Minggu, 03 Februari 2019

HAKIKAT IBADAH HAJI

DAFTAR ISI
                                     


                                                       

 

 


BAB I


اَلْحَمْدُ للهِ الْمَلِكِ الْحَقِّ الْمُبِيْنِ، الَّذِي حَبَانَا بِالْإِيْمَانِ واليقينِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّد،ٍ خَاتَمِ الأَنْبِيَاءِ وَالمُرْسَلِين، وَعَلَى آلِهِ الطَّيِّبِيِن، وَأَصْحَابِهِ الأَخْيَارِ أَجْمَعِين، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. أَمَّا بَعْدُ:

Ibadah haji mempunyai serangkaian ritual ibadah (manasik) yang panjangn dan melelahkan. Akan tetapi dibalik itu semua tersimpan makna dan hikmah yang begitu dalam. Disetiap ritualnya memberikan banyak pelajaran tentang perjalanan hidup manusia.

Didalam buku kecil ini akan sedikit kami kupas tentang hikmah dibalik setiap manasik haji. Dengan sedikit kemampuan berfikir yang ala kadarnya, kami mencoba belajar untuk memaknai dari setiap ritual ibadah ini.

Tujuan kami dari penulisan buku ini tiada lain hanya sebagi ajang latihan untuk merenungi sebagian dari ibadah yang Allah wajibkan kepada hambaNya. Dengan begitu diharapakan bisa menambah kekhusyukan beribadah.

Kemudain dalam buku ini juga kami bawakan beberapa hadits berkenaan dengan fadilah dari setiap ritual manasik haji. Dengan tujuan supaya kita juga termotivasi untuk bersemangat menjalankan ibadah haji.

Akhir kata semoga Allah memudahkan langkah kita (bagi yang belum menunaikan ibadah haji)  untuk segera bisa menunikan ibadah haji dan semoga bagi yang sudah pernah melaksanakan ibadah haji semoga Allah menerima hajinya serta menjadikan hajinya menjadi haji yang mabruru. Amiin yaa robbal ‘alamiin.

Kami juga memohon kepada Allah SWT semoga sedikit coretan ini bisa membawa manfaat kepada diri kami pribadi dan kepada pembaca sekalian. Amiin yaa robbal ‘alamiin. Jazakmullah khoiron.

                                                                                  Penulis



Bangkalan,  21 September 2017 M
01  Muharrom 1439  H
H.dr Jamaluddin Sp M & Hj. Afri Asiatin

