di dunia khusus kepada penyampai hadits  dan akan memberikan kenikmatan di akhirat, sehingga akan tampak pada dirinya indahnya nikmat dan kemudahan hidup (Mirqaatul Mashaabih: 1/306 karya Al Qaari).
Mulla ‘Ali al-Qari berkata, “Ada yang mengatakan:  Sungguh Allah telah mengabulkan doa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (tersebut). Oleh karena itu, kamu dapati para (ulama) ahli hadits adalah orang yang paling bagus (elok) wajahnya dan indah penampilannya [ Mirqaatul mafaatiih syarhu misykaatil mashaabiih” (1/288) 

Diriwayatkan dari imam Sufyan bin ‘Uyainah bahwa beliau berkata: “Tidak  ada seorang pun yang menuntut (ilmu) hadits kecuali (terlihat) pada wajahnya kecerahan” yaitu : keindahan yang tampak atau yang bersifat maknawi (tidak tampak)” Syarafu ashhaabil hadits (hal. 27).

Kalimat hadits نَضَّرَ اللَّهُ امْرَأً  sebagian menganggap redaksi hadits itu sebagai bentuk kabar, "Allah menjadikannya sebagai orang yang mendapatkan keindahan"_,dan sebagian lagi  menyatakan sebagai bentuk doa "Semoga Allah memberinya keindahan" bentuk kabar lebih utama dari pada sebagai bentuk doa”. (Misqaatul Mashaabih: 1/306 karya Al Qaari).

Hadits ini menunjukkan keagungan hadits (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam), keutamaan dan kedudukan orang-orang yang mempelajarinya. Hadits ini mengajarkan, bahwa dalam periwayatan hadits itu harus disampaikan apa adanya, tidak boleh dikurangi atau ditambahi. Siapa yang coba coba merubah rubah hadits dari Nabi saw maka dia telah melakukan dosa besar, dan ancamannya jaminan masuk neraka.  Keharusan bagi orang yang mempunyai ilmu hadits untuk menyampaikan kepada orang lain, karena barang kali orang yang mendengar lebih bisa memahami materi ilmu karena tingkat kecerdasannya yang tinggi atau lebih bisa mengamalkan apa yang ia fahami karena ketekunannya.

Dan dari Abu Musa Al Asy’ari  dari Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

))مَثَلُ مَا بَعَثَنِي اللَّهُ بِهِ مِنْ الْهُدَى وَالْعِلْمِ كَمَثَلِ الْغَيْثِ الْكَثِيرِ أَصَابَ أَرْضًا فَكَانَ مِنْهَا نَقِيَّةٌ قَبِلَتْ الْمَاءَ فَأَنْبَتَتْ الْكَلَأَ وَالْعُشْبَ الْكَثِيرَ وَكَانَتْ مِنْهَا أَجَادِبُ أَمْسَكَتْ الْمَاءَ فَنَفَعَ اللَّهُ بِهَا النَّاسَ فَشَرِبُوا وَسَقَوْا وَزَرَعُوا وَأَصَابَتْ مِنْهَا طَائِفَةً أُخْرَى إِنَّمَا هِيَ قِيعَانٌ لَا تُمْسِكُ مَاءً وَلَا تُنْبِتُ كَلَأً فَذَلِكَ مَثَلُ مَنْ فَقُهَ فِي دِينِ اللَّهِ وَنَفَعَهُ مَا بَعَثَنِي اللَّهُ بِهِ فَعَلِمَ وَعَلَّمَ وَمَثَلُ مَنْ لَمْ يَرْفَعْ بِذَلِكَ رَأْسًا وَلَمْ يَقْبَلْ هُدَى اللَّهِ الَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ  (( رواه البخاري (79) ومسلم (2282.(

“Perumpamaan apa yang Allah utuskan kepadaku dari petunjuk dan ilmu adalah seperti hujan yang lebat yang turun ke bumi, sebagian tanahnya adalah “naqiyyah” subur yang mampu menyerap air dan menumbuhkan tumbuhan dan rerumputan yang banyak, ada juga bentuk tanah yang “Ajaadzib” tandus yang mampu menahan air, sehingga banyak orang yang memanfaatkannya untuk minum dan mengairi sawahnya, ada juga bentuk tanah yang disebut: “Qii’aan” tidak mampu menyerap air dan tidak mampu menumbuhkan tumbuhan. Perumpamaan ini sama dengan seseorang yang telah memahami agama Allah dan bermanfaat baginya, maka dia pun mengetahui, mengajarkan dan mereka yang tidak mengangkat kepalanya (tidak peka) dan tidak menerima hidayat dari Allah yang aku telah diutus karenanya”. [HR. Bukhori: 79 dan Muslim: 2282].

Al Hafidz Ibnu Hajar – rahimahullah – berkata :
“Mereka yang mendengarkan (Rasulullah) diserupakan dengan jenis tanah berbeda yang diguyur air hujan, di antara mereka ada sebagai seorang alim, mengamalkan ilmunya dan mengajarkannya, mereka ini laksana tanah subur yang menyerap air, lalu ia pun merasakan manfaatnya pada saat yang sama ia mampu menumbuhkan dan memberi manfaat kepada orang lain. Di antara mereka juga ada yang mengumpulkan ilmu dengan waktu yang lama, hanya saja mereka tidak mengamalkan yang  hukumnya sunnah atau belum memahami apa yang telah ia kumpulkan, akan tetapi mereka telah menyampaikannya kepada orang lain, maka mereka ini laksana jenis tanah mampu menahan air dan bisa dimanfaatkan oleh banyak orang dan mereka inilah yang dimaksud dalam  hadits :

 (نَضَّرَ اللَّه اِمْرَأً سَمِعَ مَقَالَتِي فَأَدَّاهَا كَمَا سَمِعَهَا)

“Allah akan memberikan “nadhrah” kepada seseorang yang telah mendengarkan ucapanku, lalu ia pun melaksanakannya sebagaimana yang telah didengarnya”

Di antara mereka ada juga yang mendengarkan ilmu, namun tidak mampu menghafalnya, juga tidak mengamalkannya, tidak juga menyampaikannya kepada orang lain, maka mereka ini laksana jenis tanah yang mengandung garam atau yang tandus yang tidak mampu menahan air atau akan merusak yang lainnya. Sungguh perumpamaan tersebut pada dua kelompok pertama termasuk yang terpuji; karena keduanya sama-sama mampu memberikan manfaat. Sementara kelompok yang ketiga adalah tercela; karena tidak memberikan manfaat apa-apa, wallahu a’lam.


-MT AS SAKINAH-
Kunjungi : 

# FB : Taklim As Sakinah