-     Alhamdulillah, tanggal 15 agustus 2017, kami berangkat ke Jeddah lewat embarkasi juanda surabaya, jam : 21.00WIB , dengan Saudi Airlines Dari asrama haji Sukolilo, Surabaya, kami sudah mengenakan pakaian ihrom karena berniat mengambil miqot umroh  wajib di Yalamlam ( miqot bagi penduduk Yaman dan yang melewatinya).
-     Ini haji yang ke 2 buatku, mendaftar 7 tahun yangg ll tepatnya februari 2010. Memang haji di syariatkan hanya sekali seumur hidup, namun bagiku,ada beberapa pertimbangan dan semacam ketidak puasan ketka haji pertama dulu.Ya semacam kurang sempurna, begitu (istilah menurut saya saja).
-     Maka,berangkat kali inipun masih berasa terharu hatiku, apalagi diantar dengan doa dan airmata dari kerabat , tetangga , ibu – ibu majelis taklim. SubhanaLlah, Alhamdulillah. Laailaahaillallah. Laa haula quwwata illa billah. Maha Suci Engkau Yaa Allah. Segala Pujian hanya patut UntukMu.Tiada Rob lain yang patut kami sembah kecuali hanya Engkau. Dan sungguh, kami tak berdaya melangkah, tak berdaya beramal, tak berdaya berangkat haji kali ini, kecuali dengan bantuanMu.
-     Terimakasih yaa Robbi.
-     Haji pertama dl th 1997, setahun penuh, sepekan sekali kami  manasik haji, ke Kh ja'far (alm) pulosari surabaya. Berangkat kali ini, meski ada media bersama, saya sering tidak bisa hadir, di acara manasik haji. Jadi saya berangkat dengan ilmu manasik seadanya.
-     Singkat cerita,Saudia Airlines, mengangkut  kami ke Tanah Suci.
-     Jam 3 pagi , Saudia menjejakkan rodanya di  jeddah.Setengah jam sebelum mendarat,diatas Yalamlam, kami melafalkan niat umroh “Labbaik Allohumma umrotan”. "Ya Allah, kami datang memenuhi panggilan MU”. Setelah proses imigrasi selesai, kami di bawa bus menuju Makkah Al Mukaromah, kota yang senantiasa kami rindukan, kota yang menjanjikan berjuta keutamaan ketika beribadah di dalamnya.
-     Kami mengikuti haji tamattu', jadi mengerjakan umroh dahulu , kemudian bersenang - senang / kegiatan harian sebelum mengerjakan prosesi haji.
-     Hotel Al Seel Rawdloh seolah telah menanti kehadiran kami. Hotel berjarak sekitar 3,3 Km dari Masjidil Harom, memberikan kenyamanan setelah sehari semalam lelah melanda. Dengan tetap ingat , bahwa kami sedang berihram, kamipun berbersih diri dan beristirahat sejenak.1 jam kemudian kami serombongan telah bersiap di lobi hotel, bersama naik bus Shalawat yang gratis, kemudian berthawaf dan sai melaksanakan Umroh Wajib. Turun dari bus Shalawat, tampak di depan mata Masjidil haroom yang megah. Masjid ysng senantiasa kurindukan, masjid yang  barang siapa sholat di dalam nya, ia beroleh 100.000 x pahala. Adakah tempat lain yang se mulia masjid ini?. Aku datang yaa Allah, terimakasih telah Engkau panggil lagi diriku ke sini. Rindu yang terpendam, mengantar keharuan di dada. Salam penghormatan terlantun tatkala kaki ini memasukinya.Ya Rob, bukakan pintu rahmatMu. Berombongan memasukinya, dihadapan kami berdiri tegak Ka'bah, baituLlah, rumah Allah. Bangunan kubus berkiswah warna hitam yang tak pernah putus sedetikpun orang ber thawaf, memuliakannya. Kami pun ber istihlam, mengucap “BismiLlahi Allahu Akbar (3x)”, di jalan lurus hajar aswad, Memulai perjalanan thawaf kami. Berputar 7x mengikuti sunnah manusia terkasih junjungan kami, RasuluLlah Muhammad saw. Ya Rob, inilah lambang pusaran cintaMu, jangan Engkau jauhkan kami dari pusaran cinta Mu, peluk terus kami, dekap kami, tuntun kami. Kubayangkan ketika lahir, Rasulullah langsung diajak berthawaf oleh paman nya, yang bergembira atas kelahiran manusia penuh cahaya itu. Kini kami di beri kesempatan menapak tilasi nya.
-     Setelah thawaf dan sholat sunnah 2 rakaat di belakang Maqom Ibrahim, serta berdoa di sana, kami mengambil air zam zam, air penuh berkah dari sumur Zam Zam, meminumnya dengan di sertai sepenuh doa. Ya Rob, nikmat darimu sangat sempurna.
-     Selesai prosesi umroh wajib kami dengan ber tahalul ( menggunting rambut minimal 3 helai) Usai Istirahat sejenak membuang penat, beranjak kami ber Sai, perjalanan dari bukit Shofa ke bukit Marwah dan sebaliknya sebanyak 7kali (lk 700m x 7). Meneladani Ibunda Zahra, ibunda Nabi Ismail, istri NabiyuLlah Ibrahim , ketika kehabisan air susu bagi putra tercintanya. Kubayangkan kondisi ketika itu : panas, gersang,tak punya sanak kadang. Beliau memang wanita pilihan, wanita tegar. Prosesi Sai berakhir dan kamipun bertahalul, memotong minimal 3 helai rambut.
-     Kegiatan hari hari selanjutnya adalah penantian menjelang hari ARMINA(arofah mina), Prosesi puncak ibadah haji yang ditunggu2. Hari2 yang di isi dg beribadah di masjidilharam.
-     AlhamduliLlah, sempat umroh sunnah 2 kali ( kaki mas sakit baiklah asam uratnya kambuh, jadi memang harus banyak istirahat sekalian menyiapkan  amunisi untuk puncak ibadah haji). Sholat duhur dan ashar lebih banyak dilakukan di masjid hotel atau sekitar hotel. Sedang sholat tahajud lanjut subuh, maghrib sambung isya, pergi ke masjidil haram. Saya usahakan thawaf sunnah sehari sekali,di ka'bah , tempat ber thawaf  hanya ada di makkah.
-     Bessok tgl 8 Dzulhijjah, saat seluruh jamaah haji indonesia di bawa ke padang arofah untuk wukuf di tanggal 9 nya. Tak ada kesempatan ber tarwiyah bagi jamaah indonesia, mungkin karena banyaknya jamaah sehingga mengalami kesulitan tehnis pengangkutan nya. Namun bagi yang mengajukan ijin, difasilitasi sg membayar 200 SR Salah satu alasan kami untuk berhaji kembali adalah ingin mengikuti tarwiyah (mabit di mina pada tanggal 8 dzulhijjah, mengikuti sunnah Rasulullah). Alhamdulillah ada peluang dan legal, kami pun mendaftarkan diri. Dan dalam 1 kloter 55 SUB, hanya saya dan suami yang berminat.Tidak apa – apa Tanggal 8 kami mengikuti mabit di mina digabungkan dengan KBIH Al Kautsar wonogiri embarkasi solo, bersama 2 orang dari bekasi dan 4 lainnya lupa dari mana. Waktu duha kami mulai dengan sholat duha, berdzikir sepenuhnya. Waktu semaksimal mgkn kami gunakan, diseling dengan Ishoma. Syukur tak terkira, KBIH yang kami ikuti cukup maksimal membimbing ibadah jama'ah nya. Hingga keesokan harinya, tanggal 9 dzulhijjah, setelah mengerjakan sholat subuh, kamipun berkemas siap menuju padang arofah untuk wukuf, bersama jutaan Tamu Allah dari berbagai penjuru dunia. Haji adalah wukuf di arofah, maka siapapun harus mengikuti nya meski ia sakit, lemah. Inilah puncak penantian itu, inilah puncak ibadah hajiku. Jam 8 pagi sampai kami di Arofah, menuju tenda kloter 55 dan bergabung kembali dengan teman – teman satu rombongan yang sudah berada di arofah tanggal 8 kemarin. Bersyukur kami mengikuti tarwiyah, secara fisik tubuh kami lebih fresh karena mempunyai kesempatan istirahat / tidur, mandi dan sebagainya lebih banyak di mina, sehingga berwukuf pun segar. Di arofah, toilet antri luar biasa dan 1 tenda ( tanpa ac tapi kipas angin ) di pakai 1 kloter, berdesakan.
-     Saat wukuf dimulai ketika adzan duhur tiba, di  awali sholat duhur dan ashar jama' tanpa qoshor kemudian khutbah arofah dan doa – doa wukuf di pimpin beberapa kyai bergantian. Hari Arofah, 9 dzulhijjah, si tempat yg mustajab, di waktu yang mustajab, mulai duhur sampai maghrib, kami maksimalkan berdoa, beristighfar,mohon ampun, merengek , mengemis kemurahan Allah, menyampaikan segala hajat. Allah, Rob ku, Dia membanggakan hamba – hambanya yang sedang berwukuf kepada malaikat – malaikatNya. Dia turunkan rahmat Nya, Dia mengampuni semua dosa meski sebanyak hujan yang turun ke bumi. Tidak ada hari yang Dia membebaskan dari api neraka kecuali hari ini, hari Arofah. Setiap detik begitu berarti, maka sangat hampir semua jamaah memaksimalkan waktu ini untuk ber munajat, meminta pada Sang Pemilik segalanya. Panas yang sangat terik, di hari arofah, membakar, tapi tak melemahkan semangat. Hingga maghrib tiba, kami sholat magrib dan isya jama' tanpa qoshor sambil menunggu antrian bus yang membawa kami ke muzdalifah, untuk mabit disana. Lelah tak kami rasakan, meski seharian kami tak istirahat.
Kami ke muzdalifah, untuk mabit sampai lepas tengah malam, mengerjakan salah satu wajib haji. Di lepas kami di tempat luas, mencari kerikil untuk jumroh di mina (lk 80 buah, baiklah kami berniat mengikuti nafar tsani). Kemudian beristirahat, tidur, melepas lelah, Waktu haji tahun 1991 dulu, tak ada kesempatan mabit di muzdalifah bagi seluruh jamaah haji indonesia. Saya ingat, saya dan suami waktu itu maksa minta turun untuk ngambil kerikil. Hanya kami berdua yang diijinkan dan itupun sebentaaar sekali, langsung naik bus dan meluncur ke mina. (ini pula yang mendorong kami untuk berhaji kembali). Lepas tengah malam , kembali antri kami nunggu bus untuk ke mina. Mulai jam:12.00 malam, jam:1.30 baru kami terangkut. Dari bus. kami saksikan jamaah  berpakaian ihrom bergelimpangan, tidur, antri dan sebagainya. Ya Rob, ini semua makhlukmu kaya, miskin, berpangkat, petani, semuuaaa sama. Bagai di kuburan, menanti saat hisabMu tiba. Menetes air mata ini melihatnya, ya saya juga bagian dari mereka tadi. (saat di arofah, pemandangan seperti ini tidak bisa di saksikan, ya kami berada di tenda – tenda)
.
-     Kira – kira jam 2 malam tiba di tenda mina balik gunung, lebih kurang 3 km dari jamarat. Kata orang, tenda kami masuk ke mina jadid, perluasan dari mina dan sebenarnya masih bagian dari muzdalifah, Allahu alam. Dan tenda kami terjauh jauuhhh sekali. Yah sudah lah diterima aja. Setelah mandi ( belum banyak jamaah yang tiba, sehingga kamar mandi masih lumayan sepi) dan sholat tahajut, berombongan kami meninggalkan tenda menuju jamarot untuk lempar jumroh Aqobah. Lumayan 3, 5 km melewati 3 terowongan. Kami masih ber ihrom ketika itu, malam yg tidak terasa sunyi lagi bagi kami. Takbir terucap mengiringi langkah, sesekali di iringi guyon. Bersama 30 orang kami berjalan, lelah tak kami rasakan. Sebenarnya ini bukan waktu afdhol untuk melempar jumroh aqobah, tapi kami ingin segera ke masjidil harom untuk mengerjakan thawaf ifadhah dan sa'i. Ini kesepakatan kami sebelum ibu – ibu yang WUS ( wanita usia subur) terkena haidh. Melempar di tingkat 3 (ketika haji tahun 1997 masih belum ada), prosesi lempar jumroh aqobah terasa ringan di kerjakan. Bismillahi, Allahu Akbar. Satu – persatu batu kami lempar ke sumur. Alhamdulillah, kami pun ber tahalul awal, memotong minimal 3 helai rambut dan berdoa. Lepaslah ihrom kami. Allohumma taqobbal minna. Dari jamarat, berombongan kami berjalan menuju masjidil harom, tanpa petunjuk arah yang pasti, hanya mengikuti arus. Berjalan dan terus berjalan, melangkah dalam kondisi lapar dan lelah. Dari terowongan yg satu menuju terowongan yg lain, bareng dengan banyak jamaah dari berbagai Negara. Sungguh, jika tak ada harapan akan pahala, jika tak ada iman di dada, jika tak ada janji syurga, rasanya tak akan kami berkeras menjalaninya. Di google tertulis sekitar 7 sd 9 km, tapi rasa nya lebih dari itu kami berjalan,mungkin kamal – bangkalan. Air di sediakan di sepanjang jalan, namun tidak makanan Pun rasanya tak ingin kami makan. Sekali kami berhenti beli teh susu manis dan pisang mungkin sambil melepas lelah. Kadang ketika melewati jalan yang kelihatan ada taksi, ingin rasanya naik taksi, tapi rasanya tak bijak jika naik sendiri meninggalkan yg lain dan   mungkin lebih lama sampainya, terlihat macet di mana – mana. Dan ongkos taksi kabarnya meroket hingga ratusan real. Di terowongan terakhir, banyak bertemu jamaah yg pulang dari sholat iedul adha, duh pasti mereka sudah selesai ifadhah dan sai nya. Entah setelah berapa jam perjalanan, sampe kami di pelataran masjidil harom. Melepas hajat di hamam dan berwudlu, segera lah kami berthawaf ifadhah. Thawaf agak sepi, padahal kubayangkan akan padat seperti ketika haji pertama dulu( kami dulu juga ngerjakan setelah jumroh aqobah). Tidak sampai 1/2 jam, selesai lah thawaf , kami akhiri dengan sholat di belakang maqom ibrahim dan berdoa. Lanjut kami ber Sai, berjalan antara bukit shofa dan bukit marwah, 7 kali (sekitar 7× 700 m), dengan berdzikir semampu kami. Kaki ini seperti tak ada rasa. Ya Rob, terima ibadah kami, terima haji kami (Amin).
-     Alhamdulillah, terimakasih ya Allah, Engkau telah mampukan kami mengerjakannya. Jika tak ada kekuatan dari Mu, sangsi kami mampu menjalani semua ini. Setelah prosesi selesai, sudah terbayang segarnya air mandi di hotel dan tempat tidur yang empuk. Tak ingin kami makan, entah air zam – zam, air barokah cukup melepas lapar dan haus kami. Tapi itu hari jum'at, para suami eman kalau pulang, mnunggu sholat jumat dulu. Jam : 1.30 siang, keluar kami dari masjid beranjak hendak pulang ke hotel. Ahai, tak ada bus, yang ada taksi, itupun minta minimal 200 real berempat, wow. Berjalan kembali kami menuju hotel kira - kira 1 jam perjalanan.
-     Kira – kira 2 jam tidur dan mandi( tanpa makan), sebelum maghrib tiba, berangkat kami ke tenda mina untuk mabit dan lempar jumroh sampai tanggal 13 dzulhijjah, jauh juga (hehehe) , mungkin 4 sampai dengan 5 km berjalan. Kaki ku rupanya tak mampu berkompromi lagi, serasa menyeret berjalan, sehingga ketika esoknya melempar jumroh ula,wustho, aqobah tanggal 11Dzulhijjah, saya tidak ikut, di wakili mas jamal. Sungguh tak puas sebenarnya, tapi apa daya, karena perjalanan pulang pergi sekitar 6 km.
-     Hari kedua, kaki ini alhamdulillah sudah pulih kembali, maka saya pun bisa melempar sendiri. Sepanjang perjalanan menuju jamarat, takbir menggema mengiringi perjalanan kami, beriring dengan jamaah dari berbagai negara.
Merinding rasanya, perjalanan ruhani dan jasmani yang luar biasa. Seakan berlomba kami melempar 7 buah batu di setiap sumur nya.Bismillahi Allohu Akbar, rajman lissyayathiini wa ridhon lirrohman. Dengan nama Allah, Allah Maha besar, kutukan bagi segala setan dan ridlo bagi Allah yang Maha Pengasih. Ya Allah , jadikan haji kami mabrur dan terimalah sa' i kami”.

-     Hari ketiga, kami putuskan untuk pulang langsung jamarat menuju hotel karena jarak lebih dekat di banding jika kami kembali ke tenda lagi. Maka tanggal 13 Dzulhijjah berangkat kami ke jamarat dengan membawa barang – barang bawaan yg lumayan. Kondisi tempat melempar yang agak longgar, kugunakan sepenuhnya "menikmati" setiap batu yang akan kulempar dengan mengiringinya dengan doa. Allohumma Taqobbal Minna. Alhamdulillah selesai lengkap prosesi haji kami.
-     CATATAN :
Jenis haji:
1.  Haji tamattu,
2.  Haji ifrad,
3.  Haji Qiran.

-     Sungguh haji adalah ibadah harta, ibadah badan, ibadah ruhiyah, semua berkumpul di dalam nya. Maka bagi yang mau berangkat haji, harus betul - betul berbekal ilmu (manasik haji) dan taqwa.
-     Berangkatlah haji selagi muda, usahakan betul dan minta padaNya dengan sepenuh keyakinan agar dimudahkan untuk mendaftar. Kalau sudah sepuh, akan sangat banyak ketidak sempurnaannya.




Ditulis di Masjid Nabawi,jum'at 1 Muharrom 1439 H.
2 hari sebelum meninggalka 2 kota suci Makkah dan Madinah




                                                                  Selesai ditulis

Madinah, Arab Saudi : 21 September 2017 M
01  Muharrom 1439  H





Keutamaan haji banyak sekali yang disebutkan dalam Al Qur’an dan As Sunnah. Berikut beberapa di antaranya :

1.    Akan mendapatkan banyak manfaat dan pelajaran selama menunaikan iabadah haji.
Allah berfirman :

وَأَذِّنْ فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالًا وَعَلَىٰ كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ(27) لِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ عَلَىٰ مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ ۖ فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْبَائِسَ الْفَقِيرَ (28)
Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh, (27) supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezeki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak. Maka makanlah sebahagian daripadanya dan (sebahagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir.(28).(QS. Al Haj : 27-28).
                       
2.    Jama’ah haji dan umroh adalah tamu agungnya Allah, akan diberi apa yang ia minta.
Dari Ibnu ‘Umar, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda :

الْغَازِى فِى سَبِيلِ اللَّهِ وَالْحَاجُّ وَالْمُعْتَمِرُ وَفْدُ اللَّهِ دَعَاهُمْ فَأَجَابُوهُ وَسَأَلُوهُ فَأَعْطَاهُمْ

Orang yang berperang di jalan Allah, orang yang berhaji serta berumroh adalah tamu-tamu Allah. Allah memanggil mereka, mereka pun memenuhi panggilan. Oleh karena itu, jika mereka meminta kepada Allah pasti akan Allah beri” (HR. Ibnu Majah no 2893. hasan).

3.    Haji termasuk jihad fii sabilillah (jihad di jalan Allah) bagi wanita.
Dari ‘Aisyah—ummul Mukminin—radhiyallahu ‘anha, ia berkata:

يَا رَسُولَ اللَّهِ ، نَرَى الْجِهَادَ أَفْضَلَ الْعَمَلِ ، أَفَلاَ نُجَاهِدُ قَالَ « لاَ ، لَكِنَّ أَفْضَلَ الْجِهَادِ حَجٌّ مَبْرُورٌ »

Wahai Rasulullah, kami memandang bahwa jihad adalah amalan yang paling afdhol. Apakah berarti kami harus berjihad?” “Tidak. Jihad yang paling utama adalah haji mabrur”, jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Bukhari no. 1520).

4.    Haji termasuk amalan yang paling utama.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata :

سُئِلَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – أَىُّ الأَعْمَالِ أَفْضَلُ قَالَ « إِيمَانٌ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ » . قِيلَ ثُمَّ مَاذَا قَالَ « جِهَادٌ فِى سَبِيلِ اللَّهِ » . قِيلَ ثُمَّ مَاذَا قَالَ  » حَجٌّ مَبْرُورٌ«

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya, “Amalan apa yang paling afdhol?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.” Ada yang bertanya lagi, “Kemudian apa lagi?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Jihad di jalan Allah.” Ada yang bertanya kembali, “Kemudian apa lagi?” “Haji mabrur”, jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Bukhari no. 1519).

5.    Pahala dari haji adalah surga.
Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَالْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلاَّ الْجَنَّةُ

Dan haji mabrur tidak ada balasan yang pantas baginya selain surga.” (HR. Bukhari no. 1773 dan Muslim no. 1349).

6.    Haji akan menghapuskan kesalahaan dan dosa-dosa
Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa ia mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

مَنْ حَجَّ لِلَّهِ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ رَجَعَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ

“Siapa yang berhaji ke Ka’bah lalu tidak berkata-kata seronok dan tidak berbuat kefasikan maka dia pulang ke negerinya sebagaimana ketika dilahirkan oleh ibunya.” (HR.Bukhari 1521).


7.    Haji akan menghilangkan kefakiran dan dosa.
Dari Abdullah bin Mas’ud, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
تَابِعُوا بَيْنَ الْحَجِّ وَالْعُمْرَةِ فَإِنَّهُمَا يَنْفِيَانِ الْفَقْرَ وَالذُّنُوبَ كَمَا يَنْفِى الْكِيرُ خَبَثَ الْحَدِيدِ وَالذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ
وَلَيْسَ لِلْحَجَّةِ الْمَبْرُورَةِ ثَوَابٌ إِلاَّ الْجَنَّةُ

Ikutkanlah umrah kepada haji, karena keduanya menghilangkan kemiskinan dan dosa-dosa sebagaimana pembakaran menghilangkan karat pada besi, emas, dan perak. Sementara tidak ada pahala bagi haji yang mabrur kecuali surga.” (HR. An Nasai no. 2631, Tirmidzi no. 810, Ahmad 1/387)

8.    Mendapatkan kesempatan fadillah satu kali umroh dengan sholat di Masjid Quba.
Shalat di masjid Quba memiliki keutamaan. Menurut Hadits Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Abu bin Sahl bin Hunaif RA, ia pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa bersuci di rumahnya, kemudian mendatangi Masjid Quba, lalu ia shalat di dalamnya, maka baginya pahala seperti pahala umrah”.( HR. Tirmizi no. 298. Ibnu Majah no. 1401).
9.    Berkesempatan luas menikmati barokahnya air zam-zam.

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِي اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : خَيْرُ مَاءٍ عَلىَ وَجْهِ اْلأَرْضِ مَاءُ زَمْزَمَ، فِيْهِ طَعَامٌ مِنَ الطُّعْمِ، وَشِفَاءٌ مِنَ السُّقْمِ. أخرجه الطبراني في الكبير،
Dari Ibnu Abbas radhiyallahuanhuma ia berkata : Rasulullahshallallahu alaihi wasallam   bersabda : “Sebaik-baik air di muka bumi adalah air zamzam, air itu mengenyangkan peminumnya sebagaimana makanan mengenyangkan orang yang makan, dan terdapat obat dari penyakit.”[HR. Thobaroni, sohih].

10. Setiap langkahnya adalah kebaikan
Ubadah bin Shamit radhiyallahu‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullahshallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

إنَّ لكَ مِن الأَجرِ إِذَا أَمَّمْتَ البيتَ العتيقَ أَنْ لاَ تَرفعَ قدماً وَلاَ تضعَهَا أنتَ ودابتُكَ إِلاَّ كُتِبَت لكَ حسنةٌ ورُفِعَتْ لكَ درجةٌ
Artinya: Sesungguhnya pahala yang kamu miliki, jika berjalan menuju Rumah Suci (Ka’bah) adalah tidaklah kamu dan hewan tungganganmu mengangkat telapak kaki atau meletakkannya, melainkan dituliskan bagimu 1 kebaikan dan diangkatkan bagimu 1 derajat”. (HR. Ath Thabarani,hadits hasan).




BAB II

MENGHAYATI HAKIKAT MANASIK HAJI
Berikut ini akan kami kemukakan hakikat mengenai makna dari ritual manasik haji :


Perjalanan Haji bukanlah suatu perjalanan piknik untuk sebuah kepuasan duniawi semata. Justru kepuasan duniawi terkorbankan dalam rangka mendapatkan kepuasan yang lebih tinggi(pahala).
Jamaah haji adalah musafir atau perantaun dinegeri orang yang tidak mengenal sana-sini. Pergi menuju tanah suci dengan hanya berbekal barang kebutuhan seadanya. Sedang di tanah air masing-masing mereka memiliki keluarga, rumah, kendaraan, kebun, ladang dan sebagainya yang dapat mereka banggakan dan nikmati sewaktu-waktu. Tetapi, ketika pergi haji, semua itu mereka tinggalkan. Mereka pergi dengan hanya berbekal beberapa helai pakaian dan keperluan tertentu dan terbatas.
Safar haji adalah safar jarak jauh yang sangat melelahkan. Membutuhkan banyak tenaga atau energy. Menghabiskan waktu berbulan-bulan lamanya. Dan pastinya sangat riskan akan terjadi suatu petaka yang tidak ia inginkan datang dengan tiba-tiba. Baik itu berupa kecelakaan, kematian, kehilangan dan lain sebagainya.
Dalam keadan seperti ini sepatutnya manusia menyadari kelemahanya, dan hendaknya membuang jauh-jauh sifat congkak dan angkuhnya. Terbukti dia tidak berdaya ketika berada di tempat dan situasi yang baru dengan perbekalan yang ala kadarnya. 
Ini adalah gambaran kecil bahwa ketika meninggalkan alam ini (mati), manusia akan memulai perjalanan jauh dan lebih melelahkan. Dalam perjalanan yang super jauh dan sangat melelahkan ini nanti, dia tidak membawa perbekalan materi apapun. Sanak saudara ia tinggalkan. Harta benda menjadi milik ahli warisnya. Hanya iman dan amal yang menjadi satu-satunya bekal dalam menghadapi perjalanan panjang di di akhirat dengan segala rintanganya ini. Bila bekalnya cukup maka beruntunglah ia. Sebaliknya bila bekalnya kurang maka bisa dipastikan akan sengsara selamanya disana. Wal iyyad billah.

Pakaian ihrom telah menuntun manusia untuk mengubur jauh-jauh pandangan yang melandaskan keunggulan karena kelas, status, kedudukan, dan ras. Pakaian adalah bagian yang menjadi pusat perhatian manusia. Sebagian orang melihat kedudukan manusia dari bagaimana orang itu berpenampilan atau berpakaian. Orang yang sedang melakukan ihrom memakai jenis pakaian yang sama. Tak melihat ras, suku, tahta dan kebangsaanya, mereka hanya diharuskan untuk memakai dua helai kain putih yang tidak berjahit dan tidak berhias.
Dua helai kain ptih yang tidak terjahit melambangkan kematian. Manusia ketika telah mati, hanya dibebungkus dengan beberapa helai kain kafan yang berwarna putih. Presisi dengan apa yang di kenakan oleh orang yang sedang ihrom. Prosesi ihrom ini, mengingatkan manusia bahwa suatu saat nanti dia akan mengalami keadaan yang hanya dibungkus kain putih polos yang tak berjahit, yakni kematian. Dengan begitu diharapkan dia sadar dan kembali kepada fitrah manusia yang berasal dari Allah dan akan kembali kepada Allah.
Keadaan setengah telanjang(bagi laki-laki) dalam ihrom melambangkan bahwa manusia itu sejatinya tidak punya apa-apa. Dia lahir kedunia telanjang bulat tak membawa sedikitpun dari materi dunia. Dan keadaaan seperti itu akan trerulang kemabli nanti ketika ia sudah berpulang kepada Allah yang diistilahkan dengan kematian. Ketika manusai telah mati, dimsukkan ke liang lahat, tak sedikitpun harta yang dibawa. Harta dunia yang selama ini ia kumpulkan dengan susah payah kini hanya tersisakan kenangan dan penyesalan belaka. Sebab hakikat dari kehidupan ini adalah titipan sementara dari sang kholiq.
Keutamaan berihrom :
-       Pakaian ihrom putih adalah paling bagusnya pakaian.
الْبَسُوا مِنْ ثِيَابِكُمْ الْبَيَاضَ فَإِنَّهَا أَطْهَرُ وَأَطْيَبُ وَكَفِّنُوا فِيهَا مَوْتَاكُمْ
Pakailah pakaian putih karena pakaian seperti itu lebih bersih dan lebih baik. Dan kafanilah pula mayit dengan kain putih”. (HR. An Nasai no. 5324, shahih).

-       Kain putih adalah pakaian yang disuakai Nabi SAW.
Dalam riwayat Muslim disebutkan, Abu Dzar berkata :
أَتَيْتُ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- وَهُوَ نَائِمٌ عَلَيْهِ ثَوْبٌ أَبْيَضُ
Aku pernah mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau dalam keadaan tidur dan ketika itu mengenakan baju putih.” (HR. Muslim no. 94).

-       Putih itu bersih dan suci
As Sindi mengatakan :

لِأَنَّهُ يَظْهَر فِيهَا مِنْ الْوَسَخ مَا لَا يَظْهَر فِي غَيْرهَا فَيُزَال وَكَذَا يُبَالَغ فِي تَنْظِيفهَا مَا لَا يُبَالَغ فِي غَيْرهَ وَلِذَا قَالَ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّهَا أَطْهَر وَأَطْيَب
“Karena pakaian putih sangat jelas bila terdapat kotoran yang hal ini tidak tampak pada pakaian warna lainnya. Begitu pula pencuciannya lebih diperhatikan daripada pencucian dalam pakaian lainnya. Oleh karena itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai menyebut pakain putih sebagai pakaian yang lebih bersih dan lebih baik”.
[Hasyiyah As Sindi lil sohihil bukhori].
Fadilah Dari Mengucapkan Talbiyah.
Talbiyah ialah kalimat yang dibaca oleh orang yang sedang ihrom. Bacaan yang dimaksud ialah :
لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ، لَبَّيْكَ لاَ شَرِيْكَ لَبَّيْكَ، إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ.
“Aku penuhi panggilan-Mu ya Allah, aku penuhi panggilan-Mu. Aku penuhi panggilan-Mu ya Allah, tiada sekutu bagi-Mu, aku penuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya segala puji, nikmat dan kerajaan hanyalah kepunyaan-Mu, tiada sekutu bagi-Mu”.
( HR. Muslim ).

Diantara keutamaan mengucapkan talbiyah adalah :
Ø Talbiyah membuahkan surga
Dari Abu Hurairah r.a bahwasannya Rasulullah SAW bersabda, “ Tidaklah seorang mengucapkan talbiyah atau mengucapkan takbir, melainkan akan dijanjikan dengan kebaikan.” Rasulullah ditanya,” Wahai Rasulullah, apakah dijanjikan dengan surga?” Beliau menjawab,” Ya.” ( Mu’jam Ausath no. 7779, -Hadits Hasan)
    
Ø Talbiyah membawa rahmat untuk alam sekitar.
Dan diriwayatkan dari Sahl bin Sa’ad radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassallam bersabda, “Tidaklah seorang Muslim bertalbiah, melainkan akan turut bertalbiah siapa saja yang ada di kanan dan kirinya, mulai batu, pohon dan tanah liat, sehingga bumi itu terputus dari arah sini dan arah sini”. (HR Tirmidzi Dan Ibnu Majah).

Ø Penyempurna ibadah haji.
Dari Abu Bakr ash Shiddiq bahwa Nabi SAW ditanya,” Haji apa yang paling mulia?” Beliau menjawab,” Mengangkat suara pada saat talbiyah dan menyembelih hewan.” (HR At-Tirmidzi No. 827 )



Thowaf merupakan kegiatan ibadah mengelilingi Kabah. Di hadapan Ka'bah yang berbentuk kubus ini, para pelaku thowaf akan merenungkan keunikan Ka'bah yang menghadap ke segala arah, yang melambangkan universalitas dan kemutlakan Allah. Jelasnya, dengan melihat ka’bah ini manusia akan teringatkan pada kekuasaan Allah yang tak terbatas yang menyelimuti keseluruh alam.
Melihat bagunan ka’bah yang kokoh mengingatkan sejarah kesabaran dan keihklasan Nabi Ibrohim dan Nabi Ismail yang berjuang membangun baitullah ka’bah ini. Ditengah gurun pasir yang  tandus jauh dari material bangunan, keduanya bersusah payah membangunnya. Dengan kegigihanya dan ke ikhlasan keduanya, dibelakang hari bangunan kubus ini menjadi situs dunia dan menjadi kiblat manusia dari seluruh penjuru dunia. Bahkan manusia mau mengorbankan tenaga, harta dan waktunya demi mendatangi ka’bah untuk thoaf disekililingnya. Subhanllah.
Ritual thowaf mengingatkan manusia untuk selalu berkomunikasi dengan Allah. Manusia kalau ingin selamat jangan jauh-jauh dari kisaran wilayah Allah. Kalu sedikit saja keluar dari kisaran ini maka akan celaka dia. Tegasanya, manusia dalam menjalani hidup ini tidak boleh lepas dari aturan dan syariat Allah. Dan hendaknya selalu ingat atau berharap kepada Allah dalam setiap keadaan.
Berdesak-desaknya waktu thowaf mengingatkan manusia akan fastabiqul khoirot. Yakni untuk menjadi manusai sholih yang di cintai Allah maka hendaknya dia bergegas melakuakan segala amal kebaikan supaya menjadi juara disisi Allah. Sama halnya ketika thowaf, semua orang berlomba-lomba untuk bisa juara dengan bersentuhan ka’bah dan bisa mencium hajar aswad yang mulia.
Namun dilain sisi, dalam kondisi berdesak-desakan seperti ini, manusia diajari untuk saling itsar(mempedulikan kebutuhan orang lain). Disinilah letak dimana kesabran manusia benar-benar diuji.
Apa yang terjadi pada saat thawaf, ribuan orang saling berhimpit untuk mencari kesempurnaan ibadah. Bahkan krabat atau sodara yang awalnya berjalan bersamaan akan saling terpisah dari rombongan karena sebab arus perputaran thowaf yang begitu deras. Hal ini adalah gambaran kecil daripada keadaan yang akan ditempuh ketika berada di akhirat nanti. Pada saat itu, manusia tidak dapat bergantung kepada orang lain. Semua manusia akan  berjalan dan mempertanggung jawabkan amalanya sendiri-sendiri. Hanya amal dan pertolongan dari Allah dan syafaat Rasulullah SAW yang dapat membantu mereka dari payahnya hari akhirat.
Keutamaan Thowaf :

Ø Berkesempatan berdo’a di antara Hajar Aswad dan Rukun Yamani.
Dari ‘Abdullah bin As Saaib, ia berkata :
سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ مَا بَيْنَ الرُّكْنَيْنِ (رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata di antara dua rukun: Robbanaa aatina fid dunya hasanah wa fil aakhirooti hasanah, wa qinaa ‘adzaban naar (Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami kebaikan di dunia dan di akhirat, serta selamatkanlah kami dari adzab neraka) ”.
 (HR. Abu Daud no. 1892,shahih).

Ø Al Imam An Nawawi rahimahullah menjelaskan:
Ketahuilah bahwa Ka’bah itu memiliki empat rukun. Pertama adalah rukun Hajar Aswad. Kedua adalah rukun Yamani. Rukun Hajar Aswad dan rukun Yamani disebut dengan Yamaniyaani. Adapun dua rukun yang lain disebut dengan Syamiyyaani. Rukun Hajar Aswad memiliki dua keutamaan, yaitu:
    1. Di sana adalah letak qowa’id (pondasi) Ibrahim ‘alaihis salam, dan
    2. Di sana terdapat Hajar Aswad.
Sedangkan rukun Yamani memiliki satu keutamaan saja yaitu karena di sana adalah letak qowa’id (pondasi) Ibrahim. Sedangkan di rukun yang lainnya tidak ada salah satu dari dua keutamaan tadi. Oleh karena itu, Hajar Aswad dikhususkan dua hal, yaitu mengusap dan menciumnya karena rukun tersebut memiliki dua keutamaan tadi. Sedangkan rukun Yamani disyariatkan untuk mengusapnya dan tidak menciumnya karena rukun tersebut hanya memiliki satu keutamaan. Sedangkan rukun yang lainnya tidak dicium dan tidak diusap. (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, Yahya bin Syarf An Nawawi, 1392, 9/14).

Ø Berkesempatan mendapatkan pahala yang berlipat ganda ketika sholat dimasjid al haram.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
صَلاَةٌ فِى مَسْجِدِى أَفْضَلُ مِنْ أَلْفِ صَلاَةٍ فِيمَا سِوَاهُ إِلاَّ الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ وَصَلاَةٌ فِى الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ أَفْضَلُ مِنْ مِائَةِ أَلْفِ صَلاَةٍ فِيمَا سِوَاهُ
“Shalat di masjidku (Masjid Nabawi) lebih utama daripada 1000 shalat di masjid lainnya selain Masjidil Harom. Shalat di Masjidil Harom lebih utama daripada 100.000 shalat di masjid lainnya”.
 (HR. Ahmad dan Ibnu Majah no. 1406, dari Jabir bin ‘Abdillah, hadits sohih).

Ø Menggugurkan dosa dan medapatkan pahala memerdekakan budak

عَنِ ابْنِ عُبَيْدِ بْنِ عُمَيْرٍ عَنْ أَبِيهِ : أَنَّ ابْنَ عُمَرَ كَانَ يُزَاحِمُ عَلَى الرُّكْنَيْنِ، فَقُلْتُ : يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ، إِنَّكَ تُزَاحِمُ عَلَى الرُّكْنَيْنِ زِحَامًا مَا رَأَيْتُ أَحَدًا مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُزَاحِمُ عَلَيْهِ. فَقَالَ : إِنْ أَفْعَلْ، فَإِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ : إِنَّ مَسْحَهُمَا كَفَّارَةٌ لِلْخَطَايَا.
وَسَمِعْتُهُ يَقُولُ : مَنْ طَافَ بِهَذَا الْبَيْتِ أُسْبُوعًا فَأَحْصَاهُ كَانَ كَعِتْقِ رَقَبَةٍ.وَسَمِعْتُهُ يَقُولُ  : لاَ يَضَعُ قَدَمًا وَلاَ يَرْفَعُ أُخْرَى، إِلاَّ حَطَّ اللَّهُ عَنْهُ خَطِيئَةً، وَكُتِبَتْ لَهُ بِهَا حَسَنَةٌ.أخرجه الترمذي .

Dari Ibnu Ubaid bin Umair dari ayahnya :
Bahwasanya Ibnu Umar berdesak-desakkan untuk mencapai dua rukun (Hajar Aswad dan Rukun Yamani), lalu aku bertanya : “Wahai Abu Abdirrahman (Ibnu Umar), engkau berdesak-desakkan saat penuh sesak agar dapat mencapai dua rukun, satu sikap yang tidak pernah seorangpun dari kalangan sahabat Nabi shallallahu alaihi wasallam   melakukannya ? kemudian ia menjawab :          “jika aku melakukan hal ini aku tidak akan sakit, karena aku mendengar Rasulullah shallahualaihi wasallam  bersabda: “Sesungguhnya menyentuh keduanya akan menghapuskan dosa-dosa”.
Dan saya mendengar Nabi shallahualaihiwasallam bersabda : “Barangsiapa thawaf di Ka’bah tujuh kali dan menyempurnakannya (tidak lebih atau kurang), maka pahalanya adalah seperti membebaskan budak”.
Dan saya mendengar Nabi shallallahu alaihi wasallam  bersabda : “Tidakklah seseorang yang tawaf meletakkan salah satu kakinya, dan melangkahkan yang lainnya melainkan Allah akan hapus kesalahannya dengannya, dan dituliskan baginya kebaikan.[HR Tirmidzi, sohih].
Ø Menyentuh dua rukun akan mengahapus dosa – dosa.

عَنْ ابْنِ عُبَيْدِ بْنِ عُمَيْرٍ، عَنْ أَبِيهِ، أَنَّ ابْنَ عُمَرَ كَانَ يُزَاحِمُ عَلَى الرُّكْنَيْنِ زِحَامًا مَا رَأَيْتُ أَحَدًا مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَفْعَلُهُ، فَقُلْتُ: يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ، إِنَّكَ تُزَاحِمُ عَلَى الرُّكْنَيْنِ زِحَامًا مَا رَأَيْتُ أَحَدًا مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُزَاحِمُ عَلَيْهِ، فَقَالَ: إِنْ أَفْعَلْ، فَإِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: «إِنَّ مَسْحَهُمَا كَفَّارَةٌ لِلْخَطَايَا» وَسَمِعْتُهُ، يَقُولُ: «مَنْ طَافَ بِهَذَا البَيْتِ أُسْبُوعًا فَأَحْصَاهُ كَانَ كَعِتْقِ رَقَبَةٍ» وَسَمِعْتُهُ يَقُولُ: «لَا يَضَعُ قَدَمًا وَلَا يَرْفَعُ أُخْرَى إِلَّا حَطَّ اللَّهُ عَنْهُ خَطِيئَةً وَكَتَبَ لَهُ بِهَا حَسَنَةً»

Dari Ibnu Ubaid bin Umair dari ayahnya : Bahwasanya Ibnu Umar berdesak-desakkan untuk mencapai dua rukun (Hajar Aswad dan Rukun Yamani), yang hal itu sepengetahuanku tidak dilakukan oleh shabat Nabi yang lain. lalu aku bertanya : “Wahai Abu Abdirrahman (Ibnu Umar), engkau berdesak-desakkan saat penuh sesak agar dapat mencapai dua rukun, satu sikap yang tidak pernah seorangpun dari kalangan sahabat Nabi shallallahu alaihi wasallam melakukannya ? kemudian ia menjawab : “Aku tidak layak dicela karena ini, karena aku mendengar Rasulullah shallahualaihiwasallam bersabda : “Sesungguhnya menyentuh keduanya akan menghapuskan dosa-dosa”.
     Saya mendengar Nabi shallahualaihiwasallam bersabda : “Barangsiapa thawaf di Ka’bah tujuh kali dan menyempurnakannya (memperhatikan syarat dan adabnya), maka pahalanya adalah seperti membebaskan budak”. Dan saya mendengar Nabi shallallahu alaihi wasallam   bersabda : “Tidakklah seseorang yang tawaf meletakkan salah satu kakinya, dan melangkahkan yang lainnya melainkan Allah akan hapus kesalahannya dengannya, dan dituliskan baginya kebaikan. [HR. Tirmidzi No.959. sohih].


Ø Dihapus sepuluh dosa dan diangkat sepuluh drajat

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ اَنَّهُ سَمِعَ رَسُوْلَ اللهِ ص يَقُوْلُ مَنْ طَافَ بِاْلبَيْتِ سَبْعاً وَ لاَ يَتَكَلَّمُ اِلاَّ بِسُبْحَانَ اللهِ وَ اْلحَمْدُ ِللهِ وَ لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ وَ اللهُ اَكْبَرُ وَ لاَ حَوْلَ وَ لاَ قُوَّةَ اِلاَّ بِاللهِ، مُحِيَتْ عَنْهُ عَشْرُ سَيّئَاتٍ، وَ كُتِبَ لَهُ عَشْرُ حَسَنَاتٍ، وَ رُفِعَ لَهُ بِهَا عَشَرَةُ دَرَجَاتٍ. ابن ماجه 2: 985، رقم: 2957
Dari Abu Hurairah, bahwasanya ia mendengar Rasulullah SAW bersabda : Barangsiapa thawaf tujuh kali di Baitullah dan tidak berkata-kata melainkan ucapan “Subhaanallooh, walhamdu lillaah, wa laa ilaaha illallooh, walloohu akbar, wa laa haula walaa quwwata illaa billaah” (Maha Suci Allah, segala puji bagi Allah, tidak ada Tuhan selain Allah, Allah Maha Besar, dan tidak ada daya dan kekuatan kecuali dari Allah), maka akan dihapus sepuluh dosanya dan dicatat untuknya sepuluh kebaikan serta diangkat untuknya sepuluh derajat. [HR. Ibnu Majah juz 2,no. 2957, dla’if, karena dalam sanadnya ada perawi bernama Humaid bin Abu Sawiyyah].



Berbicara sa'I, dilambangkan dengan kegigihan dan keperkasaan manusia dalam menempuh perjuangan hidup. Sa’i yang merupakan ritual ibadah yang meneladani jejak peristiwa Siti Hajar yang mencari air berlarian dari Bukit Shafa menuju bukit Marwa, merupakan lambang figur manusia yang berjuang tanpa kenal putus asa.
Begitu juga seharusnya manusia dalam mengarungi kehidupan ini hendaknya tetap selalu kokoh dan sabar, pantang menyerah, sebagaimana yang telah dicontohkan ibunda Siti Hajar dalam mencari air kehidupan.
Siti Hajar, beliau adalah seorang ibu dari bayi bernama Ismail. Ditinggal sendirian oleh suaminya (Nabi Ibrahim) ditengah gurun pasir yang tandus tak berpenduduk. Tak ada sedikitpun suplai makanan dan minuman. Mondar-mandir dari terjalnya sofa menuju ke ketinggian marwa, tak kunjung jua ia mendapatkan setetes nikmat ilahai yang tercecer di sekitar mereka. Namun dengan kesabaran dan keyakinanya, ia mendapatkan anugrah abadi yang yang luar biasa yang berupa sumber zam-zam hingga saaat ini dapat kita nikmati keberkahan airnya.
Pelajaran dari sejarah ini. Seorang wanita muslimah hendaknya meneladani Sayyidah Hajar. Menjadi wanita tangguh dan ikhlas dalam setiap cobaan hidup. Wanita yang pantang menyerah dalam mengurusi anak-anaknya. Wanita yang taat kepada tuhanya dan taat kepada suaminya.
Keutamaan Sa’i
-     Sa’I merupakan Wasilah untuk mengingat  kekuasaan Allah, Nabi  Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassallam, bersabda : “ Sesungguhnya dijadikannya pelemparan jumrah dan sa’i di antara Shafa dan Marwah ialah buat mendirikan dzikrullah ” (HR Tirmidzi).

-     Seperti memerdekakan 70 budak, Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassallam bersabda  kepada orang-orang Anshar dan bertanya tentang pahala sa’i antara Shafa dan Marwah,  Adapun sa’imu antara Shafa dan Marwah ialah seperti membebaskan 70 budak ”. (HR Bazzar dan Thabrani).

                            

Selanjutnya, setiap calon haji diharuskan untuk  berwuquf di Arofah. Arofah merupakan sebuah padang yang luas. Di tempat ini manusia singgah sebentar (wukuf). Lalu bermalam (mabit) di Muzdalifah dan tinggal di Mina.
Wuquf diarofah melambangkan padang mahsyar. Pdang mahsyar adalah tanah lapang yang sangat terik dan bersuhu sangat panas, sebab matahari didekatkan tepat diatas kepala sedang alasnya adalah tembaga yang snagat mudah menyerap panas. Ditempat seperti  inilah nantinya manusia kelak akan dikumpulkan. Manusia pertama (Nabi Adam) sampai manusia paling akhir menempati dunia ini, semua akan bersatu padu berkumpul untuk menanti mahkamahnya Allah SWT.
Presisi keadan di ‘rofah. Jutaan manusia dari seluruh penjuru dunia bersatu padu untuk ibadah wuquf. Tidak peduli asal usulnya dia. Tidak peduli dari ras, suku atau bangsa manapun ia berasal. Tidak peduli jabatan dan kedudukanya. Semua berpadu dalam satu tempat yang panas yang beralaskan pasir ini.
Oleh sebab itu jamaah haji ketika wuquf diarofah dihasung untuk focus beribadah sebanyak-banyaknya dan melupakan semua urusan dunia, untuk menyiapkan diri ketika nanti benar-benar masuk di padang mahsyar yang sesungguhnya.
Keutamaan Wukuf
Ø Inti dari ibadah haji ada pada wukuf
Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya oleh sekelompok orang dari Nejed tentang haji, maka beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab :
الْحَجُّ عَرَفَةُ
“Haji itu adalah Arafah”.
 [HR. at-Tirmidzi no. 889, an-Nasâ’i no. 3016 dan Ibnu Mâjah no. 3015, sohih].

Ø Padang ‘arofah merupakan tempat paling istimewa, oleh karenya jangan salah singgah waktu berwukuf.
Jubair bin Muth’im Radhiyallahu anhu meriwayatkan dari Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam :
كُلُّ عَرَفَاتٍ مَوْقِفٌ وَارْفَعُوا عَنْ بَطْنِ عُرَنَةَ
“Seluruh Arafah adalah tempat wukuf, dan jauhilah tengah lembah ‘Uranah” . [HR. Ahmad no. 16.797,sohih].

Ø Peluang besar untuk lari dari ancaman neraka
Aisyah Radhiyallahu anhuma meriwayatkan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
مَا مِنْ يَوْمٍ أَكْثَرَ مِنْ أَنْ يُعْتِقَ اللَّهُ فِيهِ عَبْدًا مِنَ النَّارِ مِنْ يَوْمِ عَرَفَةَ،
“Tidak ada hari di mana Allâh Azza wa Jalla membebaskan hamba dari neraka lebih banyak daripada hari Arafah,” .
[HR. Muslim no. 1348].
Ø Waktu Mustajab untuk berdo’a
Abdullah bin Amr Radhiyallahu anhu meriwayatkan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :
خَيْرُ الدُّعاءِ دُعاءُ يَوْمِ عَرَفَةَ، وَخَيْرُ مَا قُلْتُ أَناَ وَالنَّبِيُّوْنَ مِنْ قَبْلِيْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ لَهُ المُلْكُ وَلَهُ الحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
“Sebaik-baik doa adalah doa hari Arafah, dan sebaik-baik ucapan yang aku dan para nabi sebelumku ucapkan adalah La ilaha illallah wahdahu la syarika lah, lahul mulku walahul hamdu wahuwa ‘ala kulli syaiin qadir”.
[HR. at-Tirmidzi no. 3585, sohih].




Ø Manusia menang dari musuh bebuyutanya (setan)
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menerangkan dalam hadits berikut :
مَا رُئِيَ الشَّيْطَانُ يَوْمًا هُوَ فِيهِ أَصْغَرُ وَلاَ أَدْحَرُ وَلاَ أَحْقَرُ وَلاَ أَغْيَظُ مِنْهُ فِي يَوْمِ عَرَفَةَ وَمَا ذَاكَ إِلاَّ لِمَا رَأَى مِنْ تَنَزُّلِ الرَّحْمَةِ وَتَجَاوُزِ اللَّهِ عَنْ الذُّنُوبِ الْعِظَامِ إِلَّا مَا أُرِيَ يَوْمَ بَدْرٍ
“Tidaklah setan pernah terlihat lebih kerdil, terjauhkan, hina dan marah daripada saat hari Arafah, dan itu tidak lain karena ia melihat turunnya rahmat dan pengampunan Allâh atas dosa-dosa besar, kecuali apa yang ia lihat saat Perang Badar”.
[Al-Muwatha’ no. 944 dengan sanad yang lemah].
Ø Allah bangga dengan orang yang sedang wukuf di arofah.
Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يُبَاهِى مَلاَئِكَتَهُ عَشِيَّةَ عَرَفَةَ بِأَهْلِ عَرَفَةَ فَيَقُولُ انْظُرُوا إِلَى عِبَادِى أَتَوْنِى شُعْثاً غُبْراً
Sesungguhnya Allah berbangga kepada para malaikat-Nya pada sore Arafah dengan orang-orang di Arafah, dan berkata: “Lihatlah keadaan hambaku, mereka mendatangiku dalam keadaan kusut dan berdebu”.
[HR. Ahmad 2: 224. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanadnya tidaklah mengapa].
Ø Menghapuskan dosa meskipun sebanyak butiran pasir atau rintikan hujan atau buih di lautan.
وأَماَّ وقوفُكَ عَشِيَّةَ عرفةَ فإنََّ اللهَ يَهبِطُ إلىَ سماءِ الدنيا فَيُبَاهِي بِكُمُ الملائكةَ يَقولُ عِبادِي جَاؤُوْنِي شَعِثاً مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَميقٍ يَرجُونَ جَنَّتيِ فَلَو كانتْ ذنوبُكُمْ كَعَددِ الرَّملِ أوْ كَقَطرِ المطرِ أوْ كَزَبَدِ البَحرِ لَغَفَرْتُهاَ أَفِيضُوا عِبادي مغفوراً لَكُمْ ولِمَنْ شَفَعْتُمْ لَهُ
“Adapun wukufmu di Arafah, maka sesungguhnya Allah akan turun ke langit dunia, lalu membanggakan kalian di depan para malaikatnya, seray berfirman: “Hamba-hamba-Ku telah mendatangi-Ku dalam keadaan lusuh, dari setiap penjuru, mereka berharap surga-Ku, meskipun dosa-dosa kalian sebanyak butiran pasir atau rintikan hujan atau buih di lautan, sungguh Aku telah mengampuninya, kembalilah kalian wahai para hamba-Ku dalam keadaan sudah diampuni dosa-dosa kalian dan bagi siapa saja yang telah kalian mintakan syafaat untuknya”. 
[HR. Ibnu Hibban dan Ath Thabrany di dalam kitab Al Mu’jam Al Awsath Hadits Hasan].
Sedangkan malamnya setelah wukuf  jamaagh haji bermalam di mudzdalifah. Suasana malam dimudzdalifah melambangkan tahap kesadaran diri dengan lebih banyak melakukan konsentrasi di keheningan malam. Memperbanyak muhasabah diri, menagisi semua dosa-dosa yang pernah dikerjakan dan minta ampun kepada Alalh.
Selanjutnya, dikegelapan malam muzdalifah ini melambangkan kehidupan alam kubur. Ketika manusia telah memasuki alam barzakh atau alam kubur, dia akan merasakan kegelapan dan kesunyian. Dialam kubur dia sendirian, tidak ada satu manusiapun yang sudi menemani dirinya. Dia hidup dalam beratnya himpitan bumi. Keadaan ini akan terus berlanjut sampai purnanya alam dunia ini(kiamat).
                                                                  

Kemudian di Mina, jamaah melempar Jumrah. Ini merupakan lambang perlawanan manusia melawan nafsu amarah.
Dulu ketika nabi Ibrohim melakukan ibdah haji, setan menganggu berjalanya ibadah beliau. Kemudian setan itu dilempari oleh Nabi Ibrahim dengan tujuh kerikil tepat dimana sekrang jumroh berada.
Mungkin sekarang setan tidak nyata terikat dijumroh tersebut. akan tetapi setiap orang haji wajib melempar jumroh ini. Hal ini hanya sekedar simbolis bahwa seharusnya kita memusuhi setan yang terkutuk dan segala jenis rayuan-rayuanya.
Demikianlah makna ritualitas haji yang penuh dengan simbol kejuangan hidup manusia.
Keutamaan Lempar Jumroh :

Ø Lempar Jumroh bagaikan melempar setan

عن ابن عباس رضي الله عنهما رفعه إلى النبي ‘ قال :” لما أتى إبراهيم خليل الله المناسك عرض له الشيطان عند جمرة العقبة فرماه بسبع حصيات حتى ساخ في الأرض ، ثم عرض له عند الجمرة الثانية فرماه بسبع حصيات حتى ساخ في الأرض ، ثم عرض له عند الجمرة الثالثة فرماه بسبع حصيات حتى ساخ في الأرض ” قال ابن عباس : الشيطان ترجمون ، وملة أبيكم إبراهيم تتبعون
Dari Ibnu Abbas radhiyallallahu’anhuma, beliau menisbatkan pernyataan ini kepada Nabi, “Ketika Ibrahim kekasih Allah melakukan ibadah haji, tiba-tiba Iblis menampakkan diri di hadapan beliau di jumrah’Aqobah. Lalu Ibrahim melempari setan itu dengan tujuh kerikil, hingga iblis itupun masuk ke tanah . Iblis itu menampakkan dirinya kembali di jumrah yang kedua. Lalu Ibrahim melempari setan itu kembali dengan tujuh kerikil, hingga iblis itupun masuk ke tanah. Kemudian Iblis menampakkan dirinya kembali di jumrah ketiga. Lalu Ibrahim pun melempari setan itu dengan tujuh kerikil, hingga iblis itu masuk ke tanah“.
Ibnu Abbas kemudian mengatakan:  Kalian merajam setan, bersamaan dengan itu (dengan melempar jumrah) kalian mengikuti agama ayah kalian Ibrahim“.(Ibnu Khuzaimah dan Al-Hakim, sanad sohih).
Ø Sekali lemparan Jumrah menghapuskan dosa.
Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
وأمَّا رميُكَ الجِمارَ؛ فَلَكَ بِكُلِّ حَصَاةٍ رَمَيْتَهاَ تَكْفِيْرُ كَبِيْرَةٍ مِنَ المُوبِقاتِ
Artinya: Adapun lemparan jumrahmu, maka setiap batu yang kamu lemparkan merupakan penebus sebuah dosa besar yang membinasakan”. 
[HR. Ibnu Hibban, Hadits Hasan].


















Tahallul adalah mencukur rambut. Hal ini dilakukan sebagai simbol untuk melepaskan diri dari segala larangan ihram. Bercukur mengandung makna membersihkan diri dari semua hal yang kotor, membersihkan pikiran, perbuatan yang bermuatan dosa. Bercukur melambangkan membuang hal-hal yang buruk menjadi hal-hal yang baik.
Dengan mencukur rambut hingga pelontos diharapakan maksiat-maksiat yang bersumber dari kepala (otak) bisa dihilang bersama rambut yang dibuang. Rambut adalah simbol dari mahkota seorang insan. Rambut adalah perhiasan seseorang dan menjadi lambang kegagahan dan ketampanan. Bertahallul yaitu mencukur rambut adalah simbol dari meletakkan mahkota seseorang. Artinya, orang tersebut menanggalkan kesombongan yang menjadikan seseorang tinggi hati dari orang lain.
Keutamaan Tahalul :
Ø Orang yang gundul plontos mendapatkan tiga kali lipat dari doa Nabi SAW diabanding orang yang hanya potong pendek.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendoakan :
 اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُحَلِّقِينَ قَالُوا : يَا رَسُولَ اللَّهِ وَالْمُقَصِّرِينَ ؟ قَالَ : اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُحَلِّقِينَ قَالُوا : يَا رَسُولَ اللَّهِ وَالْمُقَصِّرِينَ ؟ قَالَ : اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُحَلِّقِينَ قَالُوا : يَا رَسُولَ اللَّهِ وَالْمُقَصِّرِينَ ؟ قَالَ : وَالْمُقَصِّرِينَ
Ya Allah, ampunilah mereka yang menggundul habis.” Para sahabat berkata, “Wahai Rasulullah, bagaimana kalau cuma sekedar memendekkan?” Beliau masih bersabda, “Ya Allah, ampunilah mereka yang menggundul habis.” Para sahabat balik bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana cuma sekedar memendekkan?” Beliau masih bersabda, “Ya Allah, ampunilah mereka yang menggundul habis.” Para sahabat kembali bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana cuma sekedar memendekkan?” Baru beliau menjawab, “Dan juga bagi yang memendekkan”.
 (HR. Bukhari dan Muslim).










1.    Maksimalkan ibadah dan bertobat.
Pada hakikatnya, haji adalah proses evolusi manusia menuju Allah. Ibadah haji merupakan proses untuk muhasabah diri. Dan ibadah haji adalah proses peleburan dosa. Oleh sebab itu hendaknya maksimal dalam menjalankan ibadah ini.

2.    Menyadari betul akan hakikat ibadah haji.
Jika semua rahasia dan hikmah ini disadari, maka apa pun yang dihadapi ketika berada di Tanah Suci akan dilalui dengan sabar dan ikhlas, seraya memohon ampunan dan perlindungan dari Allah. Dan berharap agar haji yang dilaksanakan menjadi haji mabrur.
Rosulullah SAW bersabda: "Barang siapa yang pergi haji dan dia tidak mengeluarkan kata-kat

3.    Senantiasa wawas diri dan berhati-hati, jangan sampu terperosok pada kedosaan.
a keji serta tidak melakukan perbuatan dosa, maka akan diampunkan dosa-dosanya seperti dia baru dilahirkan oleh ibunya.” (HR. Bukhari, Muslim, dari Abu Hurairah).

4.    Doakan diri sendiri keluarga dan semua orang, untuk keselamatan dunia akhirat.
Do’a orang yang melaksanakan ibadah haji dapat mengampunkan dosa orang yang didoakannya. Artinya, haji itu menjadi alat untuk mengampunkan dosa dan mengampunkan dosa orang lain. Hal ini dinyatakan langsung oleh Rasulullah dalam sabdanya: “Dosa orang yang menunaikan ibadah haji diampunkan Allah, dan Allah juga mengampunkan orang yang didoakan oleh orang yang menunaikan ibadah haji”. [HR. Tabrani dan Hakim].
5.    Semoga para jamaah haji dapat menangkap makna simbol-simbol tersebut dan merealisasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Amiin.

                                                              













----------
-----------------------


الله أعلم بالصواب              
  الحمد لله بعونه و رحمته
 تمت  كتابة هذا االكتاب









                      Bangkalan, 24 Agustus 2017
                   Ar Rojii ilaa rohmati Robbihi wa waalidaihi,
      M Khoirul AMD.            


KEBERKAHAN AIR ZAM-ZAM


عَنْ جَابِر بْن عَبْدِ الله رضي الله عنه قال :  سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ :
*(( مَاءُ زَمْزَمَ لِمَا شُرِبَ لَهُ))*
روا إبن ماجه 
Dari Jabir bin Abdullah radliallahu 'anhu, ia berkata; Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: 
[ 'Air Zamzam (berkhasiat) sesuai dengan niat (tujuan) diminum (oleh penggunanya]
[HR. Ibnu Maajah, 3053, sohih].

PENJELASAN  HADITS : 
Ø Hadits ini memberikan penjelasan tentang keutamaan air zam zam.
Ø Semua umat Islam sangat mengenal apa itu Air zam-zam. Zam-Zam dari bahasa Arab yang berarti membendung dengan tanah,  maksudnya area sekitar sumber air zam-zam itu dibendung dengan tanah supaya airnya tidak melebar kemana-mana. Pembendungan inilah yang dijadikan nama untuk sumber air tersebut. (Faidul Qodir Juz : 5, Hal.516 cet.DKI Bairut, Lebanon 2012).
Ø Yang berperan membendung loberan air ini adalah ibunda siti hajar. Diceritakan: 

إِنَّ جِبْرِيْلَ عَلَيْهِ السَّلاَمُ حِيْنَ رَكَضَ زَمْزَمَ بِعَقِبِهِ جَعَلَتْ أُمُّ إِسْمَاعِيلَ تَجْمَعُ الْبَطْحَاءَ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى الله ُعَلَيْهِ وَسَلَّمَ : رَحِمَ اللهُ هَاجِراً وَأُمَّ إِسْمَاعِيْلَ لَوْ تَرَكَتْهَا كاَنَتْ عَيْنًا مَعِيْنًا.   صحيح

Tatkala Jibril memukul Zam-Zam dengan tumit kakinya, Ummi Ismail segera mengumpulkan luapan air. Nabi berkata, “Semoga Allah merahmati Hajar dan Ummu Ismail. Andai ia membiarkannya, maka akan menjadi mata air yang menggenangi (seluruh permukaan tanah)”. [ Silsilah Shahihah, 4/232 ].
Ø Berdasarkan hadits ini kita ketahui bahwa keinginan atau do’a bisa terkabulkan melalui keberkahan minum air zam-zam. Segala jenis doa  bisa terkabulkan bila berwasilah dengan air zam zam. Sedang doa yang pernah dibaca Ibnu ‘Abbas, ketika meminum air zam-zam, beliau berdo’a :

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْماً ناَفِعاً ، وَرِزْقاً وَاسِعاً وَشِفَاءً مِنْ كُلِّ دَاءٍ


“[Ya Allah, kami memohon kepada-Mu, ilmu yang bermanfaat, rizqi yang melimpah. dan kesembuhan dari setiap penyakit]”. Namun riwayat ini adalah riwayat yang dho’if (lemah).[  Dho’if At Targhib no. 750 ]

Ø Keutamaan lain dari air zam-zam:
1.  mencukupi rezeki keluarganya .

عَنْ أَبِيْ الطُّفَيْلِ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ سَمِعْتُهُ يَقُوْلُ,كُنَّا نُسَمِّيْهَا شَبَّاعَةً يَعْنِيْ زَمْزَمَ وَكُنَّا نَجِدُهَا نِعْمَ الْعَوْنُ عَلَى الْعِيَالِ))رواه الطبراني في الكبير((

“Dari Abi Thufail, dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata : Saya mendengar Rasulullah bersabda, ”Kami menyebut air Zam-Zam dengan syuba’ah (yang mengenyangkan). Dan kami juga mendapatkan, air Zam-Zam adalah sebaik-baik pertolongan dalam keluarga (menutup kebutuhan keluarga ” [HR. Tabrani].

2.  Air zam zam sebagai kompres.

عن عائشةَ أنَّها حملَت ماءَ زمزمَ في القواريرِ وقالت حملَهُ رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ في الأَداوي والقِرَبِ فكان يصبُّ على المرضَى ويَسقيهِم 
“Dari 'Aisyah bahwasanya dia membawa air zam zam didalam botol. Aisyah mengatakan bahwa air itu dibawa oleh Rosulullah SAW dalam kantong-kantong air (yang terbuat dari kulit). Lalu Beliau menuangkan dan membasuhkannya kepada orang yang sedang saki”t. (At Tarikh Al Kabir 3/189).

كُنْتُ أُجَالِسُ ابْنَ عَبَّاسٍ بِمَكَّةَ فَأَخَذَتْنِيْ الحْمُىَ فَقَالَ أَبْرِدْهَا عَنْكَ بِمَاءِ زَمْزَمَ فإَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى الله ُعَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ  الْحُمَى مِنْ فيَحْ ِجَهَنَّمَ فَأَبْرِدُوهَا بِالْمَاءِ أَوْ قاَلَ بِمَاءِ زَمْزَمَ 

“Dari Hammam, dari Abi Jamrah ad-Duba`i, ia berkata : “Aku duduk bersama Ibnu ‘Abbas di Mekkah, tatkala demam menyerangku. Ibnu ‘Abbas mengatakan,: Dinginkanlah dengan air Zam-Zam, karena Rasulullah mengatakan, sesungguhnya demam adalah dari panas Neraka Jahannam, maka dinginkanlah dengan air atau air Zam-Zam”. [HR.Al Bukhori].

3.  Air terbaik dimuka bumi, sebagai obat dan makanan yang mengenyangkan.

وَعَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قاَلَ قَالَ رَسُوْلُ الله – صَلَّى الله ُعَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: *“خَيْرُ مَاءٍ عَلَى وَجْهِ الْأَرْضِ مَاءُ زَمْزَمَ، فِيْهِ طَعَامُ الطَّعْمِ، وَشِفَاءُ السَّقْمِ

“Dari Ibnu ‘Abbas, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabdan :Sebaik-baik air yang terdapat di muka bumi adalah Zam-Zam. Di dalamnya terdapat makanan yang mengenyangkan dan penawar penyakit”. [ HR. At Thobaroni, Mu'jamul ausath 4/179].

4.  Satu-satunya air yang dipakai untuk mensucikan hati Nabi Muahmmad SAW.
Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

فَنَزَلَ جِبْرِيْلُ عَلَيْهِ السَّلَام فَفَرَّجَ صَدْرِيْ، ثُمَّ غَسَلَهُ بِمَاءٍ زَمْزَمَ

“Maka Jibril ‘alaihis-salaam turun dan membelah dadaku, kemudian ia mencucinya dengan air zamzam”. [HR. Al Bukhory].

5.  Air yang kita dianjurkan untuk Memperbanyak meminumnya.

Dari Ibnu ‘Abbas radliyallaahu ‘anhuma bahwasannya Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda :

إِنَّ آيَةً مَا بَيْنَنَا وَبَيْنَ الْمُنَافِقِيْنَ، إِنَّهُمْ لَا يَتَضَلَّعُوْنَ مِنْ زَمْزَمَ

“Sesungguhnya tanda (pembeda) antara kami dan kaum munafiqin adalah bahwasannya mereka tidak memperbanyak minum air zamzam.
[HR. Ibnu Maajah, Daruqutny dan Al Hakim].

Ø Fakta nyata mujarabnya air zam-zam : 
·      Ibnul-Qayyim rahimahullah telah berkata :

وقد جرّبت أنا وغيري من الاستشفاء بماء زمزم أمورا عجيبة، واستشفيت به من عدة أمراض، فبرأت بإذن الله

“Sesungguhnya aku telah mencobanya, begitu juga orang lain, berobat dengan air zamzam adalah  hal yang menakjubkan. Dan aku sembuh dari berbagai macam penyakit dengan ijin Allah Ta’ala”.
[ Zaadul-Ma’ad 4/393 ].



·       Ibnu Qoyyim : "Aku juga menyaksikan seseorang yang telah menjadikan air Zam-Zam sebagai makanan selama beberapa hari, sekitar setengah bulan atau lebih. Ia tidak mendapatkan rasa lapar, ia melaksanakan thawaf sebagaimana manusia yang lain. Ia telah memberitahukan kepadaku bahwa, ia terkadang seperti itu selama empat puluh hari. Ia juga mempunyai kekuatan untuk berjima’, berpuasa dan melaksanakan thawaf “.[ Zaadul Maad, 3/192].
·      Beliau Ibnu Qoyim rahimahullah juga berkata: ”Ketika berada di Mekkah, aku mengalami sakit dan tidak ada tabib dan obat (yang dapat menyembuhkannya). Akupun mengobatinya dengan meminum air Zam-Zam dan membacakan atasnya berulangkali (dengan al Fatihah), kemudian aku meminumnya. Aku mendapatkan kesembuhan yang sempurna. Akupun menjadikannya untuk bersandar ketika mengalami rasa sakit, aku benar-benar banyak mengambil manfaat darinya.” [Zaadul Maad, 4/162].

Ø Adab meminum air zam zam : 

أَنَّ رَجُلًا جَاءَ إِلَى ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا فَقَالَ : مِنْ أَيْنَ جِئْتَ ؟ قالَ : مِنْ زَمْزَمَ. قَالَ : فَشَرِبْتَ مِنْهَا كَمَا يَنْبَغِي ؟ قَالَ : وَكَيْفَ ؟ قَالَ : إِذَا شَرِبْتَ مِنْهَا فَاسْتَقْبِلِ الْقِبْلَةَ، وَاذْكُرِ اسْمَ اللهِ، فَتَنَفَّسْ ثَلَاثًا، وَتَضَلُّعْ مِنْهَا، فَإِذَا فَرَغْتَ فَاحمدِ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ، فَإِنَّ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ : إِنَّ آيَةًَ بَيْنَنَا وَبَيْنَ الْمُنَافِقِيْنَ، إِنَّهُمْ لَا يَتَضَلَّعُوْنَ مِنْ زَمْزَمَ.

Bahwasannya seseorang datang kepada Ibnu ‘Abbas radliyallaahu ‘anhuma. Ibnu ‘Abbas bertanya kepadanya : ‘Dari mana engkau datang ?’. Ia menjawab : ‘Dari sumur zamzam’. Ibnu ‘Abbas berkata : ‘Jika engkau minum air zamzam, maka menghadaplah ke kiblat, sebutlah nama Allah ‘azza wa jalla, bernafaslah tiga kali, dan perbanyaklah meminumnya. Apabila engkau telah selesai, maka pujilah Allah ‘azza wa jalla, karena sesungguhnya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda : ‘Sesungguhnya tanda (pembeda) antara kami  dan kaum munafiqin adalah bahwasannya mereka tidak memperbanyak minum air zamzam”.
[HR. Ibnu Maajah, sanad hadits ini sohih dan para perowinya tsiqoh ].

Ø Dalam hadits yang lain diriwayatkan dengan lebih lengkap :

وَعَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قاَلَ قَالَ رَسُوْلُ الله ِصَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ((مَاءُ زَمْزَمَ لمِاَ شُرِبَ لَهُ إِنْ شَرِبْتَهُ تَسْتَشْفِي شَفاَكَ الله ُوَإِنْ شَرِبْتَهُ لِشَبْعِكَ أَشْبَعَكَ الله ُوَإِنْ شَرِبْتَهُ لِقَطْعِ ظَمْئِكَ قَطَعَهُ اللهُ وَهِيَ هَزْمَةُ جِبْرَائِيلَ عَلَيْهِ السَّلاَمُ وَسُقْيَا اللهِ إسْمَاعِيْلَ عَلَيْهِ السَّلاَمُ)).  رواه الدارقطني والحاكم وقال صحيح الإسناد

“Dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ‘anh, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Air Zam-Zam sesuai dengan niat ketika meminumnya. Bila engkau meminumnya untuk obat, semoga Allah menyembuhkanmu. Bila engkau meminumnya untuk menghilangkan dahaga, semoga Allah menghilangkannya. Air Zam-Zam adalah galian Jibril, dan curahan minum dari Allah kepada Ismail”.  [HR.ad Daroqutni dan Al Hakim, hadits sohih isnad].

DAFTAR  PUSTAKA


-     Al Quran Al Karim, cet. 2014 CV Mikraj Khazanah Ilmu,  Bandung.
-     Al Qur’an Digital versi 2.1 Jumadil Akhir 1425 (Agustus 2004)
-     Maktabah Syamilah Versi 3.15
-     Bukhārī, Muḫ ammad bin isma’īl bin al-Mughīrah al-. (2002) Shaḫ īḫ alBukhārī, Beirut: Dar Ibn Katsir.
-     Ahmad bin ‘Ali bin Hajar Al-Aśqalānī, Fath al-Bāri bī Syarh Shahih al-Bukhārī Dar al-Ma’rifah, Beirut, t.th.
-     Muslim, Imam, Shohih Muslim, (Beirut-Libanon: Darul Ma’rifah, 2007 M/1428H), Juz. IX.
-     Abi Abdillah Muhammad bin Yazid, Sunan ibnu Majah, Juz 1, t.th, Dar Al –Fikr
-     Malik, Imam, Al-Muwatha’, Beirut-Lebanon : Dar Al-Kutub Al-Ilmiyah, t,th, h. 91.
-     Muhammad ‘Abdur Rouf Al Manawi, Faidhul Qodir Syarah al Jami’us Shogir, Dar al Kutub Al Ilmiyah, Bairut Lebanon, cet 5 th 2015
-     Sayyid Sabiq, Fiqh Al-sunnah, Jilid 1, Beirut-Lebanon : Dar Al-Fikr, t,th,


Kunjungi rumah kami di :
- # 
http://talimassakinah.blogspot.co.id
- # fb : Taklim As Sakinah
- # Gmail : 
jauharulfoundation@gmail.com

 

 






Tidak ada komentar:

Posting Komentar